Berhati-hati dalam Memaknai

Gambar: Disini

Cupak dililih urang panggaleh, jalan diasak urang lalu (Cupak diraut oleh pedagang, jalan dialih – ditukar – orang yang lewat) – Pepatah Minangkabau

Tiada salah kiranya salah seorang kawan kami pernah berkata “Semestinya di perguruan tinggi itu dibuka satu jurusan yang bernama Jurusan Falsafah Minangakabu..”

Kata kawan kami, berbagai falsafah, pepatah-petitih, maupun curaian adat ataupun orang tua-tua di Minangkabau ini sangat kaya makna. Tidak dapat dimaknai secara tersurat saja melainkan tersirat. Adapun memaknai secara tersirat tidak semua orang dapat melakukannya.

Adapun nilai dan ajaran nan terkandung dalam ajaran falsafah Minangakabau itu tak kalah tingginya apabila dibandingkan Filsafat Yunani, Romawi, Mesir, Babilonia, India, ataupun Cina yang selama ini acap disebut-sebut dalam pembelajaran di perguruan tinggi. Namun agaknya pepatah rumput di pekarangan jiran lebih hijau dari rumput di pekarang sendiri sangat berlaku di negeri ini.

Continue reading “Berhati-hati dalam Memaknai”

Advertisements

Baju Kurung, the Blue Print

Baju kurung nan dipakai perempuan dahulu

“Engku, telah gaduh orang dikarenakan engku. Sungguh engku tiada pandai menimbang rasa, tiada hendak mempertenggangkan orang..!!” ucap seorang kawan di seberang sana. Kami terdiam dan faham akan maksud perkataannya.

“Dimanakah nan salah itu engku?” tanya kami hendak memastikan.

“Kenapalah mesti engku tulis pula, biarkan sajalah mereka itu. Kalaupun salah, merekalah nan akan menanggung dosa. Engku fikir dosa orang itu engku yang menanggungnya!?” kami tersenyum, sudah berulang kali kami dapati jenis manusia serupa ini, sekular dan individualis. Lupa ia dengan ajaran agama untuk saling menyapa, mengingatkan, dan memberi tahu perihal kebaikan (ajaran Islam). Kalau tidak disampaikan maka ianya akan menjadi hutang yang akan dituntut oleh orang tersebut di hadapan Allah Ta’ala kelak di Padang Masyhar.

Itulah potongan percakapan kami dengan salah seorang kawan. Kini marilah kita coba dudukkan persoalannya. Sebab sejauh pengamatan kami ada yang berkenan dan ada yang tidak berkenan dengan apa nan telah kami tuliskan itu. Seperti kata pepatah di negeri kita; rambut boleh sama hitam, isi kepala berlainan. Continue reading “Baju Kurung, the Blue Print”

Watak Pembangkang

Salah satu kejadian baru-baru ini nan membuat heboh [Sumber Gambar: Disini]

Telah banyak kami dengar orang-orang di rantau mencemooh watak (mental) orang Minangkabau yang tiada pandai melayani orang nan datang. Kata mereka “Bagaimana pelancongan (pariwisata) itu hendak dikembangkan kalau melayani orang datang saja tiada pandai. Kasar dan maunya hendak dilayani orang awak ini. Berlainan dengan daerah di Pulau Seberang sana, mereka ramah-ramah dan pandai melayani..”

Tersenyum kami mendengarnya “Tiada mengapa engku, baguslah demikian. Tanda orang Minangkabau ini tiada mudah diperintah, dipandir-pandirkan, terpengaruh dengan pencitraan, dan mudah dimasukkan ke dalam Karung oleh Media. Kami sendiri tiada sesuai dengan keinginan (ambisi) sebagian besar kepala daerah di negeri kita nan hendak mengembangkan dunia pelancongan..” jawab kami ringan. Continue reading “Watak Pembangkang”

Siapa yang Hipokrit!?

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Semula telah terbayangkan oleh kami serupa apapun kelakuan, perbuatan, ataupun pernyataan yang dikeluarkan oleh fihak Penguasa maka mereka akan selalu memiliki argumen untuk melakukan Pembelaan terhadap fihak Penguasa. Kasus Plt Gubernur Ibu Kota Republik yang suka berbiacara sekehendak hati tanpa memikirkan orang yang talantuang kiri-kanan akan mendapat ribuan dukunan dari para Pendukung Fanatiknya. Sikap keras dan kasar dari PLT Gubernur tersebut dianggap sebagai suatu “ketegasan”.

Sebaliknya apabila orang yang beragama Islam yang berkelakuan demikian maka dengan mudah cap fanatik, radikal, fundamentalis, ataupun teroris mereka campakkan. Sungguh kami tiada habis fikir entah terbuat dari apa hati mereka-mereka ini.

Dan sekarang kasus Menteri Baru yang menghangat, banyak orang yang memprotes dan mencemooh gaya hidup dan sikap yang ditunjukkan oleh mentri baru ini di hadapan khalayak. Dan sekali lagi mendapatkan pembelaan dan dukungan, kata salah seorang pendukung mereka “Ibu menteri merokok ialah sesuatu yang Positif dari sisi kemerdekaannya, hal lugas seperti ini memang harus dibudayakan..” pembelaan ini disertakan dengan menyebut-nyebut perihal hipokritas.

Kami hanya mengurut dada saja mendapati pembelaan serupa ini, sudah tahu kami akan ada hal serupa ini yang berlaku namun tetap kami terkejut dibuatnya. Apalagi yang memberikan ialah orang yang mengaku berasal dari suku bangsa Minangkabau pula. Memanglah demikian, banyak orang Minangkabau yang tinggal di rantau telah terpeleset akal mereka, melenceng akidah mereka. Telah banyak pula yang bertukar kiblat.

Padahal kalau seandainya ada perempuan yang memakai baju gamis, berjilbab besar, bahkan ada pula yang memakai cadar maka akan mereka maki dengan makian “Islam aliran sesat! Islam murni! Islam apapula itu!” atau “Ini Indonesia bukan Negeri Arab! Tak ada Padang Pasir disini..” Continue reading “Siapa yang Hipokrit!?”

Minangkabau ialah Melayu

Peta Negeri-negeri Melayu Sumber: http://muhammadsayyid.blogspot.com/2012/06/minang-itu-melayu-bugis-itu-melayu.html

Peta Negeri-negeri Melayu
Sumber: Disini

Jangan dipakai Baju Kurung, itu Baju Melayu, bukan budaya kita. Baju Kebaya kita pakai esok..” seru seorang ibu-ibu pejabat tatkala memberi pengarahan kepada anggotanya pada salah satu kota di Sumatera Barat ini. Sungguh geram sangat hati kami tatkala mendengar perkataan serupa itu, sungguh Bengak Sangat Nyonya Besar ini.

Semula kami sangka bahwa orang zaman sekarang yang berumur empat puluh tahun ke bawah saja yang tiada faham perkara asal usul kita Orang Minangkabau, namun rupanya tidak, orang yang sudah berubanpun banyak pula yang tiada faham. Pernah ada seorang engku-engku kami dengar berkata “Suku saya Malayu bukan Melayu, kalau Melayu itu orang Riau dan orang Malaysia sana..” ujarnya bodoh bin pandir. Continue reading “Minangkabau ialah Melayu”

Akankah Sejarah Kembali Berulang?

Semenjak keluar pengumuman dari Ketua Penyelenggaran Pemilihan Umum di republik ini perihal pemenang dari pemilihan besar ini maka beragam tanggapan yang tampak oleh kami. Ada yang kecewa karena kenapa sampai banyak orang pandir yang memenangkan Si Sani di republik ini? Pertanyaan serupa itu timbul karena mereka percaya hasil pemilihan ini ialah jujur, tiada yang mencurangi.

Ada pula yang tiada percaya “Pastilah karena pemilihan ini tiada jujur, telah dikicuh kita-kita ini..”

Ada jua yang dengan enteng bercakap “Kalau dahulu saya memilih Si Wahid maka sekarang karena Si Sanilah yang menang maka ia yang saya pilih..”

Sedangkan fihak lain dengan mencemooh berkata “Kalau kalah ya sudah kalah saja, tak usah mendakwa orang berbuat curang!!?”

Pernyataan serupa ini dijawab oleh engku-engku “Kalau fihak engku yang kalah, engkupun pastilah akan mengajukan dakwaan yang serupa dengan yang kami lakukan..”

Bagi orang Minangkabau yang telah memenangkan Si Wahid mendapat banyak cobaan, cobaan pertama ialah sebagian besar media di propinsi ini berfihak kepada Si Sani. Sungguh semakin tampak kilaunya emas maka semakin lupa diri manusia itu. Cobaan kedua ialah para penyokong Si Sani di daerah ini mulai kegadang-gadangan bahkan bersikap diluar batas, gedang kepala, merasa berkuasa, congkak, dan lain sebagainya.

Diantara mereka ada yang berkata “Seharusnya orang Minangkabau malu karena lebih memilih Si Wahid yang beribukan Kafir dibandingkan Si Sani yang sudah jelas-jelas muslim. Apatah lagi wakilnya Si Sani ialah Rang Sumando bagi kita..”

Coba engku dan encik tengok perangai mereka, sudah kurang ajar, tiada ada rasa, dan mulai kegadang-gadangan. Bahkan ada sebagian orang  yang sampai-sampai berpandangan bahwa “Orang Minangkabau mesti malu muka terhadap Rang Sumando, sebab dia tiada menang di kampung isterinya..”

Kamipun heran “Memangnya ada pula keharusan bahwa seorang Sumando mesti menang di kampung isterinya. Apatah ini lagi kampung yang jarang disilau, sudah hanyut di rantau saja..??”

Orang Minangkabau bukanlah orang pandir, mereka bukan menolah Si Sani beserta Rang Sumando Kami akan tetapi Kekuatan Jahat yang berada di belakang mereka. Kami tiada peduli dengan perkataan orang yang belum tentu benar bahwa Si Sani itu Cina dan Kafir karena kami bukanlah bangsa yang mudah dihasung (provokasi). Sejarah telah membuktikan bahwa selepas kejatuhan Soeharto dimana kerusuhan melanda republik ini hanya di Propinsi kamilah yang aman-aman saja. Engku-engku Pendukung Si Sani fikirkanlah itu!!! Continue reading “Akankah Sejarah Kembali Berulang?”