Tausyiah Buya Gusrizal Gazahar

ABI 3 0212
Sumber Gambar: Disini

Sumber Gambar: Disini

*Tausyiah Buya Gusrizal Gazahar*

(Ketua Umum MUI SUMBAR)
_Alhamdulillaah….._
_Wassalatu wassalamu ‘ala Rasulillaah wa’ala alihi wasahbihi wamanwalah_
_Amma Ba’ad_
Habieb Riziq Shihab
Bapak Kapolri
Seluruh Ulama
Ketua GNPF dan Seluruh Pengurus
_Ayyadakumullaah_
Banyak orang bertanya, kenapa masyarakat Ranah Minang tumpah ruah ke Jakarta.
Kami datang untuk menunjukkan, bahwa kami menghargai kebhinekaan. Karena bangkitnya ummat Islam, bukan karena tidak menghargai kemerdekaan. Kami tidak ingin mulut seseorang di Republik ini merusak kebhinekaan itu.

Continue reading “Tausyiah Buya Gusrizal Gazahar”

Advertisements

Pertanda bagi orang Minang..

Picture: Here

Picture: Here

Semuanya terkejut tatkala mendapatkan berita itu, tiada nan menduga apalagi nan menyangka. Berbagai macam ragam cara orang menerima kabar berita itu, ada nan langsung percaya maka keluarlah segala caci-maki di statusnya pada jejaring sosial miliknya. Ada nan meragukan dan memilih untuk mendengar dan memeriksa terlebih dahulu kabar tersebut. Ada nan tiada langsung percaya karena sosok orang nan mereka kenal tiadalah serupa itu.

Entah mana nan benar, menurut kami masihlah gelap. Karena pada zaman sekarang antara kebenaran dan kedustaan itu sangatlah tipis dan tiada jelas perbedaannya. Semuanya memiliki bukti, dan semuanya memiliki argumen yang kuat untuk mempertahankan pendapat masing-masing.

Kami sendiri tiada mengetahui dengan baik siapa sesungguhnya Irman Gusman ini, yang kami ketahui ialah bahwa ia orang Minangkabau dan menjadi politisi di Senayan serta menjabat sebagai Ketua DPD.

Kami juga terkenang bahwa dialah yang memperkenalkan salah seorang Investor Cina yang hendak membangun sebuah Pusat Perbelanjaan lengkap dengan rumah sakit di Padang kepada salah seorang Kepala Daerah di provinsi ini. Continue reading “Pertanda bagi orang Minang..”

ELYSIUM

Stasiun Luar Angkasa "Elysium" Gambar: Internet

Stasiun Luar Angkasa “Elysium”
Gambar: Internet

Salah seorang kawan kami sangat  gemar sekali menonton dan membahas filem-filem asal Hollywood. Tidak semuanya tentunya, hanya beberapa saja. Kegemarannya pada filem-filem ini tidak berdasarkan jenis. Seperti action, drama, politik, si-fi, thriller, atau beberapa jenis filem saja. Kawan kami lebih suka menonton filem yang memiliki pesan tersirat di dalam ceritanya.

Seperti yang terjadi hari ini, kawan kami ini mempercakapkan perihal satu filem baru yang dibintangi oleh Matt Damon dan Judie Foster judulnya ialah Elysium. “Judul yang aneh..” seru kami.

“Judul ini diambil dari nama sebuah tempat yang berada di bawah kekuasaan Hades yang merupakan salah satu dari Tiga Dewa Utama dalam Mitologi Yunani. Dewa Hades menguasai Alam Akhirat dalam kepercayaan orang Yunani Kuno. Elysium merupakan nama sebuah tempat yang dapat kita samakan dengan syurga. Sebuah tempat yang dipenuhi oleh kebahagiaan, kesenangan, dan kemakmuran. Itulah maksud dari penamaan tempat TERSEBUT (stasiun luar angkasa) yang mengorbit di luar bumi pada filem ini. Tempat ini diisi oleh orang-orang paling kaya di bumi. Semacam koloni khusus orang-orang beruang (BERDUIT), dipenuhi berbagai fasilitas moderen serta dijadikan sebagagi pusat pemerintahan bagi bumi. Sedangkan bumi  menjadi tempat yang kumuh, rusak, dipenuhi polusi, kriminalitas, serta permasalahan penduduk dan kesehatan..” terang kawan kami ini.

Pemandangan dari dalam Stasiun Elysium Gambar: Internet

Pemandangan dari dalam Stasiun Elysium
Gambar: Internet

“Suatu filem yang menyesakkan agaknya..” sergah kami.

“Iya engku, kamipun tak begitu menyukai sebenarnya. Namun karena kami tengok dalam filem ini terdapat pesan yang mengena bagi kita, terutama kita-kita yang ada di Sumatera Barat saat ini. Maka dari itu kami tonton hingga usai..” jawab kawan kami.

“Pesan apakah itu engku..?” tanya kami heran.

Kawan kami tersenyum dan kemudian menjelaskan “Filem tersebut menggambarkan bahwa pada penghujung abad-21 bumi berada dalam masalah dimana penyakit merajalela, polusi semakin parah, dan populasi masyarakat bumi tak terkendali. Karena dari itu, sekelompok orang-orang beruang memutuskan untuk membuat sebuah fasilitas raksasa di luar angkasa yang diletakkan mengorbit tak jauh dari bumi. Fasilitas ini akan sama-sama berputar (berotasi) mengelilingi matahari bersama bumi. Fasilitas ini diberi nama ELYSIUM..” Continue reading “ELYSIUM”

Bermental Budak

Gambar: Internet

Gambar: Internet

Bagaimana cara kita bekerja mempengaruhi kesadaran kita, dilain fihak kesadaran kita juga mempengaruhi cara kita bekerja. Kita dapat mengatakan bahwa hal tersebut merupakan suatu hubungan interaktif antara tangan dan kesadaran. Jadi cara kita “berfikir” terkait erat dengan pekerjaan yang kita lakukan. (Pendapat Karl Marx dalam Jostein Gaarder. Dunia Sophie. Mizan. 2010, Bandung. Hal. 613).

Kutipan dari sebuah buku seri filsafat yang diterbitkan oleh Mizan di atas semakin menggukuhkan pendapat kami atas beberapa orang yang begitu membenci dan menghujat salah satu pendapat kami dalam blog ini. Ini bukan sekadar teori belaka melainkan dapat dibuktikan dalam dunia nyata. Bukti-bukti tersebut dapat kita saksikan kalau kita mau sedikit saja menggunakan akal dan perasaan kita. Sebab untuk melihat dan menangkap suatu fenomena sosial dimana hal tersebut merupakan gambaran (refleksi) dari watak dan tingkat intelektual dari manusia-manusia yang kita amati, memerlukan kehalusan budi dan ketajaman fikiran.

Kalau mengikut teori dari Marx maka kehidupan ini merupakan pertarungan antara dua kekuatan yakni: lemah (budak, orang miskin, pekerja, proletar, warga biasa, dsb) melawan kuat (pengusaha, orang kaya, pemimpin, bangsawan, penguasa, dsb). Dimana kepentingan perut atau uang atau modal atau kapital sangat berpengaruh dalam keduanya.

Begitulah cara orang Minangkabau pada masa sekarang (baik yang di rantau maupun yang menetap di Minangkabau) dalam menyikapi segala persoalan yang terjadi. Salah satunya ialah pertikaian (polemik) yang muncul seputar kedatangan salah seorang investor di propinsi ini.

Bagi para pekerja yang merasa bosan karena rendahnya pendapatan dan stagnannya kehidupan di propinsi ini (serta para pencari kerja yang putus asa karena tidak tersedianya lapangan kerja yang sesuai dengan spesifikasi pendidikan mereka) berpandangan bahwa kedatangan investor ini akan membawa angin baru (penyelamat kehidupan mereka). Perubahan yang seignifikan dalam kehidupan mereka seperti tersedianya lapangan kerja, meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan, serta baiknya taraf hidup masyarakat. Pendapat demikian mengemuka karena mereka melandaskan pemikiran mereka pada sisi praktisnya saja, yakni sisi “materi” berupa kemajuan ekonomi.

Kemudian para pemilik modal (pengusaha lokal) ada yang pecah suara mereka, terdapat segolongan yang menerima dan segolongan lain yang menolak. Bagi yang menerima beranggapan hal ini baik bagi perkembangan ekonomi propinsi ini kedepannya. Setidaknya usaha mereka yang telah ada akan semakin berkembang seiring dengan kedatangan investor ini. Dimana meningkatnya jumlah tenaga kerja, meningkatnya penghasilan (sebagian kecil) penduduk, serta naiknya taraf hidup (segolongan elit). Hal ini akan berdampak kepada usaha mereka yang bergerak di bidang lain, dimana mereka memanjakan pola hidup konsumtif segelintir orang berpunya di negeri ini.

Serta alasan lainnya ialah karena mereka tidak sanggup untuk bersaing atau merasa kalah atau dizhalimi oleh salah satu atau beberapa pengusaha lokal yang bermodal kuat dan memiliki jaringan luas. Dengan masuknya investor ini diharapkan dapat mengimbangi (kalau dapat mengalahkan) kekuatan dari pengusaha lokal yang semakin menjadi-jadi ini. Continue reading “Bermental Budak”

Bandar yang telah jatuh

Ilustrasi gambar: Internet

Ilustrasi gambar: Internet

Demo Akbar pada hari Kamis tanggal 24 Muharam 1435 H / 28 November 2013 rupanya memberikan dampak yang beragam. Umat Islam dari berbagai golongan, latar belakang, tempat asal serta tempat tinggal (domisili), berdatangan ke Padang. Tujuan mereka hanya satu yakni menolak kehadiran Pengusaha Nasrani yang juga seorang penginjil ini.

Kemungkinan sebagian dari mereka tidak mengetahui atau memahami dengan baik perihal akar permasalahan yang sedang diperselisihkan. Hanya sebagian yang tahu siapa itu JTR, apa itu Siloam, seperti apa Kristenisasi yang terjadi di Sumatera Barat dan Ranah Minang, apa keterkaitan antara JTR-Siloam-LIPPO Grup-Kristen Evangelis-Jaringan Bisnis para Taipan-Penguasaan Media, dan lain sebagainya.

Namun bukan berarti sebagian dari pengunjuk rasa ini hanya ikut-ikutan saja. Tidak engku dan encik sekalian. Mungkin engku dan encik yang berfaham SEPILIS berpandangan bahwa mereka adalah korban propaganda Kaum Fanatik. Sekarang kami coba bertanya “Siapakah selama ini yang menguasai media dan berusaha mengendalikan dan menyesatkan Opini Publik!?”

Terdapat getaran halus dalam hati setiap muslim yang akan bereaksi apabila mereka merasakan ancaman terhadap agama, adat, dan tanah leluhur mereka. Semangat jihad akan langsung berkobar, Si Lemah akan menjadi Kuat, Si Pandir akan menjadi Pandai, orang tua renta akan menjadi muda kembali. Seperti kisah yang dituturkan oleh salah seorang satgas demo. Dimana engku ini mengisahkan perihal seorang nenek-nenek yang datang dikawani cucu beliau untuk ikut serta berdemo. Walau sudah ditegah karena panitia khawatir dengan kesehatan serta keselamatan Sang Nenek, namun beliau bersikeras “Disisa umur nenek ini…inilah yang dapat nenek sedekahkan untuk agama kita…” ujar Sang Nenek..

Subhanallah..

Satu hal yang kami takutkan ialah tatkala kami menyadari bahwa kami benar akan beberapa perkiraan (prediksi) mengenai sesuatu hal. Sebut saja bahwa kami telah mengira mengenai sikap dan pandangan orang-orang pada suatu Bandar utama di Minangkabau. Ada beberapa perkiraan kami mengenai mereka ini:

  1. Sebagian penduduk di Bandar tersebut telah jauh dari adat. Ketika ditanya “Apakah engku orang Minangakabau?” mereka menjawab “iya”. Ketika ditanya balik “Bersukukan apakah engku ini?” yang ditanya diam “Kamanakan Datuak apakah engku ini?” yang ditanya malah memperlihatkan tatapan aneh. Sudah banyak kejadian serupa itu yang kami dapati, tidak hanya di bandar ini namun pada tempat-tempat lain di Alam Minangkabau ini.
  2. Kemudian apabila dilihat dari gaya hidup masyarakatnya, sungguh mengherankan. Di beberapa Bandar di Minangkabau ini pada pukul sembilan sudah lengang sedangkan di Bandar ini justeru semakin malam semakin semarak (serupa dengan bandar-bandar besar lainnya). Banyak perempuan-perempuan yang berkeliaran pada malam hari di Bandar ini, dan hal tersebut merupakan sesuatu yang biasa. Pernah dahulu ada keinginan dari  beberapa orang anggota dewan di Bandar tersebut yang hendak mengeluarkan Perda pelarangan keluar malam bagi perempuan. Perda tersebut langsung ditentang dan digagalkan oleh orang-orang yang mengaku intelek serta pembela HAM.
  3. Pernah salah satu koran setempat membuat suatu laporan khusus mengenai kehidupan malam di Bandar tersebut. Sungguh mencengangkan, perzinahan, minuman tuak, serta berjudi sudah menjadi hal yang biasa. Pernah juga tersingkap beberapa masa yang silam kejadian Penari Telanjang pada salah satu kafe/pub/bar/diskotek atau entah apa itu namanya. Hingga kini kami belum tahu bagaimana perkembangan kasusnya. Bahkan pada satu titik tempat para Lonte biasa mangkal dikabarkan tak pernah sepi “Tatkala gempa beberapa tahun yang silam, pada malam gempa terjadilah tempat itu lengang, malam berikutnya para Lonte itu telah kembali beropeasi. Na’uzubillah..”
  4. Hanya di Bandar inilah berlaku suatu keadaan yang ganjil, membuat pening kepala, serta geram hati ini dibuatnya dimana seorang Kafir diangkat menjadi Penghulu oleh sekelompok datuk di bandar ini. Sungguh sudah terbalik dunia ini agaknya..
  5. Berbagai kasus perzinahan sudah menjadi lazim dikalangan bujang dan gadis di bandar ini. Mulai dari SMP hingga anak Kuliah pernah merasakan nikmatnya dunia yang satu ini.

Demikianlah kesimpulan kami untuk sementara ini engku dan encik sekalian. Orientasi sebagian dari generasi muda di bandar ini ialah Jakarta, gaya hidup Jakarta, Jakarta Life Style. Oleh karena itu mereka sudah tak sabar menanti ada orang yang akan mengubah kota mereka nan buruk ini menjadi sebuah kota yang moderen dan gemerlap. Continue reading “Bandar yang telah jatuh”

Berkisar Sempadan Hitam dengan Putih

Semenjak beberapa pekan yang lalu Sumatera Barat dibuat rusuh oleh beberapa orang yang mengaku sebagai utusan rakyat pada salah satu bandar di propinsi ini. Mereka yang katanya wakil hasil dari pilihan rakyat hampir lima tahun yang lalu membuat rusuh. Apakah itu gerangan?

Yakni memberi izin kepada Misi Zendig Nasrani untuk masuk ke salah satu bandar utama di Sumatera Barat dengan dalih untuk memajukan kehidupan perekonomian di bandar tersebut. Entah apa yang ada difikiran orang-orang yang mengaku sebagai orang Minangkabau yang beragama Islam tersebut. Namun orang-orang laknat ini tidak sendiri, jauh-jauh hari telah banyak orang yang mengaku beretniskan Minangkabau dan beragamakan Islam mati-matian membela para “penjajah” ini “Demi memajukan bandar yang kita cintai ini..” rayu mereka.

Sutan Malenggang termasuk diantara orang-orang yang menyetujui kedatangan para “penjajah” ini. Dia bersama beberapa orang kawan-kawannya mati-matian membuat berbagai tulisan di surat kabar dan internet, mengadakan berbagai macam pertemuan, berkampanye melalui jejaring sosial, serta menjalin berbagai macam bentuk komunikasi dengan berbagai kalangan. Hanya untuk mewujudkan “kemajuan” untuk bandar yang sangat dicintainya ini.

Beberapa orang geleng-geleng kepala melihatnya “Masihkah ia shalat ke surau?” tanya orang

“Bagitulah kalau nikmat dunia sudah terasa, yang ada dikepalanya hanyalah uang..uang..dan uang. Tak ada cukup-cukup baginya, padahal harta telah melimpah serupa itu..” sergah yang lain

“Bagi orang-orang serupa itu, kemajuan itu ialah apabila banyak gedung bertingkat di bandar kita ini, lapang dan besar jalan rayanya, banyak mobil-mobil mewah, bertaburan berbagai macam rupa mall, banyak terdapat kafe, salon, pub yang beroperasi hingga jauh malam, serta banyak berselisih dengan kita para perempuan dengan pakaian sempit, bentuk tubuh yang sintal nan semok, dan wajah berbedak serta merah merona, tubuh yang disemprot parfum mahal, sepatu hak tinggi, stoking, dan lain sebagainya..” kata engku yang lain.

Kami hanya mendengarkannya saja lagi. Bandar ini memanglah belum sebesar dan seramai bandar-bandar lain seperti yang terdapat di propinsi jiran. Namun kehidupan liberal dan hedonis sudah sangat terasa di bandar ini. Jenis-jenis orang dan bentuk kehidupan serupa yang disebutkan salah seorang engku tersebut memang sudah terjadi di bandar ini.

Beberapa masa yang silam ketahuan oleh orang perihal “Penari Telanjang” yang beroperasi pada salah satu tempat hiburan malam di bandar ini. Entah bagaimana kelanjutan proses hukumnya. Telah senyap dan tak terdengar lagi kabar beritanya.

Pernah jua terdengar oleh kami perihal beberapa orang Lonte yang beroperasi di bandar ini. Tatkala diselidiki oleh orang-orang, rupanya bukan pula perempuan Minangkabau (syukurlah..). Menurut pengakuan mereka, mereka berasal dari pulau seberang. Tatkala ditanya “kenapa sampai beroperasi di bandar ini..?”

Dijawap oleh para Lonte ini “Karena di tempat kami sudah sangat susah mencari pelanggan engku..” artinya pasar perzinahan di propinsi ini sangat menjanjikan bagi para Lonte ini. Na’uzubillah..

Tampaknya Sutan Malenggeng dan kawan-kawan mengetahui perihal ini. Sebab beberapa kawasan di bandar ini memang sudah sangat terkenal sebagai pusat perlontean. Bahkan ada yang terang-terangan mengusulkan agar dibuat saja “Lokalisasi” serupa dengan bandar lain di propinsi lain. Kalaulah memang jadi juga dibuat tempat “Perlontean” serupa itu maka hendak diletakkan dimana muka kita orang Minangkabau yang selama ini membanggakan falsafah “Adat Basandi Syarak – Syarak Basandi Kitabullah

Telah banyak orang yang mengingatkan kepada Sutan Malenggang “Orang yang engkau puja-puja itu ialah orang kafir yang selama ini giat menyebarkan agamanya dimana-mana di republik ini. Cobalah tengok di Palembang, dahulu katanya takkan pernah dibangun gereja di dalam kawasan rumah sakitnya. Namun akhirnya dibangun jua..”

Sutan Malenggang tak hendak mendengar dan menghiraukan. Baginya, ini semua demi kemajuan Sumatera Barat. Dengan Pongahnya Sutan Malenggang berujar “Tengoklah propinsi kita, tertinggal dari propinsi lainnya di Pulau Sumatera ini! Coba pula engku-engku inap-inapkan; kenapa listrik sering padam di propinsi kita? Padahal terdapat tiga buah pembangkit listrik di propinsi ini?! Coba pula hisab-hisab diri serta anak-kamanakan kita, telah berapa orang tenaga keja potensial Minangkabau yang pergi merantau dan tak pulang-pulang lagi. Padahal mereka semua ialah orang-orang cerdik dan pintar. Alangkah bagusnya jika orang-orang seperti mereka membangun kampung halaman, bukan kampung orang yang dibangunnya serupa keadaan sekarang ini..!”  Continue reading “Berkisar Sempadan Hitam dengan Putih”