Guru ???

Semoga Jenis Guru serupa ini tak tinggal kenangan [Gambar: Disini] Beberapa waktu nan silam beredar kabar perihal orang tua murid yang meninju seorang guru di sekolah tempat anaknya bersekolah. Kabar inipun beredar

Semoga Jenis Guru serupa ini tak tinggal kenangan [Gambar: Disini]

Beberapa waktu nan silam beredar kabar perihal orang tua murid yang meninju seorang guru di sekolah tempat anaknya bersekolah. Kabar inipun beredar sangat cepat di ranah maya dan juga diangkat oleh beberapa media. Rasa iba bercampur gerampun terasa pada berbagai pendapat (komentar) yang diberikan oleh para penduduk di ranah maya (netizen).

Setiap orang memperbincangkan perkara ini, mengutuk orang tua murid beserta anaknya nan dianggap tak punya otak “Dahulu awak dipukul dengan penggaris kayu oleh guru awak, tatkala diadukan pula ke pada ibu-bapa justeru ditambahi dengan rotan ataupun lidi. Ini si anak manja mengadu pulang, dan ayahnya nan tak punya otak itupun mengamini..” demikianlah rata-rata pendapat orang banyak.

Semula kami berpendapat demikian pula, si anak nan kurang ajar ini nan salah ditambahi orang tuanya tak pula punya otak, maka berlakulah perkara serupa ini. Continue reading “Guru ???”

Advertisements

Bermental Budak

Picture: Here

Seorang berkisah perihal pengalamannya bersua dengan kawan lamanya. Dia terkejut melihat kawannya yang dahulu sangat kurang ajar, tak ada etika dalam pergaulan menjadi orang yang manis mulut dan pandai mengambil muka. Pemandangan ganjil itu sempat menjadi tanda tanya pada dirinya untuk sesaat.

Namun kemudian segalanya menjadi terang benderang pada dirinya. Kawannya bekerja pada salah satu intansi pusat di daerah, percakapan dengan kawannya itulah nan membuat terang seluruh keanehan itu. Continue reading “Bermental Budak”

Si Elang

Masihkah engku dan encik sekalian ingat dengan kisah sebelum tidur yang kami ceritakan beberapa masa yang lalu. Kisah perihal sekelompok binatang yang melakukan rapat guna menyelesaikan berbagai permasalahan yang terjadi di antara mereka. Sekelompok binatang yang dipimpin oleh seekor merak betina yang bernama Rangkayo Merak Jinak. Sekelompok binatang keras kepala yang khas dengan sifat kebinatangan mereka yang tak hendak berubah.

Nah, engku dan encik sekalian. Sebagaimana kisah kami yang telah lalu, diantara binatang-binatang tersebut terdepat sekor binatang yang pendiam. Tidak pandai menjalin perhubungan dengan binatang lainnya. Tinggal menyendiri di sarangnya, hanya terdapat dua ekor kelinci dan satu ekor kuciang aia (berang-berang) yang menjadi jirannya. Binatang lainnya membuat sarang jauh dari sarang milik binatang ini, binatang ini ialah Si Elang.

Marilah kami ceritakan perihal Si Elang agak sedikit. Dia merupakan binatang yang pendiam, pemurung, dan sangat perasa (sensitif). Padahal dia merupakan seekor elang jantan yang cukup perkasa dan diperhitungkan kekuatannya dalam kelompok kecil ini. Dengan kedua ekor kelinci betina ini memanglah dia cukup dekat, namun dengan seekor kuciang aia ini dia terlihat menjaga jarak.

Dahulu induknya pernah sangat berputus asa dengan keadaan anak sulungnya ini. Tidak punya seekor kawan baikpun yang pernah diajaknya bertandang ke sarang milik kedua induknya. Tidak pula pandai berhubungan (berkomunikasi) dengan orang lain, terlalu perasa (sensitif), keras kepala, dan sangat mudah bertukar suasana hatinya (emosinya meledak-ledak).

Ketika disuruh pergi berguru dengan binatang-binatang lain, dia malah sibuk dengan dunianya sendiri. Kawannya sibuk bermain sesama mereka, tatkala mendapat waktu untuk berehat dari Tuanku Guru mereka. Si Elang malah terbang kembali ke sarang induknya menanti waktu rahat usai. Memanglah sebagai seekor elang memudahkan ia mencapai tempat yang jauh dengan hanya beberapa kali kepakan sayapnya. Sangat berbeda dengan binatang lainnya yang tidak memiliki sayap, atau ada binatang yang lain yang juga memiliki sayap namun tidak dapat terbang.

Begitulah Si Elang, dia sibuk dengan dunianya sendiri. Sibuk dengan keinginan dan cita-citanya sendiri yang semakin dipupuk oleh kitab-kitab yang dibacanya. Kitab-kitab yang menjadi kegemarannya ialah kitab-kitab yang menerangkan kisah kehidupan masyarakat zaman dahulu. Apakah itu manusia ataupun binatang, terkadang apabila rehat, dia tidak terbang pulang ke sarang induknya melainkan sibuk menghabiskan waktu di dalam perpustakaan milik Tuan Gurunya.

Itulah Si Elang, dia menjadi asing bagi makhluk lainnya. Seekor binatang yang pendiam dan bahkan ada yang beranggapan dia makhluk yang suka mementingkan diri sendiri (egois). Si elang yang pendiam, si elang yang egois.. begitulah kata mereka. Terkadang menjadi gunjingan bagi binatang lainnya, Si Elang tahu akan hal itu namun dia tak hendak memberi balas sebab tak ada guna berurusan dengan binatang serupa itu. Continue reading “Si Elang”

Menahan hati..

Ilustrasi gambar: Internet

Ilustrasi gambar: Internet

Dahulu semasa masih remaja, orangtua kami pernah mengajari kami perihal cara-cara hidup bermasyarakat, yakni cara menghadapi orang. Mereka berkata:

“Kalaulah nanti di suatu masa nanda bersua dengan orang-orang yang keras hatinya, kasar watak dan sikapnya, janganlah ananda lawan. Niscaya mudharatlah yang akan ananda dapatkan. Orang semacam ini, walau mereka berpendidikan tinggi, lulusan dari universitas ternama, ataupun berasal dari keluarga yang baik-baik. Namun pada dasarnya banak (otak) mereka tidaklah terisi. Hati mereka dipenuhi oleh hawa nafsu dan kebencian, jiwa mereka kerdil, orang-orang semacam ini derajatnya hampir mendekati derajat hewan. Diam adalah sikap yang lebih baik, mungkin mereka akan menganggap kita lemah dan kalah. Tapi itu hanyalah sekedar anggapan mereka, sebab orang banyak jualah yang akan menilainya. Orang-orang yang berakal dan terpelajar akan dapat membedakan itu semua. Melawan kekerasan dengan kekerasan akan mendatangkan malapetaka bagi kita, terutama bagi hati kita, sebab hati kita juga ikut rusak karenanya. Janganlah ananda berkecil hati dan janganlah lelah untuk terus bersabar sebab suatu masa kelak Allah Ta’ala jualah yang akan membalas semua perlakuan buruk yang kita terima. Jikalau hati seseorang telah teriba dikarenakan sikap kita, maka suatu masa kelak akan ada-ada saja malapetaka yang akan datang menghampiri. Oleh karena itu janganlah ananda bersikap kasar kepada orang lain, apalagi menyinggung atau membuat hati orang teriba dikarenakan sikap dan tingkah laku ananda..”

Kami terkenang kembali akan petuah tersebut tatkala kami mendengar suatu perselisihan yang dialami oleh seorang kawan kami di kantor tempat kami bekerja. Penyababnya ialah kesalah pahaman dengan salah seorang kawan yang hampir saja berujung perkelahian. Sungguh sangat memalukan, hampir berkelahi hanya dikarenakan perkara sepele. Ketika itu kawan kami hanya diam, tak menanggapi. Kami terkejut (shock) sebab orang yang kami kira berpendidikan tinggi, memiliki jabatan pula di kantor kami, serta lebih tua umurnya dari kami. Orang semacam ini rupanya kalau mendapat masalah cepat naik darahnya dan menantang orang yang dihadapinya untuk berkelahi.

Disini kana kami coba terangkan dengan menggunakan sudut pandang orang pertama. Sebab untuk menghindari menggunakan kata kawan. Kami khawatir tuan akan kesusahan membedakan antara kata “kawan” bagi kawan kami, dan “kawan” sebagai kata ganti untuk dua orang lainnya. Silahkan tuan simak kisahnya..

Ilustrasi gambar: Internet

Ilustrasi gambar: Internet

Sebenarnya kami telah mendapat kabar perihal watak dan karakter dari kawan kami ini sebelumnya. Namun apalah hendak dikata, masa perkara ini terjadi terlupakan oleh kami hal tersebut. Maka terjadilah malapetaka yang seharusnya dapat kami hindari. Sebenarnya unsur penyebab dari kesalah pahaman ini tidak hanya satu akan tetapi ada beberapa. Salah satunya ialah karena ketika permasalahan ini terjadi salah seorang kawan yang ikut datang bersama kawan kami ini yang sebelumnya memang telah lama kurang senang dengan kami juga ikut menambahi (meprovokasi). Mungkin hal tersebutlah yang menyebabkan keadaan menjadi tambah panas, selain memang karena watak dan tabi’at dari kawan kami yang pertama tadi.

Kawan kami yang kedua memiliki watak dan tabi’at seperti anak-anak gaul di Jakarta. Menyukai gaya hidup hedonis, kepada kawan-kawan dia selalu menjual cerita perihal pengalamannya dalam dunia malam di Jakarta. Cara bicaranya juga selalu meninggi, memandang rendah orang-orang disekitar yang belum pernah mengalami apa yang dialaminya. Dia menganggap bahwa pengalaman hidupnya itulah yang terbaik dan pantas untuk dikagumi. Namun yang terparah dari ini semua ialah mulutnya yang seperti perempuan. Mulutnya manis, mudah bergaul untuk orang-orang yang baru dikenalnya. Oleh karena itulah makanya dia ditempatkan dibagian yang memang menuntut pegawainya untuk selalu ramah dan sopan kepada para tamu-tamu kami (tamu pemda). Mulutnya seperti perempuan tuan, nyinyir, tajam, menusuk, dan penuh prasangka.

Apa yang menyebabkan kawan kami yang kedua ini tidak senang kepada kami? Tak lain ialah karena perbedaan alam tuan. Kami merupakan anggota “Laskar Berjanggut”, orang-orang seperti kami telah terlanjur dicap sebagai radikalis, fundamentalis, ataupun yang terparah ialah teroris. Sangat berat sekali tuan. Sebab mereka memandang sama saja semua orang berjanggut. Sudah sering kami dilecehkan, didiskriminasi, dan lain sebagainya. Hingga kini kami masih terus berdo’a semoga kesabaran ini janganlah sampai habis hendaknya.

Itulah yang terjadi pada hari itu, dua orang yang berjiwa kerdil yang harus kami hadapi. Yang satu bertabi’at panas dan yang satunya lagi memendam amarah kepada kami. Hanya karena perkara sepele mereka menyerang kami dengan segala kebuasan yang ada pada diri mereka. Kami terkejut dan heran, apakah benar yang kami hadapi ini seorang yang berstatus sebagai seorang pegawai? Apakah mereka lupa bahwa berkelahi merupakan pantangan bagi seorang pegawai? Sangat besar akibat yang harus ditanggung oleh seorang pegawai yang berani-beraninya bersikap demikian. Tak patut, tak patut bagi seorang pegawai dan lebih tak patut pula dengan orang dengan tingkat pendidikan seperti mereka. Continue reading “Menahan hati..”

Lupa dg nan empat

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Tuan, engku, dan encik sekalian.. beberapa masa yang lalu tatkala tengah asyik memeriksa status facebook dari kawan-kawan. Tanpa sengaja perhatian kami tertuju pada sebuah pandangan yang dimuat oleh salah seorang dosen kami dahulu di Unand. Berikut kami sertakan kutipannya:

Kanak-kanak di negeri Amerika, Inggris, Australia dan lain-lain dibiasakan untuk menyatakan thank you (terima kasih), I’m Sorry (maaf), dan please (tolong). Akibatnya, mereka terbiasa dengan watak ataupun tabi’at sportivitas dan profesionalisme dalam berhubungan dengan orang-orang dalam kehidupan mereka. Sungguh sangat disayangkan, bahwa kita tak membiasakan anak-anak kita sedari fajar untuk sekedar mengucapkan “terima kasih” dalam banyak hal atas kebaikan pihak lain, meminta maaf bila berbuat salah, dan mengucapkan kata ‘tolong’ di saat butuh bantuan orang lain. Akibatnya, begitu dewasa mereka sulit mengucapkan kata “terima kasih” dalam hubungan mereka dengan masyarakat kebanyakan. Perhatikanlah! Seorang pelayan/tukang suruh di supermaket, petugas SPBU, atau teller di loket kantor-kantor pemerintahan jarang sekali mengucapkan kata ‘terima kasih’ kepada masyarakat (baca: konsumen) ketika membayar produk atau jasa mereka. Seorang petugas di pusat Information Center enggan meminta maaf atas keluhan masyarakat yang berhubungan dengan mutu layanan instansinya tempat bekerja atau setengah hati bekerja, seperti berbicara dengan pelanggan sambil membalas sms di telepon genggam! Continue reading “Lupa dg nan empat”