Tak hanya disana, disini juga ramai

Picture: Here

Dihari pertama Hari Raya di tahun Syawal 1437 (5 Juni 2016) ini kami sangat penasaran dengan apa nan tengah berlaku di Bandar Padang. Tentulah menarik hati mengingat Sang Raja telah memaklumatkan akan Shalat Ied di bandar tersebut.

Konon kabarnya, Masjid Raya yang menjadi tempat berhelat sangatlah ramainya, penuh sampai ke halaman ada nan tiada mendapat tempat bagai orang nan hendak shalat. Demikianlah salah satu kabar nan kami dapatkan. Tersenyum saja kami mendengarkannya. Continue reading “Tak hanya disana, disini juga ramai”

Advertisements

Kembali ke Asal

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Telah lama terfikirkan, memanglah kami orang yang terlalu banyak berfikir sehingga mudah stress, akibatnya badan ini kurus dibuatnya. Engku dan encik tentunya bertanya apa gerangan yang kami fikirkan?

Tak pula begitu berat, masih perkara hari raya yakni “mudik”. Mudik merupakan bahasa asli Melayu, dipakai oleh hampir setiap Puak[1] Melayu. Termasuk oleh kami Orang Minangkabau, kata mudiak biasanya disandingkan dengan kata hilir. Ada juga yang memakai kata hulu, yang merupakan sinonim dari kata mudia atau mudik. Hulu atau mudiak (mudik) berarti panggkal, tempat bermulanya, atau tempat berasalnya.

Dalam kebudayaan Orang Melayu, kata mudiak dan hilir biasanya mengacu kepada sungai atau orang Minangkabau mengenalnya dengan batang aia. Hulu  atau mudiak merupakan tempat berawalnya aliran air sungai, tempat sumber dari air sungai tersebut. Mudiak kadang kala bermakna “atas/bagian atas” karena sungai atau air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah,

Sedangkan hilir atau hilia bermakna bawah ataupun ujung. Dapat juga bermakna tempat kemana berakhir, berujung, atau tujuan.

Bagi orang Minangkabau, kata hulu/mudiak dan hilir digunakan sebagai pembeda kawasan negeri mereka (geografi) seperti Talawi Mudiak dan Talawi Hilir di Kecamatan Talawi Kota Sawahlunto atau Kamang Mudiak dan Kamang Hilia yang merupakan dua nagari di Luhak Agam, 12 Km dekat Kota Bukittinggi.

Pada masa sekarang, kata mudiak sangat sering sekali terdengar oleh kita, terutama ketika mendekati Hari Raya. Dimana banyak orang pulang kampung dikatakan mereka pergi “mudik”. Agaknya penamaan ini telah berlangsung lama, sebab kalau kita cermati Bahasa Melayu Indonesia sekarang telah banyak terkontaminasi oleh Bahasa Non Melayu. Continue reading “Kembali ke Asal”

Berhari Raya bukan Berpesiar..

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Barhari raya bagi kita umat Islam sebenarnya memiliki banyak makna, makna yang paling utama dan sangat penting sesungguhnya ialah memperpanjang tali silaturahim. Memang demikianlah yang diajarkan oleh nabi kita, oleh agama kita. Idul Fitri ialah masanya untuk saling menziarahi, bertanya kabar, dan saling memaafkan kekhilafan yang pernah terjadi dalam pergaulan hidup kita.

Bagi orang Minangkabau, Idul Fitri ialah kesempatan yang langka. Sebab pada masa ini, dapat kita saksikan salah satu pertautan antara agama dan adat, seperti yang telah dikatakan oleh orang tua-tua di kampung kita bawah sesungguhnya Agama dan Adat itu ialah Berbuhul Mati.

Pada saat hari raya inilah kita dapat datang ke rumah karib-kerabat. Saling bersuka-ria, saling memaafkan, saling bertanya kabar, bersenda-gurau, serta makan dan minum di rumah dunsanak. Engku dan encik tentunya akan bertanya “Memangnya hal serupa itu tak boleh dilakukan pada hari lain engku..?”

Kami akan menjawab ”Tentunya boleh engku dan encik sekalian, namun tentulah rasa dan makna yang dibawa berbeda pula. Biasanya ziarah ke rumah kerabat dilakukan oleh keluarga kita yang jauh di rantau. Tatkala mereka pulang, maka mereka akan mendatangi rumah karib-kerabat bertanya kabar dan bersilaturahim..”

Itulah yang berlaku di luar hari raya, namun pada saat hari raya tidak hanya kerabat dari rantau saja yang pergi bertandang ke rumah kerabat di kampung. Melainkan sesama kerabat yang tinggal di kampungpun akan saling menziarahi. Apabila hal tersebut dilakukan di luar hari raya, maka orang-orang akan bertanya-tanya “Ada apa pula, apa gerangan yang telah berlaku. Kenapa dia menatiang pinggan pergi ke sana..?”

Terkadang dua hari pada Idul Fitri tidaklah cukup bagi kita untuk menziarahi rumah karib-kerabat tersebut. Terkadang bertukuak[1] juga dengan hari ketiga, keempat, atau kelima. Kalau di kampung kami ada yang disebut orang dengan “Hari Rayo Anam”[2] yang jatuh pada tujuh hari selepas hari pertama hari raya. Pada Hari Raya Anam inilah rumah kesempatan untuk mendatangi rumah kerabat yang tidak sempat diziarahi. Biasanya kaum ibulah yang banyak berkunjung ke rumah kerabat.

Terkadang tidak jua cukup hari yang sepekan itu, maka ada juga yang datang pada hari ke delapan dan selanjutnya. Hal ini karena di kampung kami ialah “Wajib Hukumnya untuk Makan” di rumah kerabat. Apabila tak hendak makan, maka kita akan kena marah, pertanda hubungan telah jauh. Biasanya para nenek, maktuo, ataupun orang-orang tua yang masih memegang teguh Adat Lama akan merasa tersinggung apabila kita tidak mengecap nasi di rumah mereka. Continue reading “Berhari Raya bukan Berpesiar..”

Karena Rokok yang di Maling

Pernah pada suatu ketika di masa remaja, kami melakukan suatu petualangan bersama seorang kawan. Namun sebelum itu, sebagai permulaan, engku dan encik izinkanlah kami untuk menceritakan latar belakangnya terlebih dahulu.

Kami tinggal pada sebuah kampung yang berjarak sekitar 12 Km sebelah timur laut Kota Bukittinggi. Terlatak di kaki Bukit Barisan. Pada masa kami remaja, kebanyakan anak-anak usia sekolah SMA melanjutkan sekolah mereka di kampung kami. Sebab beberapa tahun yang lalu telah dibuka oleh orang sekolah SMA di kampung. Hanya beberapa orang yang beruntung melanjutkan sekolah ke Bukittinggi.

Walau enggan kami bersekolah juga di kampung, karena kami telah berkeinginan untuk bersekolah di Bukittinggi, namun orang tua kami memaksa kami untuk bersekolah di kampung. Alangkah kecil hati kami ketika itu, karena hanya bersekolah di kampung. Sedangkan beberapa orang kawan kami bersekolah SMA di Bukittinggi.

Begitulah kami, karena bersekolah di kampung. Ke pasa[1] hanya sekali-sekali pula dan itupun harus dengan alasan yang kuat, kalau tak, maka takkan mendapat izin pergi ke pasa. Maka jadilah kami orang udik, orang kampung, orang dusun. Pergi ke pasa ialah suatu anugerah bagi kami, sungguh menyedihkan memang karena sebaliknya kawan-kawan kami yang bersekolah di pasa hampir tiap hari ke sana dan tidak perlu mengemukakan alasan kuat untuk pergi ke sana. Sebab mereka memang bersekolah di sana.

Ayahanda dan bunda semacam petugas imigrasi, kalau tak dapat alasan yang kuat, maka jangan harap akan mendapat izin pergi ke pasa. Begitulah ketika itu keadaan kami engku dan encik sekalian.

Ketika itu, kira-kira permulaan tahun 2000-an. Salah seorang kawan kami yang sama-sama bersekolah di kampung, mengajak kami untuk pergi bertualang ke Bandar Padang “Kita pergi pagi, lalu pulang petang harinya. Kita coba pula seperti apa rasanya pergi sendiri tanpa dikawani oleh orang tua ataupun kerabat naik ANS[2] ke Padang itu..” bujuknya kepada kami.

Sebuah tantangan yang memancing rasa ingin tahu, siapa kiranya yang hendak menolak. Kamipun menyetujuinya, sebab sudah lama pula terasa oleh kami keinginan yang serupa. Selama ini kalau ke Padang, kami selalu dikawani oleh kerabat. Sekarang, kami akan pergi ke Padang hanya berdua, dua orang anak bujang dari kampung.

Perusahaan Bus ANS merupakan perusahaan bus ternama yang melayani pengangkutan penumpang dari Bukittinggi ke Padang. Dahulu yang dipakai ialah bus besar ini. Namun semenjak pertengahan tahun 2000-an ANS mengganti armadanya dengan bus yang lebih kecil.

Perusahaan Bus ANS merupakan perusahaan bus ternama yang melayani pengangkutan penumpang dari Bukittinggi ke Padang. Dahulu yang dipakai ialah bus besar ini. Namun semenjak pertengahan tahun 2000-an ANS mengganti armadanya dengan bus yang lebih kecil.

Pada masa itu, bagi kami yang tinggal di sudut negeri, pergi ke Padang adalah sesuatu yang luar biasa. Tidak demikian halnya pada masa sekarang, sudah menjadi hal yang biasa. Sebab keadaan zaman pada masa itu memanglah demikian. Belum begitu lancar perhubungan (transportasi) antar kota dan negeri di Minangkabau ini. lagipula, Padang ialah kota terbesar di Minangkabau yang menjadi ibu negeri bagi Sumatera Barat. Amatlah masyhur kota ini dengan segala kehidupan yang dianggap sebagai suatu kemajuan oleh orang-orang. Terutama dalam pandangan kami anak bujang udik yang masih pandir-pandir ini. Dimana kehidupan kami masihlah dikungkung dalam sebuah kampung.

Awalnya kedua orang tua kami menolak, setelah dibujuk sedemikian rupa akhirnya mereka mengizinkan kami untuk berangkat “Berhati-hatila engkau dijalan nanti, pergilah belajar untuk dewasa. Lagi pula nanti engkaupun akan berkuliah di Padang jua. Tak ada salahnya pabila engkau mencoba sambil belajar sekarang..” ujar orang tua kami pasrah. Continue reading “Karena Rokok yang di Maling”

Rahasia Kehidupan..

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Sudah lama juga kami tak pulang kampung, sekali pulang tampaklah beberapa perubahan pada kampung kami. Ada lepau baru dibuat oleh orang pada sebuah simpang. Namun sayangnya lepau tersebut menghalangi penglihatan pengendara dari arah lawannya. Begitulah orang sekarang, suka berbuat sekehendak hatinya tanpa memikirkan keadaan orang lain.

Ah.. bukan itu yang hendak kami kisahkan tuan. Tatkala pulang kampung kali ini, kami bersua dengan seorang kawan yang telah lama tak bersua sebab kami sama-sama jarang pulang. Sudah pula hampir dua tahun masanya ia menjadi pegawai. Dahulu ia direndahkan orang “Tak bermasa depan..!” begitulah kira-kira pandangan orang kepada dirinya. Tatkala tersiar di kampung kami dia diterima menjadi pegawai, maka heranlah orang “Bisa jua dia menjadi pegawai..!” kata orang-orang.

Kami sebaya dan sama-sama belum menikah hingga kini. Nasib kamipun hampir serupa, walau telah bekerja, hingga kini ada-ada saja orang yang melecehkan kami. Entah apa sebab, kami tak pernah tahu..

Pagi ini kami bersua di sebuah pasawangan[1] di tepi sawah. Telah lama tak bersua, senang hati ini kiranya bersua dengan kawan lama. Kami sama-sama turun dari onda[2] yang kami kendarai. Bertukar sapa dan berjabat tangan, begitulah tuan.

Dari atas onda kami berdua maota[3] perihal diri, pekerjaan, untung-perasaian, dan tentu saja perempuan atau pernikahan. Rupanya hatinya sedang gundah, apa sebab? Sebab bingung dan takut hendak menikah. “Iri timbul di hati ini pabila mendengar ada kawan seumuran kita telah menikah, ngilu pula terasa di hati ini apabila mendengar mereka telah beranak. Namun tatkala disuruh hendak kawin, maka berat nian rasanya diri ini untuk mengiyakan. Menurut pandangan engku bagaimana kiranya ini..?” tanyanya kepada kami.

Kami terdiam, hanya tersenyum simpul mendapat pertanyaan serupa itu. Apa bedanya kawan kami ini dengan diri kami? Hanya saja dia lebih dahulu mengajukan pertanyaan tersebut. Continue reading “Rahasia Kehidupan..”

Manyilau* Sawah

Nun jauh di sana ialah Kantor Camat Kamang Magek, Kabupaten AgamGambar: Milik Sendiri

Nun jauh di sana ialah Kantor Camat Kamang Magek, Kabupaten Agam
Gambar: Milik Sendiri

Pada suatu Ahad nan cerah kami bertiga anak-beranak pergi berangkat menengok sawah kami yang dipasaduo-i[1] oleh orang. Keluarga kami memiliki beberapa petak sawah, kalau tak salah ialah enam petak sawah. Ahad ini kami akan pergi menengok sawah yang tiga tumpak yang kebetulan berada saling berdekatan. Bersama ibunda dan adik bungsu kami, kami bertiga berangkat.

Kendaraan kami parkir di tempat orang menumbuk padi yang tepat berada di tepi Batang[2] Agam. Setelah itu kami berjalan sekitar kurang lebih 500 m. Jauh-jauh hari kami telah mengingatkan kepada ibu supaya membeli sepatu boot, namun sayang lupa selalu. Akhirnya ibu dan adik kami bergelimang lunau[3] kaki mereka.

Kami berjalan di pematang sawah, banda[4] untuk lalu air guna pengairan telah dicor oleh orang, namun belumlah sepenuhnya karena masih banyak yang belum dicor. Airnya jernih, namun sayang terdapat beberapa sampah plastik yang kami dapati di banda ini. Tidak hanya di banda, namun juga di dalam sawah. Sungguh menyedihkan sekali, tak sampai pangana orang-orang perihal akibat dari sampah plastik ini tampaknya.

Selain sampah, sawah-sawah ini juga sedang didatangi oleh sekelompok cipuk[5]. Sangat banyak sekali kami dapati siput-siput ini. Dahulu semasa kanak-kanak, siput ini sudah habis kena buruh oleh anak-anak, kemudian dijual ke Pakan Salasa dan uangnya dipakai sendiri atau diberikan kepada orang tua. Sangat bergantung sekali kepada kearifan kanak-kanak kami ketika itu. Kalau kami sudah lupa, apakah diberikan kepada ibu atau dipakai untuk belanja (jajan).

Tampak siput dan satu sampah di dalam sawah.

Tampak siput dan satu sampah di dalam sawah.

Begitu juga kebiasaan manangguak,[6] semasa kanak-kanak selepas musim manyabik (panen). Maka kanak-kanak akan ramai pergi manangguak, biasanya yang dicari ialah Ikan Puyu, Pantau, atau syukur-syukur dapat Sapek. Hasilnyapun dijual ke Pakan Salasa.

Ah.. sungguh manis pabila dikenang tuan. Namun tampaknya pada masa sekarang sudah tak ada lagi anak-anak yang mengerjakannya. Mereka sibuk dengan game online..

Berjalan di pematang sawah sungguh mengasyikkan, namun sayang, pematang sawah di kampung kami kecil-kecil ukurannya. Kami serasa berjalan di atas titian. Bahkan ada pematang sawah yang sangat kecil ukurannya, sampai-sampai adik kami berseru cemas agar kami segera pindah ke sisi lain. Kami sangat sedih melihat pemandangan serupa ini. Continue reading “Manyilau* Sawah”