Jangan Berduka..

Salah satu suasana perkampungan di AgamGambar: Internet

Salah satu suasana perkampungan di Agam
Gambar: Internet

Pada masa dahulu, hiduplah seorang pemuda dengan segala keterbatasannya. Dibesarkan di kampung dan jarang bergaul dengan orang-orang kampungnya. Hal ini bukan karena dia tinggal di dalam hutan atau terpencil letak rumahnya. Melainkan karena dia memang tak memiliki banyak waktu luang untuk sekedar bermain dan menghabiskan hari dengan orang-orang di kampungnya. Dia harus bekerja untuk membantu kehidupan keluarganya.

Selain itu, si pemuda memiliki semacam halangan.[1] Dia tidak dapat atau tidak pandai dalam menjalin perhubungan[2] dengan orang lain. Apabila dia bercakap, orang sering salah kira dan salah faham.[3] Diapun tak pandai memahami isi pembicaraan seseorang jika mereka sedang berhadapan.[4] Diapun sering lekas tersinggung[5] apabila bercakap-cakap dengan orang lain, termasuk dengan keluarganya. Hal ini menyebabkan dia tidak pandai dalam hidup bergaul dengan orang lain.

Pada suatu ketika diadakanlah sayembara, dimana kerajaan membutuhkan pegawai baru. Sang pemuda memutuskan untuk ikut, walau sebenarnya di hati kecilnya dia menolak. Sebab menjadi kaki tangan raja yang tak disukainya merupakan pilihan terburuk. Selain itu pekerjaan yang ditawari kerajaan menuntut dia untuk dapat hidup bergaul dengan orang lain. Hidup berdampingan dengan orang-orang yang selalu mendatangkan kedukaan pada dirinya. Namun apalah daya, tak ada pilihan lain, dia harus sadar dengan kenyataan hidup. Dia harus merubah nasib.

Walau mengikuti semua ujian dengan setengah hati, rupanya sang pemuda berhasil lulus sebagai pegawai kerajaan. Dia senang, terutama kedua orang tua dan adik-adiknya, mereka semua senang. Telah terbit matahari dalam keluarga mereka rupanya.

Si pemuda akhirnya berangkat dari kampung, pergi ke Kuta Raja[6] untuk menjadi pegawai. Di pusat kerajaan sangatlah berlainan keadaannya, apakah itu adat-kebiasaan sampai kepada tabi’at, akhlak, budi pekerti, serta pandangan hidup. Walau sedih dan tak tenang hatinya, si pemuda terus bertahan “Harus bertahan, demi masa depan dan kedua orang tua ku..” begitulah hati kecilnya terus-menerus menasehati si pemuda.

Karena jarang bergaul dengan orang-orang, menyebabkan si pemuda menjadi pemalu dan selalu kikuk dalam bergaul dengan orang-orang. Padahal pekerjaan yang dijalaninya sangat menuntut untuk menghadapi orang-orang. Tersiksa dan sedih, apalagi terjadi pertentangan batin dalam dirinya. Sebab banyak dari kebiasaan, adat, tabi’at, dan akhlak orang-orang di Kuta Raja sangatlah berlainan dan bertentangan dengan amalan dirinya.

Si pemuda bekerja di Majelis Kerajaan[7] yang mengurusi perkara hukum. Majelis ini memiliki beberapa cabang yang tersebar di penjuru Kuta Raja, si pemuda di tempatkan di salah satu cabang[8] tersebut. Sangatlah berat pekerjaannya dikarenakan banyak orang yang tak hendak mengikuti aturan yang telah ditetapkan dalam Hukum Kerajaan. Jabatannya masihlah pegawai rendahan, disuruh ini dan itu, dan lain sebagainya. Maklumlah, pegawai baru dan masih muda pula lagi.

Salah satu angkutan umum pada masa dahulu.Gambar: Internet

Salah satu angkutan umum pada masa dahulu.
Gambar: Internet

Pada suatu ketika atasannya menyuruh dirinya untuk pergi ke Majelis Pusat[9] dimana Bendahara Majelis[10] berdiam. Dia pergi dengan berat hati, apa sebab? Karena orang-orang yang bekerja di Majelis Pusat merupakan orang-orang angkuh dan sombong, suka mempergunjingkan orang lain, dan sebagian dari mereka tidak begitu menyukai si pemuda. Memanglah Datuk Bendahara berasal dari kampung yang sama dengan dirinya. Namun setelah pengamatan dirinya, dia mendapat gambaran kalau Datuk Bendahara memiliki watak yang tak seperti yang disangkanya.

Tatkala bersua dengan Datuk Bendahara Majelis, maka si pemuda langsung mengutarakan maksudnya. Datuk Bendaharapun memenuhi kepentingan si pemuda, karena memang begitulah hendaknya. Sambil menandatangani surat-surat yang dibawa oleh si pemuda, Datuk Bendaharapun bertanya kepada si pemuda  mengenai suatu perkara yang terjadi beberapa hari yang lalu “Apa sebab sehingga Si Sutan Mantiko bercakap sedemikian rupa kepada engkau beberapa hari yang lalu..?!” tanya Datuk Bendahara kepadanya sambil menandatangani surat-surat yang dibawa si pemuda.

“Maafkan saya datuk, sayapun tak pula faham mengenai perkara ini. Semenjak kedatangan saya di majelis ini. Sutan Mantiko memang langsung tak suka kepada saya. Tatkala saya coba juga menyapa dirinya, sapaan saya tak dijawab..” terang dirinya.

Memang beberapa hari yang lalu terjadi suatu masalah dengan Sutan Mantiko yang menjabat sebagai Kepala Urusan Kepegawaian Majelis.[11] Di hadapan Datuk Bendahara yang merupakan orang kedua di dalam majelis ini setelah Datuk Ketua, Sutan Mantiko bercakap dengan angkuhnya tatkala ditanya oleh sang pemuda perihal surat yang baru dimasukkannya petang hari yang lalu “Surat yang mana? Masih perlu juga oleh engkau dengan saya ya..! Lain kali tak usah sombong..! Sekarang pergilah kamu ke sana..!..”

Si pemuda terkejut dan terdiam. Sungguh suatu perbuatan dan ucapan yang tak patut untuk diucapkan. Apalagi dihadapan Datuk Bendahara yang merupakan atasan dari Sutan Mantiko sendiri. Datuk Bendahara hanya diam dan juga menengok ke arah si pemuda. Mereka beradu pandang, namun Datuk Bendahara tetap diam, fahamlah ia..

Mendapat jawaban yang serupa itu dari si pemuda, Datuk Bendahara rupanya tak hendak menyerah. Masih ada satulagi masalah yang didengarnya perihal si pemuda ini “Kalau begitu, apa pula masalah engkau dengan Sutan Palindih beberapa waktu berselang..”

Si pemuda terkejut, ya.. sekarang dirinya tak ada lagi yang melindungi dan sangat rapuh sekali. Jadi wajarlah kalau ada-ada saja orang yang hendak menghantamnya pada saat sekarang ini “Tidak ada datuk, hanya kesalah-fahaman biasa. Sutan Palindih bertanya dengan cara yang kurang baik, karena tak dapat mengendalikan diri saya jawab pula dengan cara yang kurang baik..” jawabnya.

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Datuk Bendahara memang sedang tak hendak dilawan rupanya, maka dengan nada yang sedikit menekan, maka sebagai orang kedua yang berkuasa di majelis ini diapun bersabda kepada si pemuda “Ah.. engkau ini. Kita ini bekerja pada satu majelis, tak baik jika serupa ini. Saya tak hendak mendengar kabar serupa ini lagi. Faham kamu..!!”

“Faham datuk..” jawab si pemuda.

Kemudian dia pergi dari ruangan Datuk Bendahara, bahkan salam si pemudapun tak dijawab oleh Datuk Bendahara. Dalam perjalanan tatkala berangkat dari Majelis Pusat, si pemuda termenung “Beginilah rupanya nasib orang kecil, orang miskin, orang tak berdaya. Sesalah-salahnya atasan, namun tetap bawahanlah yang paling salah. Tak ada guna melawan, tak ada guna.. hatimu akan semakin sakit dibuatnya nanti. Beginilah hidup pada masa sekarang, tak peduli apakah kita orang sekampung atau bukan. Hidup ialah hidup, tolong saja diri sendiri, tak perlu menolong orang lain. Begitu rupanya..”

“Ya.. Allah.. berilah hamba kekuatan untuk melalui semua ini. Hamba tak ingin berubah, hamba ingin menjadi hamba Mu yang memiliki hati dan kaya akan hati. Lindungilah hamba dari musuh-musuh dan orang-orang bermaksud jahat kepada hamba. Lemahkanlah mereka zahir dan bathin tatkala berhadapan dengan hamba..”

Begitulah do’anya dikala sendiri, ingin rasanya dia menangis. Tapi takut jadi bahan hinaan bagi orang lain, seorang lelaki menangis tentulah tak baik.

Dalam hati dia berharap, janganlah sampai disuruh lagi dia ke Majelis Pusat. Namun tidak demikian agaknya, tampaknya atasannya akan selalu menyuruh si pemuda pergi kesana. Karena pada masa sekarang, si pemuda diberi wewenang untuk mengurusi suatu Urusan di Majelis Cabang mereka.


[1] Hambatan

[2] Interaksi

[3] Miss Komunikasi

[4] Telmi, tu-la-lit, o-on

[5] Sensitif, emosional

[6] Ibu Kota Kerajaan

[7] Kantor yang mengurusi masalah hukum

[8] Kantor Cabang

[9] Kantor Pusat

[10] Jabatan ini dapat saja berupa Wakil Kepala Kantor atau Sekretaris Kantor jika tidak memiliki wakil.

[11] Suatu jabatan dalam suatu kantor, setingkat Kepala Bidang atau Kepala Bagian.

Advertisements

2 thoughts on “Jangan Berduka..

  1. apakah cerita ini, cerita tentang seorang teman saya ya. cuma dibuatlah dengan cara yang berbeda..ah tak taulah tapi melihat berbagai karakter yang ada sepertinya ia…tapi kalaupun tidak sampaikan salam ambo sutan ucapan yang paling untuk orang yang di zhalimi…hasbunallahu wani’mal wakil ni’mal maula wani’mannashir

    1. terimakasih tuan, kisah ini perihal kita semua. kisah orang-orang yang dizhalimi, kisah orang-orang yang memiliki keterbatasan, dan kisah orang-orang yang hidup dengan cara berbeda dengan orang lain.
      Amiin.. sesungguhnya Allahlah sebaik-baik penolong dan tempat mencari perlindungan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s