Hukum Dunia Sekarang

Semua orang pergi, satu persatu mereka pergi dan menampakkan wujud asli mereka. Ya.. itulah manusia dengan segala kelemahan dan kepura-puraan mereka. Mulut yang semula manis menjadi penuh racun dan sembilu. Wajah yang awalny ayu dan manis serta tampan rupawan kini telah menampakkan bentuk aslinya. Masam dan buruk tiada terkira..

Sedih, sangatlah sedih hatinya mendapati semuanya. Sedih yang dirasakannya tiadalah untuk dirinya sendiri melainkan juga untuk orang lain. Namun untuk apalah semuanya, sebab yang disedihi dan dikasihi tiada merasa..

Semua orang pergi, mereka berjalan dan bahkan berlari. Mereka hendak cepat sampai ditujuan, tanpa menghiraukan keadaan disekitarnya. Tak peduli orang yang akan kena singguang bahkan kena lantuang, atau mungkin tanpa sengaja akan menyakiti diri mereka sendiri. Orang-orang ini tiada sadar dan tiadapula faham, hanya satu yang mereka fahami yakni mereka harus cepat sampai ditujuan yang dituju.

Suatu tujuan yang selama ini diidamkan, dihendaki, dan diingini banyak orang. Semua orang hendak akan itu namun sudah menjadi hukum alam bahwa hanya beberapa orang saja yang dapat sampai. Memang begitulah, layaknya kita sedang membawa oto (mobil) maka hanya yang seorang saja yang dapat menjadi pengemudinya. Sedangkan yang lain cukuplah berpuas diri menjadi penumpang saja..

Akankan dengan dirinya tak hendak menuju ke tempat yang dituju banyak orang itu. Sebab dia telah menampak, tabir telah tersingkap pada pandangannya. Dia telah menyaksikan sendiri betapa semua orang yang menuju ke arah yang berebut mereka tujui itu telah banyak berubah. Menjadi orang asing, orang yang kasar, mementingkan diri sendiri, penuh akan tipu-daya, dikelilingi oleh muslihat, serta kejam tak terkira watak mereka.

Bagi mereka yang masih memegang teguh kehalusan budi yang diajarkan oleh Syara’ serta Adat Resam di Ranah Minang ini. Maka tiadalah dapat mereka akan sampai karena untuk sampai ketujuan yang hendak dicapai itu ialah mereka harus mementingkan diri sendiri, benamkan orang lain jangan sampai mereka timbul lagi. Sebab jika tidak, mereka akan menjadi ancaman bagi orang yang hendak sampai tersebut. Continue reading “Hukum Dunia Sekarang”

Advertisements

Seperti Roda Pedati

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Seperti kata orang tua-tua di Minangkabau bahwa hiduik bak cando roda padati-hidup itu seperti roda pedati. Sekali kita di atas maka sekali pula kita dibawah, seperti kata agama kita “ingat lima perkara sebelum datang lima perkara”. Dan sesungguhnya kita manusia ialah hamba-hamba yang lemah lagi suka berlengah-lengah.

Telah pula kami dapati kejadian yang serupa, dituturkan oleh orang tua-tua semasa kami kanak-kanak. Suatu kejadian yang selalu terus terjadi seiring berjalannya roda kehidupan. Menimpa setiap generasi umat manusia, dan sebagian besar dari kita ialah orang-orang yang lengah lagi tak berilmu pengetahuan.

Adalah kami sendiri yang telah lama merasakannya, kami kaji kembali kehidupan kami semenjak dahulu bersekolah. Kami tengok pula keadaan kami sekarang serta kami pandangi pula keadaan kehidupan beberapa orang kawan-kawan kami. Sungguh Allah itu Maha Besar lagi Maha Kuasa.

Adalah seorang kawan kami semasa kami bersekolah dahulu, ia merupakan seorang murid yang pandai, disenangi guru dan kawan, serta memiliki wajah yang rupawan. Kawan kami ini merupakan idola semasa kami bersekolah. Tak ada seorang gurupun yang tak sayang kepadanya dan tak ada pula seorang kawanpun yang tak senang akan dirinya.

Walau tak pernah juara kelas, namun kawan kami ini selalu menduduki rangking lima besar, paling buruk ialah sepuluh besar. Dalam bidang olah raga pun ia menjadi idola bagi kawan-kawan lelaki. Sangat mahir dalam semua olah raga terutama sekali sepak bola.

Semasa bersekolah, kawan kami ini memiliki seorang kekasih yang merupakan salah seorang perempuan terpandai di sekolah kami. Semenjak kelas satu ia selalu berada di posisi tiga besar, sepanjang masa pendidikannya, ia tak pernah keluar dari tiga besar. Kemudian ia mendapat PMDK pada salah satu universitas ternama di Pulau Jawa.

Kawan kami ini selain rupawan juga pandai membawakan diri, gaya berpakaian mengikuti zaman ketika itu. Kami sendiri termasuk salah seorang yang mengagumi dirinya, ingin kiranya serupa dirinya. Pandai dalam pelajaran, jago dalam olah raga, disenangi oleh kawan-kawan, dan disayang oleh para guru. Dimana kami tak memiliki satupun dari semua yang dimilikinya.

Duhai, alangkah pahitnya hidup ketika itu..

Bertahun-tahun telah berlalu, telah usai pula kami menempuh pendidikan di universitas. Semenjak tamat sekolah SMA kami jarang berjumpa dengan kawan kami ini. Hanya sesekali apabila hendaka lebaran saja. Kami kuliah di salah satu universitas negeri di Sumatera Barat sedangkan kawan kami ini kuliah di salah satu universitas negeri di propinsi jiran.

Dia mengambil jurusan yang sama dengan yang diambil kekasihnya yang mendapat PMDK. Jurusan yang diambilnya ialah salah satu jurusan yang asing tak pernah diambil oleh orang. Jurusan tersebut tidak pula ada pada beberapa universitas di dalam propinsi kami. Kami curiga, bahwa pilihannya dalam mengambil jurusan karena meniru kekasih hatinya. Memanglah kami pandangi, sangatlah cinta ia akan kekasihnya itu. Namun sekarang, jarak yang jauh memisahkan mereka, beda propinsi dan beda pulau. Bagaimanakah nanti hubungan mereka, pada masa itu teknologi handphone belumlah meluas seperti sekarang. Hanya orang-orang berduit yang memilikinya..

Setahun tahun kemudian kami dengar kalau hubungannya dengan kekasihnya telah berakhir. Kabar yang beredar bahwa kekasihnya itulah yang memutuskan hubungan mereka. Tak tahu apa sebab, apakah karena jarak yang begitu jauh ataukah ada sebab lain? Hanya mereka berdualah yang tahu..

Beberapa tahun kemudian mantan kekasihnya telah menyelesaikan pendidikannya di universitas. Sedangkan dengan kawan kami ini masih tetap berkuliah, kami dengar-dengar dari cerita orang-orang bahwa kuliahnya tak menentu. Menurut pendapat kami ini mestilah karena beberapa sebab, karena patah hati, karena salah pergaulan, dan karena tidak memiliki pengendalian diri yang kuat. Kota tempatnya tinggal ialah salah satu kota besar di Pulau Sumatera yang terkenal akan minyaknya. Sangat kaya dan glamor kehidupan di sana.

Selang beberapa tahun selepas itu, mantan kekasihnya diterima menjadi PNS di kabupaten kami. Kawan kami tersebut semakin tak jelas kabar beritanya. Beberapa bulan berselang, mantan kekasihnya menikah dengan lelaki yang telah pula PNS. Sembilan bulan selepas itu mereka memiliki anak, seorang anak perempuan kalau kami tak salah.

Kabar perihal kawan kami ini semakin gelap. Banyak yang menyesali dirinya karena tak tahu diuntung, sebab dia merupakan anak sulung dari tiga orang bersaudara, kedua orang tuanya ialah petani dan pembuat kerupuk di kampung kami. Sedari kecil ia merupakan kebanggaan dan tumpuan harapan bagi kedua orang tuanya. Anak lelaki sulung dan anak lelaki satu-satunya..

Pada masa sekarang, kedua orang tuanya sedang dilanda kesusahan karena kedua adiknya sedang dalam masa kuliah. Hal ini tentulah membutuhkan banyak biaya, ibundanya meminjam uang kesana-kesini kepada kenalan di kampung kami. Sedangkan ayahnya bekerja semakin keras diusia yang semakin senja. Telah banyak tumbuh uban di kepalanya. Tidak hanya mengerjakan sawah sendiri melainkan juga menerima upah dari orang lain untuk pekerjaan lainnya. Siang malam tanpa henti guna mencukupkan kebutuhan anak-anaknya yang sedang membutuhkan. Continue reading “Seperti Roda Pedati”

Kawan Lama

ManPraying-2

Ilustrasi Gambar: Internet

Apa yang gerangan akan terjadi apabila tuan bersua kembali dengan kawan yang sudah lama tak berjumpa? Kawan semasa kuliah, tempat berbagi cerita, bertukar fikiran, berandai-andai tentang masa depan, dan memperbincangkan segala persoalan. Persengketaan dan kemesraan pernah mengisi jalinan perkawanan, begitu banyak kenangan yang sekarang menjadi manis dan lucu apabila dikenang.

Itulah yang menimpa diri kami beberapa hari yang lalu, kawan lama yang sempat menghilang tak ada kabar akhirnya muncul tiba-tiba. Sungguh kami tak menyangka, kawan yang sering membuat kami kesal dan marah ternyata sangat kami rindukan.

Apa yang terjadi? Biasalah tuan, bertanya kabar perihal menghilang, apa saja yang terjadi pada diri masing-masing selama putus perhubungan hingga sekarang bersua kembali. Kebetulan sekali kawan kami ini ialah orang yang senang sekali bercakap-cakap. Jadi boleh dikata dialah yang paling banyak bercakap perihal kabar dirinya.

Satu hal yang sangat tidak patut sekaligus menyenangkan terjadi, yakni ghibah. Ya.. tuan, kami sama-sama tahu kalau bergunjing itu merupakan suatu perilaku yang terlarang dalam agama kita namun apa boleh buat, rupanya rayuan setan sangat memikat ketika itu.

Kami mempergunjingkan salah seorang kawan kami yang dahulu. Salah seorang kawan yang sangat mengesalkan hati kami. Tak patut rasanya apabila kami kisahkan pula cerita kawan kami yang mengesalkan ini. menambah dosa saja. Continue reading “Kawan Lama”

Egoisme..

world-photography_13

Ilustrasi Gambar: Internet

“Saya takut berubah engku, kehidupan masa sekarang telah membuat pribadi masing-masing orang di negeri kita menjadi kasar. Termasuk orang-orang disekitar saya, mereka telah menjadi prinadi-pribadi tak berhati. Keras watak mereka dan kasar perilaku mereka, telah pekak telinga dan hati mereka. Percuma diberi oleh Allah telinga dan hati sebab keduanya tiada dipergunakan oleh mereka. Tak pernah memandang dan mengukur diri, yang tampak ialah kesalahan orang saja. Jika terjadi suatu kejanggalan ataupun kesilapan maka itu ialah kesalahan orang lain, namun pabila yang muncul ialah suatu kesukaan maka itu ialah kerja dirinya. Begitulah keadaannya engku..” terang salah seorang kawan kami pada suatu ketika.

Kami masih terkenang dengan percakapan tersebut. Hari itu ialah hari Rabu petang, kawan kami sedang kepayahan sebab semenjak pagi dia telah ditempa dengan berbagai kemalangan. Tak ada seorangpun yang bertanya dan dapat dijadikan beriya-berkata. Semuanya dilaluinya sendiri. Padahal beberapa orang kawan-kawannya di kantor selalu berkata perkara “kebersamaan”. Mengerjakan segalanya bersama-sama dan saling tolong menolong. Namun dalam perkara yang dihadapinya, tak ada seorangpun yang hendak menolong dirinya. Mereka hanya hendak senang saja, tak hendak mau tahu perihal keadaan dirinya.

Sedih hati kami memandang dirinya, tak ada satupun yang dapat kami perbuat untuk meringankan bebannya. Ketika itu kami tinggalkan dirinya dengan segala masalah yang ada padanya. bukan tak hendak menolong namun karena memang tak ada yang dapat kami lakukan untuk menolong. Benar-benar di luar kuasa kami. Continue reading “Egoisme..”

Eropa, Kemajuan, dan Jiwa Peradaban

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Apa pandangan engku perihal Eropa?

Eropa ialah sebuah daratan yang terdapat pada bagian sebelah barat yang berbatasan dengan Samudera Atlantik pada sebelah barat, Laut Tengah di Selatan, Negeri Utara yang dingin di bagian Utara dan Asia di Sebelah Barat. Penduduk asli mereka ialah orang kulit putih (walau pendapat ini masih diperdebatkan) dengan latar belakang kehidupan di dunia pertanian pada awalnya. Kehidupan industri memang mewarnai negeri-negeri di Eropa namun pada perkembangannya revolusi industri yang bermula di salah satu negeri di Eropa menyebabkan terjadinya perubahan yang mendalam di benua ini.

Terjadinya beberapa perubahan seperti revolusi industri dan revolusi gereja telah menghantarkan Eropa ke arah perubahan yang mengagumkan. Banyak bangsa-bangsa di dunia yang menjadikan kemajuan di Eropa sebagai patokan (standar) kemajuan di negara mereka.

Letak Eropa di Barat telah mempopulerkan panggilan “Negara Barat” dimana yang dimaksudkan dengan “Barat” disini tidak hanya Eropa melainkan Amerika, Australia, Selandia Baru, dan negara-negara maju yang didominasi oleh orang Kulit Putih lainnya. Kata “Barat” telah berubah makna tidak hanya menunjukkan arah geografis saja melainkan juga bangsa dan identitas kemajuan.

Bagi sebagian kalangan, Barat ialah perlambang tidak hanya kemajuan akan tetapi juga kehancuran nilai-nilai moral. Hal ini bermula dari revolusi gereja yang menyebabkan melemahnya kendali (kontrol) agama dalam kehidupan sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Tujuan utama dari revolusi ini ialah untuk melemahkan peranan agama dalam kehidupan politik di Eropa. Namun dampaknya serupa efek domino dimana dengan melemahnya peranan pada bidang politik juga berakibat lemahnya kendali agama pada bidang-bidang yang lain. Continue reading “Eropa, Kemajuan, dan Jiwa Peradaban”

Perhubungan Si Elang

images

ilustrasi gambar: internet

Sebagai makhluk “cacat” dimana kecacatannya tidak dapat dilihat dan disadari oleh binatang-binatang di sekitar serta anggapan mereka bahwa dirinya bukanlah cacat melainkan menderita penyakit “tidak pandai” bergaul. Hal ini telah menjadi siksaan tersendiri bagi Si Elang, dianggap egois, tidak pandai berkomunikasi dengan makhluk lain, tidak dapat bekerja sama dengan makhluk lain, dan lain sebagainya.

Dahulu dimasa kepemimpinan Rangkayo Kuciang Parsi, Si Elang termasuk anak buah kesayangan dan andalan bagi induk semangnya. Diikutkan dalam berbagai kegiatan, tidak pernah mendapat teguran ataupun tumpahan amarah dari induk semangnya. Dan yang utama ialah apabilah Rangkayo Kuciang Parsi menginginkan sesuatu, maka dia akan menyuruh dengan lemah lembut kepada Si Elang.

Namun itu dahulu, sekarang Rangkayo Kuciang Parsi telah dipindahkan dari lembah. Tidak lagi diberi jabatan ataupun kekuasaan sebagai akibat dari sikap keras kepalanya ditambah dengan tipu muslihat para pembesar di Kerajaan Rimba. Memang begitulah kekuasaan itu sesungguhnya, selama ini Si Elang hanya membacanya dari kitab-kita yang berada di perpustakaan kepunyaan Tuan Guru. Tak menyangka dirinya akhirnya akan menyumpai sendiri kejadian serupa itu.

Hubungannya dengan Rangkayo Merak Jinak memanglah baik, walaupun Merak Jinak tidak sebaik Rangkayo Kuciang Parsi dalam memimpin. Dari luar, Rangkayo Merak Jinak terlihat sebagai sesosok burung betina yang halus nan lembut. Dan memanglah demikian adanya, dia memang lembut, tidak pernah mengasari para anak buahnya berbeda dengan Rangkayo Kuciang Parsi.

Namun yang namanya binatang, mereka sudah terbiasa diperintah dengan kekerasan dan kekasaran. Maka dimasa kepemimpinan Rangkayo Merak Jinak ini mereka menjadi lepas kendali. Karena merasa induk semang mereka lemah dan tidak memiliki daya apapun untuk memberikan teguran ataupun hukuman kepada mereka. Telah beberapa kali diantara mereka menunjukkan kekerasan dan kekurang-ajaran dihadapan binatang-binatang lainnya.

Yang menjadi induak angkang (biang kerok) ialah ketiga ekor Anjing Hutan. Dahulu dimasa kepemimpinan Rangkayo Kuciang Parsi mereka tak berkutik, begitu mereka mengeluarkan salakan maka dengan segera Rangkayo Kuciang Parsi balik memberikan eongan mengancamnya. Bahkan tak jarang Rangkayo Kuciang Parsi sampai-sampai mengeluarkan kukunya yang tajam untuk mengancam ketiga anjing ini. Continue reading “Perhubungan Si Elang”