Mereka takut akan Kita

Akseyna Ahad Dori, mahasiswa UI Jurusan Biologi yang ditemukan tewas tenggelam di Danau UI. [] Picture: Here

Disalin dari statu Manoefris Kasim di fesbuk beliau

Assalamualaikum wb,

IPhO (International Physics Olimpyc)

Satu hal yg harus kita berhati hati berkenaan dg juara Olimpiade Physics ini
1. Ingatkah kita meninggalnya mahasiswa kita di Nanyang Singapore bbrp waktu yl? Dia juga anak pintar Indonesia, juara olimpiade Physics,..seolah olah jatuh dari lantai yg tinggi.
Continue reading “Mereka takut akan Kita”

Advertisements

Kembali Ke Zaman Gelap

Aku menjumpai pangeran -pangeran yang biadab, uskup yang pemabuk, hakim yang dapat disuap, pelanggan yang tak jujur, klien yang tukang jilat, orang yang suka melanggar janji, teman-teman pendengki, dan hampir semua orang penuh ambisi..

Adelard dari Bath dalam Questions and Natural dalam

Jonathan Lyons. The Great Bait Al-Hikmah; Kontribusi Islam dalam Peradaban Barat. Noura Book. Jakarta, 20013 (Hal..182)

Ilustrasi Gambar: Internet*

Ilustrasi Gambar: Internet*

Dimasa sebelum hingga berlangsungnya Perang Salib, Daratan Eropa ialah kawasan yang gelap, barbar, jauh dari peradaban, penuh dengan ketidak adilan, penindasan, dan jauh dari ilmu pengetahuan. Sangat berbanding terbalik dengan keadaan pada zaman sekarang.

Disadari atau tidak, diakui atau tidak, berbagai tradisi dalam kebudayaan masyarakat Barat terutama tradisi yang ‘berada’ sesungguhnya berasal dari kebudayaan Islam pada masa lalu.

Seperti kebudayaan menulis, sesungguhnya bangsa-bangsa Timur lebih dahulu mengenal kebudayaan tulisan apabila dibandingkan Bangsa Barat seperti masyarakat Babilonia di Irak, Persia, Mesir, India, Cina, dan berbagai bangsa-bangsa lainnya.

Bangsa Barat sendiri menyalin tradisi atau kebudayaan menulis tersebut dari Bangsa Arab yang bersentuhan langsung dengan mereka pada saat Perang Salib dan Pasca Perang Salib. Bahkan dimasa itu bangsa Barat belum mengenal sabun dan parfum, mandi hanya sesekali, oleh karena itu berbagai macam penyakit banyak beredar di kalangan rakyatnya. Continue reading “Kembali Ke Zaman Gelap”

Terkenang dengan Sila ke-4

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Pada hari Jum’at dini hari yang lalu Dewan Tertinggi di republik ini telah menyetujui undang-undang Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) yang baru dimana dimasa mendatang Kepala Daerah akan dipilih oleh Dewan Daerah bukan melalui pemilihan langsung. Undang-undang ini didukung oleh Syarikat Merah Putih dan ditentang oleh Syarikat Penguasa Baru. Partai penguasa sekarang yang akan segera habis masa jabatannya memutuskan untuk keluar dari ruang sidang setelah usulan mereka Pilkada Langsung dengan sepuluh perbaikan ditolak oleh seluruh Kelompok di Dewan.

Kemenangan Syarikat Merah Putih ini disambut dengan senang hati oleh para pendukung mereka, namun mendapat cacian dan tuduhan yang tak pantas dari Syarikat Penguasa Baru beserta para pendukung mereka. Dibandingkan degan kekalahan pada Pemilihan Akbar yang silam, kemenangan ini hanyalah kemenangan kecil bagi Syarikat Merah Putih. Namun walaupun demikian, media penyokong Syariikat Penguasa Baru tak kurang cercaan, fitnahan, dan mencari-cari kesalahan terhadap kegagalan mereka dalam pemungutan suara di Gedung Dewan Kamis malam dan Jum’at dini hari yang lalu.

Masyarakatpun dalam hal ini terpecah kepada dua golongan dalam menyikapi Undang-undang ini, ada yang menyokong dan ada pula yang menolak, serta ada pula yang diam tak peduli “Tiada untungnya bagi awak, langsung ataupun melalui Dewan Daerah” ujar mereka.

Usulan pengubahan jalannya pemilihan Kepala Daerah ini berangkat dari keadaan yang telah berlangsung selama kurang lebih 10 tahun ini di republik ini. Ada yang mengatakan bahwa proses pemilihan langsung ini merupakan ciri dari Demokrasi Liberal yang tidak sesuai dengan akar budaya masyarakat yang ada di Republik. Bertentangan dengan Sila keempat Pancasila “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksaan dalam Permusyawaratan Perwakilan”.

Pandangan lain ialah karena banyaknya pertikaian yang terjadi antar golongan di daerah (konflik sosial), politik uang yang dijalankan secara terang-terangan yang sebagian besar dibiarkan, suap-menyuap  yang terjadi dari tingkat daerah hingga pusat[1] keberpihakan penyelenggara pemilihan sehingga berujung kepada kecurangan rerstruktur, lahirnya budaya Munafik Akut yang menjakiti sebagian besar Calon Kepala Daerah, dominasi media beserta para Kapitalis, dan lain sebagainya. Continue reading “Terkenang dengan Sila ke-4”

Diktator yg lahir dari Rakyat

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

“Tahukah engku bahwa siapapun yang berkuasa di republik ini mesti memastikan militer, kepolisian, dan intelejen hendaknya berada di bawah pengaruh mereka, setidaknya di fihak mereka..” kata seorang kawan tatkala kami tengah duduk-duduk sambil membaca beberapa artikel dari internet.

Kabar yang datang dari internet lebih cepat, lebih beragam sudut pandangnya, dan lebih terus terang. Berlainan dengan kabar-kabar yang datang dari media semacam televisi dan koran yang telah dikendalikan oleh banyak fihak.

Kami terdiam mendengar pendapat kawan kami tersebut, memanglah kalau kami fikir-fikirkan kembali ke masa silam, Soekarno dan Soeharto berhasil menjadi diktator di republik ini berkat memiliki kendali penuh terhadap militer dan berbagai lembaga pertahanan dan keamanan negara. Kehancuran merekapun karena militer sudah menjaga jarak dengan mereka.

“Tengoklah sekarang, militer agaknya telah berada di bawah pengaruh mereka, belum pernah ada namanya jabatan Penasehat Panglima sebelumnya di republik ini…” lanjut kawan kami.

“Ini hanyalah permulaan, tunggu sajalah FPI pasti akan segera dibubarkan, para pemimpin mereka akan ditangkap, media sosial akan diawasi. Hati-hati saja engku, blog engku itupun akan diawasi pula atau mungkin akan dilarang dan engkupun akan ditangkapi..” lanjut kawan kami tersebut. Continue reading “Diktator yg lahir dari Rakyat”

G30S/PKI: Kudeta atau Penyelamatan Negara

Ilustrasi Gambar; Internet

Ilustrasi Gambar; Internet

Semenjak berakhirnya kekuasaan Presiden Soeharto pada tahun 1998 maka berakhir pulalah pemutar filem G30S/PKI di TVRI. Sebuah filem yang sebelumnya merupakan filem yang wajib diputar di stasiun televisi pemerintah dan kemudian disebarkan oleh setiap stasiun televisi yang ada di Indonesia ketika itu. Namun selepas kejatuhan Orde Baru (Orba) yang dipimpin oleh Presiden Soeharto ketika itu maka berhenti pulalah penayangan filem tersebut. Banyak fihak yang menyayangkan namun kekuatan yang menghendaki penghentian penayang filem tersebut.

Apalagi semenjak Presiden Gus Dur mengeluarkan usulan pencabutan TAP MPRS XXV 1966, yang isinya tentang pelarangan ideologi komunis,marsisme tidak hanya Komunis, melainkan berbagai faham-faham lain yang merusak tatanan kehidupan baik itu bernegara, beragama, dan sosial mulai berani menampakkan dirinya. Penggunaan huruf Cina yang semula dilarang menjadi dibolehkan, banyak orang Cina yang merasa bangga dengan huruf mereka mulai memamerkan huruf yang telah digunakan berabad-abad oleh nenek moyang mereka di Daratan Cina.

Semenjak berakhirnya kekuasaan Orba, banyak orang yang mulai menggugat keabsahan tindakan yang dilakukan oleh Mayjen Soeharto dimasa tahun 1965. Ada yang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kudeta terselubung yang dilakukan Soeharto dengan bantuan CIA. Ada pula yang bersorak-sorak bahwa telah terjadi pelanggaran HAM yakni pembantaian massal terhadap orang-orang yang diduga Komunis pada waktu itu. Dengan mengabaikan fakta dan data sejarah perihal Kebiadaban Komunis pada masa sebelumnya di negara ini.[1]

Sebelum jatuhnya Soekarno dengan Orde Lamanya, Ideologi Komunis dengan Partai Komunisnya (PKI)[2] bersama-sama dengan Partai Nasionalis Indonesia (PNI) yang dipimpin langsung oleh Presiden Soekarno merupakan partai penguasa. Kedua partai tersebut merupakan dua sejoli yang tak dapat terpisahkan yang mendukung Pemerintahan Diktator Soekarno. PRRI lahir merupakan akibat dari kemesraan hubungan Soekarno dengan PKI di pusat yang bertentangan dengan semangat daerah. Sesungguhnya PKI dan PNI hanya kuat di Pulau Jawa kecuali Jawa Barat serta beberapa daerah lainnya di Indonesia. Namun karena berada di pusat kekuasaan menyebabkan mereka mudah menjadi penguasa. Continue reading “G30S/PKI: Kudeta atau Penyelamatan Negara”

Indonesia&Mesir: Riwayat Mu Kini..

Kami kan selalu bersama, Insya Allah..

Kami kan selalu bersama, Insya Allah..

Mesir, atau orang Arab menyebutnya dengan Qibthi. Orang Barat mengenalnya sebagai pusat peradaban kuno yang konon kabarnya memiliki peradaban yang sangat tinggi pada masa lalu. Para Masonic[1] berpandangan Mesir itu serupa tanah suci mereka. Karena sesungguhnya mereka melanjutkan tradisi sihir yang pernah berjaya di Mesir pada masa dahulu.

Semenjak berakhirnya Perang Dunia Kedua, Mesir diperintahi oleh orang-orang dengan Mazhab Sekuler. Walau sebagian besar menginginkan Negara Islam namun karena kekuatan Angkatan Bersenjata dibawah kendali mereka. Maka semenjak saat itu hingga kini Tiran Kekerasan selalu merajalela di Negeri Mesir.

Kanan: M. Rasjidi, Haji Agus Salim, & Hasan Al Bana.

Kanan: M. Rasjidi, Haji Agus Salim, & Hasan Al Bana.

Gerakan Ikhwanul Muslim yang dilahirkan oleh Syekh Hasan Al Bana dimana pengaruhnya hampir selalu ada di setiap negeri Islam ditekan sedemikian rupa. Para pemimpin dan aktivis mereka ditangkap dan kemudian disiksa bahkan ada yang dibunuh (al Bana & Sayyid al Qutubh. Berbagai konspirasi dirancang untuk menghancurkan gerakan Ikhwan ini. Seperti dituduh sebagai fanatik dan radikalis. Pernah juga dilarang keberadaannya semasa Rezim Mubarak. Namun pengaruh dan ajaran mereka tidak pernah mati.

Selepas kehancuran Mubarak, gerakan Ikhwan bangkit dan mendapat banyak sokongan dari rakyat. Pemilu mereka menangkan walau tidak secara mutlak, karena pengaruh dari ajaran mereka telah dikebiri oleh rezim sebelumnya. Presiden terpilih pertama secara demokrasipun dari golongan mereka.

Bung Syahrir dan Hasan al Bana (Tengah) Kunjungan Bung Syahrir ditemani oleh Nazir St. Pamuncak, M.Z.Hassan ke Kantor Pusat Ikhwanul Muslim di Mesir. Kunjungan tersebut guna mengucapkan terimakasih atas sokongan yang begitu kuat dari Hasan al Bana, Ikhwan, & Pemerintahan Mesir atas kemerdekaan Indonesia.

Bung Syahrir dan Hasan al Bana (Tengah) Kunjungan Bung Syahrir ditemani oleh Nazir St. Pamuncak, M.Z.Hassan ke Kantor Pusat Ikhwanul Muslim di Mesir. Kunjungan tersebut guna mengucapkan terimakasih atas sokongan yang begitu kuat dari Hasan al Bana, Ikhwan, & Pemerintahan Mesir atas kemerdekaan Indonesia.

Ikhwan yang sangat Islami (religius), yang mengajarkan agar Dunia Islam kembali ke pokok ajaran Tauhid yang Al Qur’an dan Sunnah Nabi menjadi ancaman utama bagi kepentingan Barat. Dengan terang-terangan Presiden Mursi dan para pimpinan Ikhwanul Muslim menyatakan akan membebaskan Palestina. Dan ini merupakan tanda tangan untuk kehancuran mereka yang kesekian kalinya.

Konspirasipun disusun untuk menjatuhkan pemerintahan yang sah. Pemerintahan yang disyaratkan oleh Barat dan Dunia Moderen saat ini, dimana harus dipilih berdasarkan proses demokrasi. Pemerintahan ini pula yang hendak dihancurkan oleh para Sekuleris. Mereka benci dengan Syari’at Islam, mereka khawatir dengan dominasi Ikhwanul Muslim di Parlemen yang tengah melakukan Amandemen terhadap Undang-Undang Dasar Mesir. Takut kalau pada undang-undang baru penuh dengan unsur-unsur Syari’at Islam. Continue reading “Indonesia&Mesir: Riwayat Mu Kini..”