Diamlah terus sampai hancur

bikini

Entah benar entah tidak gambar ini, kami tiada tahu. Syukur kalau yang memposting silap dalam membuat nama tempat. Namun apabila benar, maka sungguh berderai hati ini dibuatnya. Betapakan tidak, di Ranah Minangkabau sendiri, di negeri nan berasaskan Adat Basandi Syara’ – Syara’ Basandi Kitabullah berlaku perkara nan serupa ini.

Kami tiada tahu dimana lokasi persis dari Pulau Pasumpahan karena memang kami belum pernah pergi kesana. Namun dari hasil mencari di ranah maya maka kami dapatkan bahwa pulau ini terletak di Perairan Kecamatan Bungus Teluk Kabung Kota Padang. Sekitar satu jam dari pusat Bandar Padang.[1]

Beberapa bulan nan silam orang dibuat gempar dengan kelakuan pelancong bule nan bertelanjang[2] di Pantai Padang. Dimasa itu telah kami dengar pula ada sebuah tempat yang juga menjadi tempat bertelenjang bagi para pelancong, namun masih jarang orang nan mengetahui dan tiada nan menyorot kelakuan para pelancong di tempat itu. Apakah pelancong Minang, nasional, ataupun bule, sama saja kata orang. Demikianlah kabar orang kami sampaikan, dusta orang kami tiada ikut.

Tengoklah pada acara pelepasan penyu itu, betapa semangat para Photographer Melayu mengambil gambar perempuan nan molek, montok, semok, dan bohai ini. Senang hati mereka melihat tubuh nan hanya menutupi susu dan kerampangnya saja.

Akankah kita diam saja, akankah kita biarkan saja. Esok-esok perempuan Minangkabau nan bertelanjang di pantai ini.

Ngeri kami tatkala mendengar orang-orang berkata bahwa kalau hendak daerah kita maju maka kita mesti bersedia mendatangkan “investor” (Kapitalis) menjual tanah kepada mereka guna mereka jadikan hotel, pusat perbelanjaan, dan lain-lain. Dimana hal serupa juga menjadi sorotan oleh para pucuk pimpinan di provinsi ini yakni masalah ketersediaan lahan bagi hotel.

Bahkan Wakil Tuan Besar berucap ” Akan berkomitmen, bagi daerah yang bisa menyediakan lahan, Pemerintah Provinsi akan membantu mencarikan investor..”[3]

Kami tiada menolak pembangunan namun sebelum Pembangunan Lahir (Fisik) dilakukan, hendaknya dimantapkan dahulu Pembangunan Bathin Anak Negeri di kampung kita. Tengoklah pada masa sekarang, dimana Budaya Latah tak hanya menjangkiti generasi muda melainkan orang nan telah kita sangka dewasapun demikian pula. Ikut Latah.

Tiada seorangpunkah diantara tuan-tuan nan dapat memberi ingat kepada kedua Tuan Besar itu. Padahal kami dengar nan seorang dari mereka ialah Ustadz, orang nan faham agama sudah datuk pula lagi. Tiada habis fikir kami.

Tersualah pepatah orang tua-tua dahulu “Tongkat Membawa Rebah”

_________________________

Catatan Kaki:

[1] http://www.telusurindonesia.com/pulau-pasumpahan-si-cantik-jelita-dari-sumatera-barat.html

[2] Sebagian besar penganut faham SEPILIS tentu tak sefaham dengan kami karena menurut mereka yang bertelanjang itu ialah tiada sehelai benangpun yang menutupi tubuh. Namun bagi orang Minangkabau nan berasaskan Islam peri kehidupannya memakai celana sepaha dan baju tampak ketiak sudah bertelanjang namanya itu.

[3] http://www.sumbarprov.go.id/details/news/8637

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s