Baju Kurung, the Blue Print

Baju kurung nan dipakai perempuan dahulu

“Engku, telah gaduh orang dikarenakan engku. Sungguh engku tiada pandai menimbang rasa, tiada hendak mempertenggangkan orang..!!” ucap seorang kawan di seberang sana. Kami terdiam dan faham akan maksud perkataannya.

“Dimanakah nan salah itu engku?” tanya kami hendak memastikan.

“Kenapalah mesti engku tulis pula, biarkan sajalah mereka itu. Kalaupun salah, merekalah nan akan menanggung dosa. Engku fikir dosa orang itu engku yang menanggungnya!?” kami tersenyum, sudah berulang kali kami dapati jenis manusia serupa ini, sekular dan individualis. Lupa ia dengan ajaran agama untuk saling menyapa, mengingatkan, dan memberi tahu perihal kebaikan (ajaran Islam). Kalau tidak disampaikan maka ianya akan menjadi hutang yang akan dituntut oleh orang tersebut di hadapan Allah Ta’ala kelak di Padang Masyhar.

Itulah potongan percakapan kami dengan salah seorang kawan. Kini marilah kita coba dudukkan persoalannya. Sebab sejauh pengamatan kami ada yang berkenan dan ada yang tidak berkenan dengan apa nan telah kami tuliskan itu. Seperti kata pepatah di negeri kita; rambut boleh sama hitam, isi kepala berlainan.

Baju Kurung, Pakaian Perempuan Minang [Gambar: Disini]

Perihal pakaian perempuan memanglah sedari dahulu mengundang perdebatan, apalagi dimasa sekarang, dimana batasan antara yang haq dengan yang bathil tiada jelas rupanya. Untuk itu, marilah kita mencari tahu dahulu, apa pakaian perempuan Minangkabau itu? serta apa pula maknanya?

Pakaian Perempuan Minangkabau itu ialah Baju Kurung yang merupakan cetak biru bagi seluruh pakaian yang dikenakan seluruh perempuan di Minangkabau. Tak hanya di Minangkabau melainkan di seluruh Alam Melayu para perempuannya memakai Baju Kurung. Adapun baju kurung itu ialah baju longgar, dalam (sampai ke lutut), basiba, pakai kikiek di katiak, lengan panjang dan dalam (sampai kepergelangan ), basalendang (memakai selendang) penutup kepala dan pakai kain sarung (sarung Jawa/Jao) menutupi kaki sampai ke mata kaki.Nurainas (4-11-2007 dalam Dra. Sismarni M, Pd. Jati Diri Perempuan Minangakabu dalam Budaya Populer.Pusat Kajian Budaya Islam. 2009)

Itulah Baju Kurung itu, di luar dari nan diisyaratkan di atas berarti bukan Baju Kurung dan apabila bukan Baju Kurung maka ianya bukan pakaian Perempuan Minangkabau. Tidak ada namanya dengan istilah “Baju Kurung Modifikasi”, seperti baju kurung yang dibentuk di pinggangnya, yang sempit memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh perempuan, dan lain sebagainya yang tidak memenuhi syarat pada nilai-nilai yang termaktub dalam adat dan ajaran Islam.

Konsep dasar dari Baju Kurung inilah yang kemudian disesuaikan dengan kebutuhan ritual adat seperti pernikahan, kematian, kenduri (baralek), ataupun acara-acara lainnya. Konsep pakaiannya masih sama namun corak, bahan yang dipakai, pernak-pernik serta lain sebagainya disesuaikan dengan keadaan.

Nan serupa ini bukanlah merupakan pakaian Minang. Karena aurat sudah dipertontonkan. [Gambar: Disini]

Hanya ada satu Baju Kurung seperti yang telah kami sebutkan di atas, di luar dari itu bukanlah Baju Kurung. Sama halnya dengan Islam, tak ada yang namanya Islam Liberal, Islam Sosialis, Islam Nusantara, Islam Garis Lurus, ataupun Islam-islam lain dengan “embel-embel” macam-macam. Hanya ada satu Islam yang berlandaskan Qur’an dan Sunnah, diluar dari kedua kiblat dan pusaka itu maka ia bukan Islam melainkan Aliran Sesat.

Wisran Hadi ( 7-11-2007) menambahkan bahwa, standar pakaian orang Minangkabau, tidak menonjolkan bagian tubuh yang bisa menimbulkan ransangan seksual bagi lawan jenisnya, dalam hal ini pakaian Perempuan Minangkabau itu adalah baju kurung, dan dalam pepatah adat diseebukan “ Kain pandindiang miang, ameh pandindiang malu” (kain pendinding / pembatas miang, emas pendinding / penutup malu) artinya pakaian itu betul-betul menutupi seluruh tubuh agar tidak terkena oleh bahaya alam dan Islam menegaskan tidak memberi ransangan seksual bagi lawan jenisnya, jadi adat dan agama sejalan, dalam hal ini adalah baju kurung, baju lapang, basiba. (dalam Dra. Sismarni M, Pd. Jati Diri Perempuan Minangakabu dalam Budaya Populer.Pusat Kajian Budaya Islam. 2009)

Contoh Songket Modifikasi di daerah lain [Gambar: Disini]

Demikianlah, hendaknya kita jangan “Latah” mengikut orang-orang dari kebudayaan lain di republik ini. Kita telah lihat Songket Palembang yang dimodifikasi demikian juga dengan Kebaya. Adakah dua jenis pakaian itu sesuai dengan tuntunan adat dan ajaran Islam? Adakah kedua jenis pakaian itu menutupi tubuh perempuan dengan maksud tidak memperlihatkan lekukan maupun tonjolan pada tubuh perempuan yang dapat memberikan rangsangan seksual kepada kaum lelaki yang memandangnya?

Malangnya pada masa sekarang banyak perempuan Minangkabau yang lebih senang memakai kebaya dibandingan Baju Kurung. Karena dengan kebaya mereka terlihat lebih cantik dan seksi sedangkan dengan Baju Kurung mereka terlihat kampungan serupa orang udik dari dusun.

Meniru tentulah boleh, akan tetapi jangan ditiru bulat-bulat, guna jua ajaran adat dan agama kita sebagai penyaring segala pengaruh nan masuk dari luar itu. Serupa dengan pepatah orang tua-tua dahulu kok manih usah capek dilulua, kok paik asah capek di luahkan, gumam sakiro kaparalu(kalau manis jangan cepat ditelan, kalau pahit jangan langsung muntahkan, dikunyah-kunyah sekenanya).

Kemudian apa makna dari pakaian perempuan di Minangkabau itu? Baju Kurung bermakna bahwa seorang perempuan di Minangkabau mesti menjaga diri dan mematuhi segala batasan dalam adat dan tiada boleh melanggarnya. Kodek atau kain sarung (biasa dipakai kain sarung Jawa kalau disaat kenduri dipakai kain tenunan) bermakna kebijaksanaan, maksudnya harus dapat menempatkan sesuatu pada tempatnya. Seperti yang diumpakan dalam pepatah mamakan habih-habih, manyuruak ilang-ilang.

Baju nan tiada sempit, tiada berbentuk di pinggang [Gambar: Disini]

Singkat kata makna dari pakaian Perempuan Minangkabau ialah ketinggian akhlaknya, kehalusan budi bahasanya, kebersihan hatinya, serta kearifan dirinya. Bukan sembarang perempuan yang selama ini kita dapati dimana ia tiada tenang, suka menjadi perhatian orang banyak, gila akan popularitas, tiada pandai menjaga diri dan kehormatan, dan senang mempertontonkan auratnya.

Demikianlah perempuan Minangkabau diumpakan dalam pepatah ”Bundo kandung nan gadang baso batuah, Limpapeh rumah nan gadang, Hiasan didalam kampuang, Sumarak dalam nagari, Kok iduik tampek banasa, Kok mati tampek baniaik, Ka undang-umdang ka Madinah, Ka payung panji kasarugo..”

Kini nan berlaku sebaliknya ka payuang panji  ka narako, tapi tidak semuanya engku, tidak semuanya, masih banyak jua yang menjaga marwah diri. Kita do’akan agar diberi juga hidayah oleh Allah Ta’ala kepada umat muslim di Alam Minangkabau ini.

Namun ada jua nan berpendapat “Inikan bukan acara kontes Bundo Kanduang, melainkan merupakan memperontontak songket nan ada yang merupakan salah satu kekayaan budaya Minangkabau. Kalau menurut saya sah-sah saja pakai baju serupa itu..”

Engku, rangkayo, serta encik sekalian. Kami umpamakan perkara nan berlaku ini serupa seorang perempuan nan memakai pakaian seksi masuk ke dalam masjid atau kawasan masjid. Tatkala disapa (ditegur) dia menjawab “Saya datang ke sini bukan hendak beribadah, melaikan hendak melihat-lihat saja serupa apa pula rancang ragam (gaya arsitektur) dari masjid tuan ini..”

Sempit tiba di pinggang, ini bukan pakaian perempuan Minangkabau [Gambar: Disini]

Dapatkah diterima alasan si perempuan nan tak tahu malu itu? Serupa apapun konsep acara nan engku, rangkayo, serta encik usung apabila ia telah menyentuh produk salah satu budaya yang memiliki nilai-nilai tertentu maka engku, rangkayo, serta encik sekalian mesti menghormati nilai-nilai tersebut. Jangan sesuka hatinya saja berbuat sebab lamak di awak katuju di urang, urang kampuang dipatenggangkan. Pendapat dan pendirian serupa itu merupakan pendirian dari seorang sekularis dan liberalis. Bagi mereka segalanya dipulangkan kepada pribadi sebab penilaian masing-masing orang itu berlainan. Kalau demikian maka seseorang nan melanggar hukum tiada dapat dihukum karena menurut penilaiannya ia tidak melanggar hukum melainkan polisi dan tuan jaksalah nan menilai serupa itu. Seperupa itukah kehendak engku, rangkayo, serta encik sekalian?

Itu baru perlambang dari suatu kebudayaan, bagaimana dengan perlambang nan terdapat pada suatu agama. Lama-lama mereka akan beringisit kesana, ingatkah engku, rangkayo, serta encik sekalian perihal salah seorang pemusik di republik ini yang menggunakan salah satu perlambang dari kaligrafi Islam dalam sampul albumnya. Kemudian perlambang tersebut dijadikan sebagai corak (motif) dari karpet dimana ia berjalan di atasnya. Ramai orang nan marah serta kesal, si pemusik dan sangat congkak ini memiliki bantahan perihal itu. Berkeinginan pulakah engku, rangkayo, serta encik dengan perkara nan serupa itu?

“Sah-sah saja..” kata engku penyokong, apakah dasarnya? Sah apabila seorang perempuan memperlihatkan auratnya di hadapan orang ramai. Katakan adat mana di Minangkabau ini nan membolehkan, dalil mana dalam Syari’at nan membenarkan? Tiada kenalkah engku dengan pepatah orang tua-tua dahulu, Kuat rumah karano sandi, Rusak sandi rumah binaso, Kuat bangso karano budi, Rusak budi hancuelah bangso.

Karena itu bertemakan internasional? Dimana orang dari berbagai bangsa ikut serta didalamnya? Maaf engku, tolonglah tampilkan foto orang asing itu.

Ingat engku, tengok dahulu dimana tempat engku berdiri, lihat dimana tumbuhnya. Tidak semua tumbuhan itu dapat tumbuh di sembarang tempat. Ada nan cocok di tempat panas ada nan dapat hidup di tempat dingin. Orang nan mepertontonkan aurat tiada dapat dan tiada boleh di Minangkabau ini, terlebih lagi hendak ditampilkan di hadapan orang banyak.

Jangan mengatakan kami hendak memburuk-burukkan, mencari-cari kesalahan, dan lain sebagainya. Salah satu kelemahan orang kita pada masa sekarang ialah paling pantang untuk mengaku salah. Acap lebay dengan menunjukkan contoh ke Negeri Jepang dimana kalau ia bersalah maka ia akan mengakui dan membungkuk di hadapan orang ramai.

Cantik Si Encik ini, tapi pakaian perempuan Minang tak sempit dan tak memperlihatkan dada bagian atas. Nan menjadi ciri pakaian perempuan Minang tak hanya sunting melainkan keseluruhan dari pucuk sampai ke bawah [Gambar: Disini]

Kami tiada menolak kegiatan ini, harap ditanamkan itu ke dalam hati sanubari engku. Namun pakaiannyalah nan kami beri ingat kepada engku nan ada disana. Jangan serupa ini, memaksakan segala sesuatu serta mencari-cari alasan pembenarannya. Sungguh hal tersebut semakin menunjukkan betapa engku tiada tahu dengan adat dan syari’at serta tiada peduli dengan keduanya. Nan terpenting bagi engku ialah mendapat nama, diulas diberbagai media massa, dan disebut-sebut oleh orang bahwa kegiatan engku hebat.

Tak pernah mendengar pepatah inikah engku; Rarak kalikih dek mindalu, Tumbuah sarumpun di tapi tabek, Kok habih raso jo malu, Bak kayu lungga pangabek, Nak urang koto Hilalang, Nak lalu ka pakan Baso, Malu jo sopan kalau hilang, Habihlah raso jo pareso.  Apabila malu telah hilang alamat negeri ini akan celaka, karena malu itu merupakan kulitnya iman.

Di Minangkabau, pakaian itu gunanya untuk menutupi aurat, bukan untuk mempercantik diri dan mencari popularitas. Itu merupakan bonus tambahan asalkan fungsi asal tiada tergaduh. Serupa kata pepatah orang tua-tua dahulu Kain pandindiang miang, ameh pandindiang malu. Itulah gunanya. Hendak untuk acara inikah, itukah, anukah, dan lain sebagainyakah asalkan masih berada di Minangkabau, mesti tunduk dengan aturan itu. Jangan kata kalau “saya bukan orang Minang..” bukan berarti engku, encik, serta rangkayo terlepas dari kewajiban untuk tunduk pada nilai-nilai nan dianut budaya Minangkabau. Contoh nan baru berlaku ialah bule bertelanjang di pantai, hendak dibiarkankah dengan alasan kalau ia bukan orang Minangkabau?

____________________________________________________

 Daftar Bacaan

http://lppbi-fiba.blogspot.co.id/2009/04/jati-diri-perempuan-minangkabau-dalam.html

http://www.tradisikita.my.id/2015/03/gambar-nama-pakaian-adat-sumatera-barat.html

http://palembang-pos.com/elegan-dengan-modifikasi-songket/

http://viennagallery-wedding.simplesite.com/

http://busanamuslimodis.com/kebaya-muslimah-modern-dengan-berbagai-modifikasi-cantik/

http://kelompokbudaya.blogspot.co.id/2014/03/pakaian-adat-minang-kabau-dan.html

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s