Sikap Pengecut Media Sekular

Disalin (Dicopas) dari: zulkarnain.wordpress.com

Arrahmah.com vs Arrahmah.co.id terhadap Zakir Naik

pandi - data arrahmah.co.id
pandi – data arrahmah.co.id

Kenapa harus ada arrahmah.co.id padahal arrahmah.com sudah ada dari dulu dan terlebih sudah terkenal?

Ada banyak kemungkinan siapa pemiliknya, bisa memang Pengurus Besar Nahdathul Ulama (PBNU), bisa juga Syiah, bisa juga para Pembenci ISLAM, bisa juga pembenci arrahmah.com, hanya situs Pandi.Or.ID yang bisa membeberkannya dan menghapusnya..

Mendapatkan domain .co.id memang tidak bisa pakai Kartu Tanda Penduduk (KTP) saja seperti domain dot com, harus dengan surat sepeti akte perusahaan dan lain-lain. Jika memang PBNU pemiliknya, Masyaallah.. kenapa menyuarakan yang menurutnya benar menggunakan arrahmah.co.id?

Continue reading “Sikap Pengecut Media Sekular”

Advertisements

Alangkah Lucunya Negeri Ini

Tatkala Gaek ini Masih Sehat Akalnya

Semenjak Raja Kodok naik tahta kami tiada lagi pernah menonton televisi, terutama menonton berita. Acap membuat sakit kepala dan darah ini serasa naik setiap melihat dan mendengar segala hal yang berbau Raja Kodok, menteri, serta pemerintahannya. Ditambah lagi semua media kompak mendukung dan memberitakan nan baik-baik perihal Raja nan seorang ini. Continue reading “Alangkah Lucunya Negeri Ini”

Pemilu kali ini (2014)

Telah selesai pula helat “demokrasi” di negeri kita ini, telah pula keluar hasil dari perhitungan cepat (quick count) yang diadakan oleh beberapa lembaga. Hasil hitung cepat tersebut sungguh mengejutkan dan membuat sedih hati sebagian kaum muslimin di negeri ini. Betapakan tidak, partai Islam menduduki peringkat bawah, hanya satu partai Islam yang memiliki suara yang mengejutkan.

Semua partai memiliki kisah tersendiri, begitu juga dengan partai-partai Islam yang dipecundangi pada pemilu kali ini. Sebagian fihak mengemukakan pendapat masing-masing, ada yang berpendapat bahwa kekalahan ini karena salah satu partai Islam dalam berkampanye tidak menunjukkan akhlak Islam yang baik. Serupa mencaci, memaki, sombong, takabur, dan lain sebagainya. Sehingga hal ini menimbulkan keraguan serta keengganan dalam hati umat Islam.

Ada pula yang berpendapat bahwa kekalahan ini karena partai-partai Islam selama ini tidak berhasil menunjukkan kepada rakyat bahwa mereka memang pantas dan patut untuk tampil sebagai pemimpin. Rakyat taklah pandir sangat, mereka faham jua bahwa sekelompok orang dalam partai Islam tersebut hanya menggunakan label Islam saja untuk mendapatkan kekuasaan. Selepas dapat, akhlak Islami tak diperlihatkan, malahan sama pula dengan orang-orang dari partai sekuler, atau ada yang lebih buruk.

Pendapat lain mengatakan bahwa karena banyak dari umat Islam yang memutuskan untuk golput (tak memilih) sehingga suara pada partai-partai sekuler menjadi besar. Tentunya pendapat ini dengan menafikan pendapat, dimana ketidak percayaan umat Islam terhadap para politikus dan kehidupan politik diakibatkan sendiri oleh perilaku yang diperlihatkan oleh politikus tersebut. Terlebih politikus dari partai Islam. Continue reading “Pemilu kali ini (2014)”

Pemurtadan di MInangkabau Bagian.7b

Pada tulisan yang lalu kami telah mencoba menerangkan perihal berbagai upaya dari kaum fasik nan munafik serta kaum kafir dalam menyokong Pemurtadan di Minangkabau ini. Kami sengaja membagi tulisan Bagian.7 ini menjadi dua bagian.

Yanwardi & Afolo tatkala sedang melaksanakan salah satu ritual agama mereka.

Yanwardi & Afolo tatkala sedang melaksanakan salah satu ritual agama mereka.
Gambar: Internet

Pertanyaan lainnya yang menggambarkan betapa kuat keinginannya untuk menggoyahkan Adat & Islam di Minangkabau ialah “Tatkala Islam pertama masuk ke Minangkabau tentulah ketika itu orang Minangkabau belum bergama Islam. Kemudian Islam berkembang di Minangkabau, dan saya yakin bahwa tidak 100% orang Islam menerima dan menganut Islam di Minangkabau. Namun apabila dikatakan mayoritas, mungkin iya. Kecuali ada data-data statistik yang dapat membuktikan pernyataan saya tersebut salah. Dan sekarang Mayoritas tersebut tatkala mendengar yang Minoritas menyatakan diri Bukan Islam malah hendak dikeluarkan yang Minoritas dari Minangkabau. Bukankah itu salah satu bentuk man-den dari Urang Minang mentang-mentang Mayoritas.”

Mengurut dada kami mendengar pendapat orang fasik ini. Sudah begitu besarkah kebenciannya kepada adat dan agama di negeri ini. Atau jangan-jangan dia telah murtad?

Kawan kamipun tatkala kami tanyai pendapatnya mengenai hal inipun menjawab;

Pertama dia benar kalau berpendapat bahwa tatkala pertama datang ke Minangkabau, belum semua orang Minangkabau menganut agama Islam. Namun satu dia lupa, proses Islamisasi di Minangkabau terus berlangsung semenjak kedatangannya di abad ke-7. Bahkan hingga sekarang masih terus berlaku Islamisasi yang dihadang oleh SEPILISisasi & Kristenisasi. Selama kurang lebih 14 Abad (Berdasarkan Penanggalan Masehi-Abad ke-7 s/d Abad 21) Islam di Minangkabau, Ranah Melayu, & Indonensia ini tentulah sepanjang masa yang lama tersebut telah terjadi Islamisasi serta dialektika antara Islam dengan Adat pada masing-masing daerah di kawasan Asia Tenggara. Dengan ragam atau pola yang berbeda pada tiap daerahnya. Kita patut berterimakasih kepada Tuanku Renceh & Tuanku Imam Bonjol. Sebab kalau tidak karena mereka,  maka Islam di Minangkabau ini pastilah sama dengan daerah lainnya.

Seperti kelakar orang-orang di Dunia Maya “Di Minangkabau, Minangkabau Diislamkan. Sedangakan di Jawa, Islam Dijawakan..” kami mohon maaf sebelumnya.

Maksudnya ialah Pengaruh Islam (dengan hukum Syari’atnya) sangatlah besar kepada adat. Berlainan dengan beberapa daerah di republik ini dimana yang terjadi justeru sebaliknya. Dimana Islam justeru dipengaruhi oleh adat-istiadat lama peninggalan masa Pra-Islam. Bagi engku dan encik yang pernah membaca TAMBO Alam Minangkabau tentulah akan tersua. Dimana Datuak Katumangguangan sangat gigih sekali mempertahankan Hukum Tarik Balas yang serupa dengan Hukum Qisas dalam Islam.

Selama rentang waktu 14 abad tersebut Islam telah merata di Minangkabau serta rantaunya. Cobalah tengok, sebutkan saja satu kawasan di Minangkabau yang tidak menganut Islam yang tidak mengakui Adat Basandi Syarak – Syarak Basandi Kitabullah?

Islam dan adat yang telah padu, jalin-menjalin tersebut dianut oleh semua orang Minangkabau. Tidak pernah terdengar ada satu kawasan di Minangkabau yang berlainan. Apabila ditanya bukti-bukti statistik! Maka tak usahlah dijawab. Kenapa?

1. Yang bertanya mencoba mengarahkan kita kepada konsep yang telah dirancangnya. Kita punya konsep sendiri mengenai hal ini. Jangan pernah terpancing emosi atau hilang akal dalam beradu pendapat dengan orang Fasik ini. Sebab kalau kita hilang akal, maka kita akan mudah digiringnya.

2. Metode statistik belum dikenal oleh orang Minangkabau sampai orang Belanda memperkenalkannya. Itupun hanya sebatas untuk kepentingan Pemerintah Kolonial dan dilakukan oleh orang-orang Belanda atau pribumi yang telah dididiknya.

3. Kalau kita lakukan sensus pada masa sekarang mengenai hal ini. Maka besar kemungkinan orang-orang fasik ini akan bertepuk tangan. Sebab mereka tahu dan kitapun juga tahu telah banyak orang Minangkabau yang Murtad. Sehingga klaim kita “Semua orang Minangkabau ialah Islam. Apabila dia bukan islam maka dia bukan orang Minangkabau” akan mudah mereka patahkan. Bersorak mereka akan kepandiran kita, sampai jua yang mereka tuju.

Jadi kita hendaknya jangan terpancing dengan isu-isu Mayoritas VS Minoritas yang mereka usahakan untuk dimajukan. Memang begitulah kerja orang-orang fasik nan munafik atau murtadin & kaum kafir di negara kita saat ini. Kasus Ahmadiyah, Ajaran Sesat, Gereja Liar, dan lain sebagainya. Untuk membela mereka, kaum fasik nan munafik ini berusaha mengemukakan isu Mayoritas VS Minoritas.

Kemudian ada pula yang menanyakan pertanyaan pandir “Apa dasarnya mengatakan bahwa apabila ada seorang lelaki atau perempuan muslim menikah dengan orang kafir (non-muslim) maka ia telah berdosa. Dengan kata lain lah banyak kaji nan dilangga. Bukankah yang menentukan seseorang itu berdosa, kafir atau tidak kafirnya ialah Allah. Bukan manusia yang juga penuh dosa?!”

Kami tergelak mendengar pernyataan ini, memang benar ada dalil pada Surah Al Maidah ayat:5 dimana disebutkan bahwa boleh menikahi perempuan-perempuan Ahli-Kitab. Dalil inilah yang menjadi sandaran para SEPILIS. Sebab mereka melupakan dalil lainnya yakni Surah Al Baqarah ayat: 221 dimana dilarang oleh Allah Ta’ala menikah bagi seorang muslim dengan non muslim. Satu hal lagi yang mereka tak tahu bahwa Surah Al Maidah hanya membolehkan seorang lelaki muslim menikah dengan perempuan Ahli Kitab[1]. Izin inipun dengan syarat yakni “Perempuan-perempuan terhormat”.

Apa itu perempuan terhormat? Continue reading “Pemurtadan di MInangkabau Bagian.7b”

Musuh dari Ketidak Tahuan

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Beberapa masa yang lalu kami bercakap dengan salah seorang kawan se kantor. Isi percakapan kami ialah perihal mantan induk semang kami yang sangat tidak baik perhubungannya dengan kawan kami ini. Perihal pekerjaan (kegiatan) yang dipimpinnya serta perkembangannya, menjadi bahan pergunjingan bagi kawan kami ini. Yang tampak ialah celanya saja, benarlah kata orang bijak “apabila hendak mengetahui keburukan seseorang, maka tanyakanlah kepada lawannya. Namun pabila hendak mengetahui perihal kebaikannya maka tanyailah kawannya..

Memanglah induk semang kami seorang yang keras hati dan kurang bertimbang rasa dalam bersikap kepada orang lain. Namun bukan berarti segala yang ada padanya ialah buruk, melainkan ada jua sisi baik dari dirinya.

Akan halnya dengan kawan kami ini, memiliki watak yang hampir sama dengan mantan induk semang kami ini. Yakni sama-sama keras hati dan kurang bertimbang rasa, merasa dirinya paling pintar dan benar. Tak hendak mendengarkan pendapat orang lain dan menganggap pendapat diri sendirilah yang benar.

Percakapan kamipun beralih ke berbagai perkara, satu yang membuat kami terkejut sekaligus menarik minat kami. Yaitu perihal “Orang Malaysia” yang rupanya sangat tak disukainya. Tampak pada pendapat yang dikemukakannya betapa penuh akan hasad dan prasangka. Fitnah dari Media Sekuler telah benar-benar merasuk ke dalam hatinya. Kami hanya dapat berucap na’uzubillah di dalam hati.

Memanglah selama memimpin, mantan induk semang kami sangat menaruh hati kepada Malaysia. Beliau sering mengundang beberapa orang dari Malaysia bahkan pergi ke salah satu negara bagian di sana untuk melakukan konsultasi dan studi banding. Memanglah selama menjabat beliau sedang dalam suatu kegiatan yang bertujuan mengangkat nama kota tempat kami bekerja. Namun Allah berkehendak lain, beliau akhirnya dicampakkan, begitu juga kami.. Continue reading “Musuh dari Ketidak Tahuan”

Mencoba Berfikir Radikal

Sosialis ialah ideologi yang lantang "membela kepentingan rakyat kecil". Apakah PKL bukan termasuk dari defenisi "rakyat Kecil"?

Sosialis ialah ideologi yang lantang “membela kepentingan rakyat kecil”.Apakah PKL bukan termasuk dari defenisi “rakyat Kecil”?
Gambar: Internet

Kami hanya tersenyum simpul tatkala melihat kepandiran media di republik ini, disangkanya awak semua sama pandirnya dengan mereka?

Beberapa hari semenjak akhir bulan Juli hingga permulaan bulan Agustus, media di republik ini sangatlah ramai mengabarkan perihal kebijakan baru dari pemerintahan Kota Jakarta yang diperintahi oleh dua orang yang dianggap revolusioner dan visioner. Kami tak pula yakin apakah semua orang di republik ini akan faham dengan kedua kata tersebut.

Kebijakan mereka ialah memindahkan para Pedagang Kaki Lima pada salah satu kawasan di Pasar Tanah Abang. Dianggap para pedagang ini merupakan penyebab utama dari kemacetan yang terjadi di kawasan tersebut. Memanglah demikian adanya dan kami tak pula hendak memungkiri.

Media yang semenjak awal sangat setia kepada kedua pemimpin Jakarta ini mengiringi kebijakan tersebut dengan memperlihat betapa kacau-balau (semeraut)-nya kawasan tersebut dan betapa gawatnya kemacetan yang diakibatkannya. Sungguh suatu permasalahan yang patut disegerakan pemecahannya.

Beberapa orang pedagang tentulah ditanyai juga oleh juru berita (wartawan), namun tentulah tidak seperti yang kita bayangkan. Cukup ditanyai kenapa mereka berdagang di sana dan dari mana asal mereka, serta pertanyaan-pertanyaan lain yang tidak begitu LEBAY mengiba-ngiba, sebab suara masyarakat harus dibangun menuju penyokongan terhadap kebijakan baru dari Pemerintah Kota Jakarta.

Kemudian hasilnya ialah, penertiban berjalan, beberapa kalangan masyarakat dikabarkan mendukung bahkan siap untuk terjun memberikan aksi nyata di lapangan “Kami siap menghadapi preman Tanah Abang..!” kata mereka.

Memang benarlah demikian, dibalik PKL pastilah ada penyokong yang mengambil manfaat dari kelemahan mereka. Memberikan jaminan keamanan bahwa usaha perniagaan mereka takkan diganggu oleh pegawai pemerintah yang melakukan razia..

Hasilnya, Kawasan Pasar Tanah Abang akhirnya bersih dari PKL, lebih rapi, dan yang utama ialah tidak macet. Kami hanya tertawa heran melihatnya, kenapa engku dan encik sekalian..? Continue reading “Mencoba Berfikir Radikal”