Masyarakat Metropolis & Kehancuran Peradaban

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Beberapa masa yang lalu terdengar oleh kami kabar perihal kelakuan sekelompok pelajar di Ibu Kota Republik ini. Apa yang mereka lakukan? Yakni membuat vidio porno di dalam kelas mereka. Kabar yang berhembus mengatakan kalau mereka melakukan kelakukan laknat tersebut selepas pulang sekolah. Mereka menanti kelas sampai lengang dan memulai perbuatan terkutuk mereka tersebut.

Bagaimana gerangan pendapat engku dan encik sekalian?

Ada yang menyalahkan orang tua mereka, ada pula yang menyalahkan fihak sekolah?

Namun keadaan yang berlaku tidaklah sesederhana yang kita fikirkan tersebut. Karena sesungguhnya kalau kita hendak merenungkan kejadian laknat ini maka sesungguhnya akan bermuara kepada satu sumber jua.

Orang bijak pernah berkata bahwa sesungguhnya pernikahan itu bukanlah sekedar menghasilkan anak keturunan dan kemudian membesarkannya. Melainkan yang utama ialah kesiapan dari pasangan yang hendak menikah untuk menjadi orang tua yang bijak dalam membesarkan dan mendidik anak mereka.

Namun keadaan yang berlaku sungguh berlainan pada masa sekarang. Bagi kebanyakan orang-orang, mereka telah menentukan batasan usia untuk menikah, apabila batasan tersebut telah sampai maka mereka akan bersegera menikah atau menikahkan anak-anak mereka. Apabila tidak mereka menganggapnya sebagai suatu aib, malu besar.

Membuat anak itu mudah, namun membesarkannya itulah yang sulit. Kata-kata tersebut pada masa sekarang hanya menjadi penghias di bibir saja. Tak meresap sampai ke dalam lubuk sanubari. Tahukah engku dan encik sekalian makna hakikatnya?

Orang tua hendaknya menyiapkan anak-anaknya dengan benar dalam menghadapi keras dan kejamnya kehidupan pada masa sekarang. Godaan duniawi begitu melenakan dan memabukkan, materi menjadi sandaran utama. Bagi orang tua yang tak pandai dan tak tahu, cukuplah bagi mereka untuk memenuhi segala kebutuhan lahir dari anak-anak mereka. Akibatnya, anak-anak seperti inilah kelak yang akan menjadi orang tua dari anak-anak mereka.

Apa hasil? Orang tua yang tak mendapat pendidikan dengan baik dari kedua orang tua mereka inilah yang kelak menjadi orang tua dari anak-anak mereka. Akibatnya, menjadi semakin tidak becus dan tidak baiklah generasi berikutnya. Selamat, dua generasi dari republik ini telah berhasil dihancurkan..

Lingkunganpun memainkan peranan yang sangat penting. Orang-orang yang berasal dari latar belakang yang berlainan, dengan menganut nilai-nilai moral dan sosial yang berlainan pula. Orang-orang seperti inilah yang menjadi masyarakat perkotaan. Akibatnya, tidak ada lagi standar nilai, bahkan hukum positif negarapun tak takut untuk mereka langgar.

Kumpulan orang-orang dari generasi yang telah hancur inilah kemudian yang membentuk beberapa komunitas di perkotaan. Bagi mereka lazim dan sah-sah saja perilaku menyimpang yang bertentangan dengan aturan moral dan sosial masyarakat terdahulu. Hal ini karena pendidikan yang tak semestinya tak mereka dapatkan dari orang tua mereka dahulunya. Continue reading “Masyarakat Metropolis & Kehancuran Peradaban”

Advertisements

Berhari Raya bukan Berpesiar..

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Barhari raya bagi kita umat Islam sebenarnya memiliki banyak makna, makna yang paling utama dan sangat penting sesungguhnya ialah memperpanjang tali silaturahim. Memang demikianlah yang diajarkan oleh nabi kita, oleh agama kita. Idul Fitri ialah masanya untuk saling menziarahi, bertanya kabar, dan saling memaafkan kekhilafan yang pernah terjadi dalam pergaulan hidup kita.

Bagi orang Minangkabau, Idul Fitri ialah kesempatan yang langka. Sebab pada masa ini, dapat kita saksikan salah satu pertautan antara agama dan adat, seperti yang telah dikatakan oleh orang tua-tua di kampung kita bawah sesungguhnya Agama dan Adat itu ialah Berbuhul Mati.

Pada saat hari raya inilah kita dapat datang ke rumah karib-kerabat. Saling bersuka-ria, saling memaafkan, saling bertanya kabar, bersenda-gurau, serta makan dan minum di rumah dunsanak. Engku dan encik tentunya akan bertanya “Memangnya hal serupa itu tak boleh dilakukan pada hari lain engku..?”

Kami akan menjawab ”Tentunya boleh engku dan encik sekalian, namun tentulah rasa dan makna yang dibawa berbeda pula. Biasanya ziarah ke rumah kerabat dilakukan oleh keluarga kita yang jauh di rantau. Tatkala mereka pulang, maka mereka akan mendatangi rumah karib-kerabat bertanya kabar dan bersilaturahim..”

Itulah yang berlaku di luar hari raya, namun pada saat hari raya tidak hanya kerabat dari rantau saja yang pergi bertandang ke rumah kerabat di kampung. Melainkan sesama kerabat yang tinggal di kampungpun akan saling menziarahi. Apabila hal tersebut dilakukan di luar hari raya, maka orang-orang akan bertanya-tanya “Ada apa pula, apa gerangan yang telah berlaku. Kenapa dia menatiang pinggan pergi ke sana..?”

Terkadang dua hari pada Idul Fitri tidaklah cukup bagi kita untuk menziarahi rumah karib-kerabat tersebut. Terkadang bertukuak[1] juga dengan hari ketiga, keempat, atau kelima. Kalau di kampung kami ada yang disebut orang dengan “Hari Rayo Anam”[2] yang jatuh pada tujuh hari selepas hari pertama hari raya. Pada Hari Raya Anam inilah rumah kesempatan untuk mendatangi rumah kerabat yang tidak sempat diziarahi. Biasanya kaum ibulah yang banyak berkunjung ke rumah kerabat.

Terkadang tidak jua cukup hari yang sepekan itu, maka ada juga yang datang pada hari ke delapan dan selanjutnya. Hal ini karena di kampung kami ialah “Wajib Hukumnya untuk Makan” di rumah kerabat. Apabila tak hendak makan, maka kita akan kena marah, pertanda hubungan telah jauh. Biasanya para nenek, maktuo, ataupun orang-orang tua yang masih memegang teguh Adat Lama akan merasa tersinggung apabila kita tidak mengecap nasi di rumah mereka. Continue reading “Berhari Raya bukan Berpesiar..”

Si Elang

Masihkah engku dan encik sekalian ingat dengan kisah sebelum tidur yang kami ceritakan beberapa masa yang lalu. Kisah perihal sekelompok binatang yang melakukan rapat guna menyelesaikan berbagai permasalahan yang terjadi di antara mereka. Sekelompok binatang yang dipimpin oleh seekor merak betina yang bernama Rangkayo Merak Jinak. Sekelompok binatang keras kepala yang khas dengan sifat kebinatangan mereka yang tak hendak berubah.

Nah, engku dan encik sekalian. Sebagaimana kisah kami yang telah lalu, diantara binatang-binatang tersebut terdepat sekor binatang yang pendiam. Tidak pandai menjalin perhubungan dengan binatang lainnya. Tinggal menyendiri di sarangnya, hanya terdapat dua ekor kelinci dan satu ekor kuciang aia (berang-berang) yang menjadi jirannya. Binatang lainnya membuat sarang jauh dari sarang milik binatang ini, binatang ini ialah Si Elang.

Marilah kami ceritakan perihal Si Elang agak sedikit. Dia merupakan binatang yang pendiam, pemurung, dan sangat perasa (sensitif). Padahal dia merupakan seekor elang jantan yang cukup perkasa dan diperhitungkan kekuatannya dalam kelompok kecil ini. Dengan kedua ekor kelinci betina ini memanglah dia cukup dekat, namun dengan seekor kuciang aia ini dia terlihat menjaga jarak.

Dahulu induknya pernah sangat berputus asa dengan keadaan anak sulungnya ini. Tidak punya seekor kawan baikpun yang pernah diajaknya bertandang ke sarang milik kedua induknya. Tidak pula pandai berhubungan (berkomunikasi) dengan orang lain, terlalu perasa (sensitif), keras kepala, dan sangat mudah bertukar suasana hatinya (emosinya meledak-ledak).

Ketika disuruh pergi berguru dengan binatang-binatang lain, dia malah sibuk dengan dunianya sendiri. Kawannya sibuk bermain sesama mereka, tatkala mendapat waktu untuk berehat dari Tuanku Guru mereka. Si Elang malah terbang kembali ke sarang induknya menanti waktu rahat usai. Memanglah sebagai seekor elang memudahkan ia mencapai tempat yang jauh dengan hanya beberapa kali kepakan sayapnya. Sangat berbeda dengan binatang lainnya yang tidak memiliki sayap, atau ada binatang yang lain yang juga memiliki sayap namun tidak dapat terbang.

Begitulah Si Elang, dia sibuk dengan dunianya sendiri. Sibuk dengan keinginan dan cita-citanya sendiri yang semakin dipupuk oleh kitab-kitab yang dibacanya. Kitab-kitab yang menjadi kegemarannya ialah kitab-kitab yang menerangkan kisah kehidupan masyarakat zaman dahulu. Apakah itu manusia ataupun binatang, terkadang apabila rehat, dia tidak terbang pulang ke sarang induknya melainkan sibuk menghabiskan waktu di dalam perpustakaan milik Tuan Gurunya.

Itulah Si Elang, dia menjadi asing bagi makhluk lainnya. Seekor binatang yang pendiam dan bahkan ada yang beranggapan dia makhluk yang suka mementingkan diri sendiri (egois). Si elang yang pendiam, si elang yang egois.. begitulah kata mereka. Terkadang menjadi gunjingan bagi binatang lainnya, Si Elang tahu akan hal itu namun dia tak hendak memberi balas sebab tak ada guna berurusan dengan binatang serupa itu. Continue reading “Si Elang”

nikmatnya berkarib-kerabat

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Beberapa pekan yang lalu, tepatnya di hari Jum’at nan disucikan. Kami bersama kawan-kawan sekantor pergi berangkat menghadiri akad nikah salah seorang kawan kami. Seorang perempuan muda nan jelita, berumahkan kira-kira sepuluh menit perjalanan dengan onda[1] dari kantor kami.  Rumahnya tak jauh dari pembangkit listrik bertenagakan uap yang bahan bakarnya ialah batubara.

Pukul setengah sepuluh pagi kami berangkat dengan mengendarai onda. Terdapat lebih dari delapan onda yang digunakan, masing-masing kami membonceng kawan-kawan. Akan halnya dengan diri kami, kami menumpang kepada salah seorang kawan, mubazir kalau kami berkeras hati tetap menggunakan onda buruk kami.

Kami tiba di rumah kawan kami tatkala akad nikah telah hampir usai. Kami masih sempat menyaksikan penyerahan mahar dari sang suami kepada istrinya yakni kawan kami. Rupanya dalam adat di nagari ini akad nikah dilangsungkan di rumah perempuan. Berbeda dengan di nagari kami dimana akad nikah harus ditunaikan di masjid kampung si mempelai perempuan. Kalau pada masa dahulu memang di rumah fihak perempuan.

Tampaknya kehadiran kami tak diketahui, tak ada seorangpun yang memberikan kabar perihal kedatangan kami rupanya, dalam jadwal sebenarnya kami seharusnya datang esok. Namun karena esok merupakan hari libur bagi kantor-kantor. Serta beberapa orang diantara kami akan berhalangan untuk hadir, maka atas mufakat kami di kantor diputuskanlan untuk datang pada hari ini.

Memanglah telah menjadi adat kebiasaan di kota tempat kami bekerja bahwa apabila pegawai yang berhelat maka mereka akan melangsungkan perhelatan antara hari Senin hingga Jum’at. Sebab pada masa itulah para pegawai berkesempatan akan datang. Apabila dilangsungkan pada hari Sabtu atau Ahad, maka alamat para pagawai takkan banyak yang datang. Sebab kebanyakan pegawai di kota kami berasal dari luar kota. Begitulah keadaan di kota kami ini.

Sungguh cantik nian kawan kami ini, dibaluti dengan baju putih, tangan dan kakinya telah dihiasi dengan hiasan yang indah. Kami tak pandai membaca roman wajah orang-orang tuan, namun yang terasa bagi kami bahwa kawan kami ini tampaknya merahasiakan kebahagiaannya. Kedatangan kami yang diluar rencana telah mengejutkan dirinya, salah kami tuan, salah kami. Tapi tampaknya kawan-kawan tak arif memandangnya.

Sampailah kami kepada acara jamuan, kami dijamu dengan makanan. Sungguh sangat aneh sekali adat orang disini, apa hal tuan?

Tatkala hidangan tengah dibagikan, kami tengok pinggan bekas, gelas bekas, dan tempat basuh bekas tidak dibawa ke belakang. Dibiarkan begitu saja berada di tengah-tengah tetamu, kami juga melihat bahwa jumlah anggota keluarga ataupun karib kerabat tidak begitu banyak yang datang. Apakah mereka sedang di belakang atau sengaja menyembunyikan diri dari hadapan kami? Entahlah tuan..

Namun yang paling membuat kami terpana ialah tatkala sang ayah dari kawan kami ini mendatangi puterinya. Ketika itu kami semua baru saja mulai menyantap hidangan yang disajikan. Dengan suara yang cukup dapat didengar (mungkin sudah pembawaan) oleh orang serumah dan tanpa ada rasa malu sedikitpun. Sang ayah berujar kepada anaknya “Tukang ambil gambar sudah hendak pulang, berilah ia uang..! mana uangnya..!” Continue reading “nikmatnya berkarib-kerabat”

Rahasia Kehidupan..

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Sudah lama juga kami tak pulang kampung, sekali pulang tampaklah beberapa perubahan pada kampung kami. Ada lepau baru dibuat oleh orang pada sebuah simpang. Namun sayangnya lepau tersebut menghalangi penglihatan pengendara dari arah lawannya. Begitulah orang sekarang, suka berbuat sekehendak hatinya tanpa memikirkan keadaan orang lain.

Ah.. bukan itu yang hendak kami kisahkan tuan. Tatkala pulang kampung kali ini, kami bersua dengan seorang kawan yang telah lama tak bersua sebab kami sama-sama jarang pulang. Sudah pula hampir dua tahun masanya ia menjadi pegawai. Dahulu ia direndahkan orang “Tak bermasa depan..!” begitulah kira-kira pandangan orang kepada dirinya. Tatkala tersiar di kampung kami dia diterima menjadi pegawai, maka heranlah orang “Bisa jua dia menjadi pegawai..!” kata orang-orang.

Kami sebaya dan sama-sama belum menikah hingga kini. Nasib kamipun hampir serupa, walau telah bekerja, hingga kini ada-ada saja orang yang melecehkan kami. Entah apa sebab, kami tak pernah tahu..

Pagi ini kami bersua di sebuah pasawangan[1] di tepi sawah. Telah lama tak bersua, senang hati ini kiranya bersua dengan kawan lama. Kami sama-sama turun dari onda[2] yang kami kendarai. Bertukar sapa dan berjabat tangan, begitulah tuan.

Dari atas onda kami berdua maota[3] perihal diri, pekerjaan, untung-perasaian, dan tentu saja perempuan atau pernikahan. Rupanya hatinya sedang gundah, apa sebab? Sebab bingung dan takut hendak menikah. “Iri timbul di hati ini pabila mendengar ada kawan seumuran kita telah menikah, ngilu pula terasa di hati ini apabila mendengar mereka telah beranak. Namun tatkala disuruh hendak kawin, maka berat nian rasanya diri ini untuk mengiyakan. Menurut pandangan engku bagaimana kiranya ini..?” tanyanya kepada kami.

Kami terdiam, hanya tersenyum simpul mendapat pertanyaan serupa itu. Apa bedanya kawan kami ini dengan diri kami? Hanya saja dia lebih dahulu mengajukan pertanyaan tersebut. Continue reading “Rahasia Kehidupan..”

Manyilau* Sawah

Nun jauh di sana ialah Kantor Camat Kamang Magek, Kabupaten AgamGambar: Milik Sendiri

Nun jauh di sana ialah Kantor Camat Kamang Magek, Kabupaten Agam
Gambar: Milik Sendiri

Pada suatu Ahad nan cerah kami bertiga anak-beranak pergi berangkat menengok sawah kami yang dipasaduo-i[1] oleh orang. Keluarga kami memiliki beberapa petak sawah, kalau tak salah ialah enam petak sawah. Ahad ini kami akan pergi menengok sawah yang tiga tumpak yang kebetulan berada saling berdekatan. Bersama ibunda dan adik bungsu kami, kami bertiga berangkat.

Kendaraan kami parkir di tempat orang menumbuk padi yang tepat berada di tepi Batang[2] Agam. Setelah itu kami berjalan sekitar kurang lebih 500 m. Jauh-jauh hari kami telah mengingatkan kepada ibu supaya membeli sepatu boot, namun sayang lupa selalu. Akhirnya ibu dan adik kami bergelimang lunau[3] kaki mereka.

Kami berjalan di pematang sawah, banda[4] untuk lalu air guna pengairan telah dicor oleh orang, namun belumlah sepenuhnya karena masih banyak yang belum dicor. Airnya jernih, namun sayang terdapat beberapa sampah plastik yang kami dapati di banda ini. Tidak hanya di banda, namun juga di dalam sawah. Sungguh menyedihkan sekali, tak sampai pangana orang-orang perihal akibat dari sampah plastik ini tampaknya.

Selain sampah, sawah-sawah ini juga sedang didatangi oleh sekelompok cipuk[5]. Sangat banyak sekali kami dapati siput-siput ini. Dahulu semasa kanak-kanak, siput ini sudah habis kena buruh oleh anak-anak, kemudian dijual ke Pakan Salasa dan uangnya dipakai sendiri atau diberikan kepada orang tua. Sangat bergantung sekali kepada kearifan kanak-kanak kami ketika itu. Kalau kami sudah lupa, apakah diberikan kepada ibu atau dipakai untuk belanja (jajan).

Tampak siput dan satu sampah di dalam sawah.

Tampak siput dan satu sampah di dalam sawah.

Begitu juga kebiasaan manangguak,[6] semasa kanak-kanak selepas musim manyabik (panen). Maka kanak-kanak akan ramai pergi manangguak, biasanya yang dicari ialah Ikan Puyu, Pantau, atau syukur-syukur dapat Sapek. Hasilnyapun dijual ke Pakan Salasa.

Ah.. sungguh manis pabila dikenang tuan. Namun tampaknya pada masa sekarang sudah tak ada lagi anak-anak yang mengerjakannya. Mereka sibuk dengan game online..

Berjalan di pematang sawah sungguh mengasyikkan, namun sayang, pematang sawah di kampung kami kecil-kecil ukurannya. Kami serasa berjalan di atas titian. Bahkan ada pematang sawah yang sangat kecil ukurannya, sampai-sampai adik kami berseru cemas agar kami segera pindah ke sisi lain. Kami sangat sedih melihat pemandangan serupa ini. Continue reading “Manyilau* Sawah”