Guru ???

Semoga Jenis Guru serupa ini tak tinggal kenangan [Gambar: Disini] Beberapa waktu nan silam beredar kabar perihal orang tua murid yang meninju seorang guru di sekolah tempat anaknya bersekolah. Kabar inipun beredar

Semoga Jenis Guru serupa ini tak tinggal kenangan [Gambar: Disini]

Beberapa waktu nan silam beredar kabar perihal orang tua murid yang meninju seorang guru di sekolah tempat anaknya bersekolah. Kabar inipun beredar sangat cepat di ranah maya dan juga diangkat oleh beberapa media. Rasa iba bercampur gerampun terasa pada berbagai pendapat (komentar) yang diberikan oleh para penduduk di ranah maya (netizen).

Setiap orang memperbincangkan perkara ini, mengutuk orang tua murid beserta anaknya nan dianggap tak punya otak “Dahulu awak dipukul dengan penggaris kayu oleh guru awak, tatkala diadukan pula ke pada ibu-bapa justeru ditambahi dengan rotan ataupun lidi. Ini si anak manja mengadu pulang, dan ayahnya nan tak punya otak itupun mengamini..” demikianlah rata-rata pendapat orang banyak.

Semula kami berpendapat demikian pula, si anak nan kurang ajar ini nan salah ditambahi orang tuanya tak pula punya otak, maka berlakulah perkara serupa ini.

Sebelumnya seorang guru perempuan ditahan oleh Tuan Polisi dimasukkan ke dalam penjara, hanya karena mencubit anak muridnya nan nakal itu. Demikian pula seorang guru laki-laki nan melakukan hukuman badanpun kena hukum pula setelah dilaporkan oleh orang tua muridnya ke polisi.

Bagi orang-orang nan berumur pertengahan dua puluhan ke atas akan sangat geram mereka mendengar kabar serupa ini. Sebab dahulu semasa bersekolah mereka acap mendapat hukuman fisik dari guru-guru mereka. Apakah itu dicubit, ditampar, dipukul dengan penggaris ataupun rotan. Mereka tiada mengadu, kalau mengadu justeru akan ditambahi oleh orang tua mereka hukuman itu.

Lalu apa nan terjadi pada zaman kini? Kata Saidina Ali “Bukan zaman itu nan berubah melainkan manusia nan berubah..”

Benar namun apakah segala sesuatunya serupa dengan apa nan tampak? Apa penyebabnya para orang tua murid berlaku demikian?

Sepertinya tak hanya satu fihak nan salah, melainkan kedua-duanya. Dan kedua-duanya mesti memperbaiki diri. Lalu dimana letak masalahnya?

Terkenang kami dengan celotehan seorang kawan “Untuk memperbaiki keadaan pendidikan di negara kita tak perlu uang banyak. Nan perlu itu ialah meningkatkan kualitas para guru bukan dengan menambah fasilitas, menaikkan anggaran pendidikan, dan lain sebagainya. Sebab baik atau tidaknya pendidikan di suatu lembaga pendidikan itu tak ditentukan oleh bagusnya gedung tempat mengajar, lengkap atau tidaknya sarana dan prasarana mengajar, serta cerdas atau tidaknya murid-muridnya. Kesemuanya bergantung atau berpulang kepada para guru jua. Memiliki niat tulus untuk mengajarkah mereka atau sekadar mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup?

Terkenang oleh kami keadaan guru-guru sekarang, ada nan berlainan pada perilaku mereka sebagai orang nan bertugas mengajar dan mendidik anak-anak. Namun kejadian ini tidak berlaku pada semua guru, kata orang nan intelek itu “Coba tengok perkasus, jangan menjeneralisir..”

Guru-guru masa sekarang berbagai macam rupa mereka. Ada nan benar-benar sadar akan beban dan tanggung jawab mereka sebagai guru namun kebanyakan kami dapati tidak. Guru pada masa sekarang ialah salah satu jenis pekerjaan yang menjadi mata pencaharian hidup. Terkenang kami semasa sebelum berkuliah dahulu tatkala beberapa orang kawan bingung hendak kuliah dimana dan mengambil jurusan apa. Salah seorang kawan memberikan saran “Jadi saja guru awak, guru itu banyak penerimaannya dan dibuka penerimaany untuk menjadi pegawai setiap tahunnya..”

Demikian pula semasa berkuliah dahulu, dalam pandangan kami nan pandir ini bahwa mahasiswa nan kuliah di perguruan tinggi atau fakultas  khusus keguruan itu ialah anak-anak nan elok lakunya, taat kepada perintah agama, santun, beretika, dan patuh. Namun kami dapati sama pula kelakuannya dengan mahasiswa yang berkuliah tidak di bidang keguruan. Dalam hati kecil kami berujar “Manakan dapat orang-orang serupa ini menjadi guru, serupa apakah anak muridnya kelak?”

Tak perlu kiranya kami uraikan serupa apa kelakuan nan kami maksudkan tersebut.

Kalau digali maka akan banyaklah tabi’at, watak, serta fi’il dari orang nan bekerja sebagai guru itu tersua nan aneh-aneh. Dan bagi para orang tua murid sudah tampak bagaimana guru-guru itu sebenarnya. Bahkan ada salah satu Sekolah Dasar nan mewajibkan calon anak muridnya untuk pandai tulis baca agar dapat diterima di sekolah itu. Sungguh mencengangkan dan membuat kami geleng-geleng kepala. Kami saja pandai baca tulis karena masuk SD di kelas satu.

Berbagai macam ragam sebenarnya kelakuan para guru ini. Kelakuan nan membuat para orang tua murid dan masyarakat banyak kehilangan kepercayaan kepada sosok seorang guru. Namun harap digaris bawahi, tak semua guru serupa itu, masih ada nan benar-benar tulus mengabdi untuk mencerdaskan anak bangsa. Adapun mengenai kelakuan para guru, usah dibahas semuanya. Nanti tikatakan pula kami mencari-cari kesalahan, memfitnah, mencemarkan nama baik, dan dapat dituntut ke hadapan pengadilan.

Nan tampak bagi pada masa sekarang ialah kelakuan oknum guru-guru perempuan. Mereka tak lebih dari seorang fashionista dan sosialita yang menjadikan sekolah sebagai catwalk dalam memamerkan kecantikan, keindahan tubuh, dan kemegahan pakaian. Tengoklah mereka, walau berjilbab namun pakaian mereka ketat membalut tubuh, tampak lekuk-lekuk tubuh mereka. Gerangan apa yang ada di kepala murid-murid laki-laki melihat guru mereka nan cantik, semoh, bohai, montok, dan temok itu berdiri di hadapan kelas dan terkadang membelakangi mereka?

Astagfirullahal’aziym..

Ada satu nan sangat patut untuk diperhatikan, dicermati, dan dijadikan bahan pemikiran. Kami sangat bersetuju dengan rencana penghapusan sertifikasi guru. Hal ini karena sertifikasi ini banyak memberikan dampak buruk kepada guru, sekolah, dan murid-murid.

Kawan kami pernah berujar, dimana ada uang (basah) maka di sana pasti panas. Tengok saja daerah yang maju ekonominya, disana tingkat kejahatan maju (tinggi) pula. Jadi beruntunglah kita di daerah nan dikata orang miskin itu.

Maka banyaklah cerita-cerita nan beredar perihal syahwat guru nan hendak mendapatkan sertifikasi ini. Demi mendapatkan syarat Jam Pelajaran maka mereka rela pergi mencari “jam” ke sekolah lain. Sesuatu nan belum pernah berlaku sebenarnya. Sepintas lalu hal ini tentulah baik karena sekolah-sekolah nan kekurangan guru menjadi mendapat tambahan tenaga guru. Namun hal ini tiadalah seindah nan dikhayalkan.

Demi mendapatkan jam pada suatu sekolah, beberapa orang oknum guru ini membuat berbagai perjanjian (deal-deal) dengan Kepala Sekolah. Dengan kekuasaannya, Sang Kepala Sekolah dapat memberikan “jam” yang telah dimiliki guru tetap kepada guru nan meminta “jam” tersebut. Akibatnya guru tetap disekolah itu mengalami pengurangan “jam”. Haknya dirampas oleh oknum guru yang hendak mendapatkan sertifikasi ini. Pada hal dia juga hendak mendapatkan sertifikasi pula.

Nan lawaknya, diantara oknum guru ini ada nan memohon-mohon kepada Kepala Sekolah karena ia hendak “Melunasi cicilan Oto[1]nya..” atau “Sedang membuat rumah, jadi butuh uang..” Sungguh aneh, janggal, dan tak berperasaan alasan mereka itu. Nan paling kasihan ialah guru honor, mereka digaji berdasarkan Jam Pelajaran yang mereka ajarkan, kini jam itu diberikan kepada Oknum Guru Sertifikasi tentulah berkurang pemasukan mereka.

Cerita menggenaskanpun ada pula, tak sedikit tersua kejadian oknum guru sedang berbuat curang apakah itu dengan laki orang ataupun bini orang. Atau bahkan dengan sesama gurupun ada pula nan demikian. Sungguh tiada habis fikir kita dibuatnya, bagaimanakan mungkin orang nan demikian mendapat tugas dan tanggung jawab untuk mendidik generasi bangsa ini.

Wajarlah apabila banyak anak-anak nan nakal pada masa sekarang. Wajar pula banyak orang tua murid yang tiada memiliki kepercayaan lagi kepada guru. Bagi orang tua murid, sekolah tak lebih dari sekadar untuk memenuhi syarat mereka untuk mendapatkan pendidikan sampai ke perguruan tinggi. Sebab kalau tak bersekolah anak mereka takkan dapat mendapat pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Intinya, kepercayaan itulah nan telah hilang, para orang tua murid tiada lagi percaya bahwa guru-guru itu sebenar mengajar. Mereka tak lebih sama dengan makhluk-makhluk pencari rupiah nan lain nan bersembunyi dibalik selogan “Guru ialah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa..”

Sayangnya, guru-guru nan tulus dan ikhlas mendidik dan mengajar murid-murid mereka itulah nan tertimpa tangga. Mereka berada di waktu, tempat, dan berhadapan dengan orang nan salah.

Tulisan ini tiada bermaksud menghujat para guru, melainkan memberikan gambaran dan sudut pandang nan lain kepada kita perihal keadaan di dunia pendidikan kita pada masa sekarang. Semoga menjadi tambahan pengetahuan dan menjadi bahan pemikiran bagi kita. Keadaan serupa ini tiada akan berubah kalau bukan kita sendiri nan mengubahnya. Allah Ta’ala telah berfirman “Allah takkan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu sendiri nan mengubah nasib mereka..”

Kepada para guru nan masih bersih niatnya, kami do’akan semoga tetap tegar, kukuh, dan kuat berjalan di jalan nan lurus itu. Kami tiada hendak menghujat Engku Guru melalui tulisan ini, bukan Engku Guru nan kami kisahkan.

___________________________________

Catatan Kaki:

[1] Mobil

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s