Guru ???

Semoga Jenis Guru serupa ini tak tinggal kenangan [Gambar: Disini] Beberapa waktu nan silam beredar kabar perihal orang tua murid yang meninju seorang guru di sekolah tempat anaknya bersekolah. Kabar inipun beredar

Semoga Jenis Guru serupa ini tak tinggal kenangan [Gambar: Disini]

Beberapa waktu nan silam beredar kabar perihal orang tua murid yang meninju seorang guru di sekolah tempat anaknya bersekolah. Kabar inipun beredar sangat cepat di ranah maya dan juga diangkat oleh beberapa media. Rasa iba bercampur gerampun terasa pada berbagai pendapat (komentar) yang diberikan oleh para penduduk di ranah maya (netizen).

Setiap orang memperbincangkan perkara ini, mengutuk orang tua murid beserta anaknya nan dianggap tak punya otak “Dahulu awak dipukul dengan penggaris kayu oleh guru awak, tatkala diadukan pula ke pada ibu-bapa justeru ditambahi dengan rotan ataupun lidi. Ini si anak manja mengadu pulang, dan ayahnya nan tak punya otak itupun mengamini..” demikianlah rata-rata pendapat orang banyak.

Semula kami berpendapat demikian pula, si anak nan kurang ajar ini nan salah ditambahi orang tuanya tak pula punya otak, maka berlakulah perkara serupa ini. Continue reading “Guru ???”

Berhati-hati dalam Memaknai

Gambar: Disini

Cupak dililih urang panggaleh, jalan diasak urang lalu (Cupak diraut oleh pedagang, jalan dialih – ditukar – orang yang lewat) – Pepatah Minangkabau

Tiada salah kiranya salah seorang kawan kami pernah berkata “Semestinya di perguruan tinggi itu dibuka satu jurusan yang bernama Jurusan Falsafah Minangakabu..”

Kata kawan kami, berbagai falsafah, pepatah-petitih, maupun curaian adat ataupun orang tua-tua di Minangkabau ini sangat kaya makna. Tidak dapat dimaknai secara tersurat saja melainkan tersirat. Adapun memaknai secara tersirat tidak semua orang dapat melakukannya.

Adapun nilai dan ajaran nan terkandung dalam ajaran falsafah Minangakabau itu tak kalah tingginya apabila dibandingkan Filsafat Yunani, Romawi, Mesir, Babilonia, India, ataupun Cina yang selama ini acap disebut-sebut dalam pembelajaran di perguruan tinggi. Namun agaknya pepatah rumput di pekarangan jiran lebih hijau dari rumput di pekarang sendiri sangat berlaku di negeri ini.

Continue reading “Berhati-hati dalam Memaknai”

Fashion Show Baju Minang

Pakaian Panjang Menjuntai sampai bawah. Bukanlah ciri pakaian Minang, tampaknya pakaian ini meniru-niru pakaian Pengantin Barat yang panjang nan menyapu lantai itu lebih panjang dari pakaian nan dipakai.

Tulisan kami perihal baju perempuan Minangkabau nan kurang bertaratik itu rupanya banyak nan memberi masukan. Selain berupa dukungan dan cacian juga ada beberapa surel[1] nan kami dapatkan. Salah satu dari surel itu sangat menarik perhatian kami, lebih tepatnya semakin membuat gundah hati kami. Karena si pengirim mengabarkan kepada kami bahwa apa nan kami tulis bukanlah satu-satunya, masih ada nan lain. Walaupun tak separah pawai nan telah kami kabarkan tersebut.

Berikut petikan surel nan telah kami sesuaikan bahasanya. Tiada maksud untuk memburuk-burukkan atau mencari-cari kesalahan. Cobalah tanggapi tulisan ini dengan hati bersih dan niat suci untuk kemajuan Minangkabau yang Beradat dan Islami:

Engku Sutan Paduko Basa nan kami hormati, senang hati kami membaca tulisan engku itu walau banyak jua yang tiada senang, kesal, atau bahkan marah. Beragam memang cara orang menerimanya, bagi yang tahu dengan adat dan syari’at maka mereka membenarkan apa nan engku sampaikan. Bagi yang selama ini acuh, baru tersadar mereka, beruntung orang nan serupa itu karena masih ada jenis nan lain yakni berkepala batu, keras kepala, dan merasa benar sendiri. Tiada peduli mereka nan penting ialah kebudayaan kita dikenal oleh orang luar, tiada peduli pula mereka bahwa proses peniruan atau adopsi itu mesti memerhatikan jati diri kita sebagai orang Minangkabau. Continue reading “Fashion Show Baju Minang”

Baju Kurung, the Blue Print

Baju kurung nan dipakai perempuan dahulu

“Engku, telah gaduh orang dikarenakan engku. Sungguh engku tiada pandai menimbang rasa, tiada hendak mempertenggangkan orang..!!” ucap seorang kawan di seberang sana. Kami terdiam dan faham akan maksud perkataannya.

“Dimanakah nan salah itu engku?” tanya kami hendak memastikan.

“Kenapalah mesti engku tulis pula, biarkan sajalah mereka itu. Kalaupun salah, merekalah nan akan menanggung dosa. Engku fikir dosa orang itu engku yang menanggungnya!?” kami tersenyum, sudah berulang kali kami dapati jenis manusia serupa ini, sekular dan individualis. Lupa ia dengan ajaran agama untuk saling menyapa, mengingatkan, dan memberi tahu perihal kebaikan (ajaran Islam). Kalau tidak disampaikan maka ianya akan menjadi hutang yang akan dituntut oleh orang tersebut di hadapan Allah Ta’ala kelak di Padang Masyhar.

Itulah potongan percakapan kami dengan salah seorang kawan. Kini marilah kita coba dudukkan persoalannya. Sebab sejauh pengamatan kami ada yang berkenan dan ada yang tidak berkenan dengan apa nan telah kami tuliskan itu. Seperti kata pepatah di negeri kita; rambut boleh sama hitam, isi kepala berlainan. Continue reading “Baju Kurung, the Blue Print”

Kisah Gajah Terbang

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Buku kedua Hanum Salsabila Rais berjudul Berjalan di Atas Cahaya yang merupakan lanjutan dari buku 99 Cahaya di Langit Eropa. Buku ini terdiri atas beberapa kisah yang tidak kesemuanya ditulis oleh Rangkayo Hanum melainkan terdapat dua orang kawan beliau yang ikut menyumbangkan kisah pengalaman mereka di negeri Eropa tersebut. Salah satu kisah Rangkayo Hanum yang menarik hati kami ialah perihal Gajah Terbang. Marilah kami coba curaikan kepada engku, rangkayo, serta encik sekalian;

Selama tinggal di Linz, Austria, Rangkayo Hanum mengisi waktu luangnya untuk hal-hal yang bermanfaat, salah satunya ialah dengan memperdalam Bahasa Jermannya.[1] Salah satu cara untuk menambah dan memfasihkan bahasa yang hendak dipelajari ialah dengan mencari kawan yang menguasai bahasa yang hendak kita pelajari. Dalam bukunya Rangkayo Hanum menggunakan kata “Tandem” yang artinya kira-kira sama dengan “perpasangan”.

Rangkayo Hanum mendapat kawan seorang perempuan Cina yang bernama Encik Xiao Wei yang telah tinggal di Austria semenjak umur lima tahun. Encik Xiao Wei sendiri berumur 22 tahun dan sedang menjalani perkuliahan pada semester dua. Kisah menarik ini terjadi pada pertemuan mereka yang keenam di sebuah kedai atau orang sini menyebutnya dengan sebutan Café yang dengan sesukanya diubah oleh orang Indonesia menjadi kafe.

Rangkayo Hanum telah lama menyimpan rasa ingin tahu perihal Encik Xiao Wei “Kenapa engkau berkenan berkawan dengan perempuan berjilbab serupa saya..?” demikianlah isi hati Rangkayo Hanum.

Pertanyaan itulah yang disampaikan pada pertemuan keenam ini. Encik Xiao Wei memberi jawab dengan menceritakan sebuah kisah “Pernahkah engkau mendengar kisah perihal Gajah Terbang?” tanyanya kepada Rangkayo Hanum, yang ditanya menggeleng keheranan.

“Cobalah engkau bayangkan pada sebuah jalan yang ramai, tiba-tiba ada seseorang yang berseru dengan keras ‘tengoklah, ada gajah terbang di langit..

“semua orang mendongakkan kepalanya ke arah telunjuk engku yang berteriak. Namun mereka tiada melihat gajah terbang serupa yang diserukan. Kemudian si engku itu berseru kembali ‘Ya ampun, apakah engku, rangkayo, serta encik sekalian ini memiliki penyakit matakah sehingga tiada dapat melihat gajah yang sebesar itu terbang di langit?’ Continue reading “Kisah Gajah Terbang”

Minangkabau ialah Melayu

Peta Negeri-negeri Melayu Sumber: http://muhammadsayyid.blogspot.com/2012/06/minang-itu-melayu-bugis-itu-melayu.html

Peta Negeri-negeri Melayu
Sumber: Disini

Jangan dipakai Baju Kurung, itu Baju Melayu, bukan budaya kita. Baju Kebaya kita pakai esok..” seru seorang ibu-ibu pejabat tatkala memberi pengarahan kepada anggotanya pada salah satu kota di Sumatera Barat ini. Sungguh geram sangat hati kami tatkala mendengar perkataan serupa itu, sungguh Bengak Sangat Nyonya Besar ini.

Semula kami sangka bahwa orang zaman sekarang yang berumur empat puluh tahun ke bawah saja yang tiada faham perkara asal usul kita Orang Minangkabau, namun rupanya tidak, orang yang sudah berubanpun banyak pula yang tiada faham. Pernah ada seorang engku-engku kami dengar berkata “Suku saya Malayu bukan Melayu, kalau Melayu itu orang Riau dan orang Malaysia sana..” ujarnya bodoh bin pandir. Continue reading “Minangkabau ialah Melayu”