Duhai Malam

Duhai gelapnya malam, kenapakah dengan diri ku, ada apakah dengan hidup ku..?

Sungguh engkau merupakan kawan setia, selalu datang setiap hari tak pernah tidak. Selalu diam dengan apa yang ku kerjakan. Tak pernah menyanggah ataupun menghardik..

Berlainan sekali dengan orang-orang ini, berkeinginan untuk mengatur, berkehendak untuk selalu dipenuhi keinginan mereka. Siapa mereka dan siapa pula daku mereka tiada peduli. Bagi mereka diam ialah lemah dan mengalah ialah kalah..

Namun engkau serupa pula dengan orang-orang yang ku temui setiap harinya. Ada sesuatu yang engkau sembunyikan dalam gelap mu. Sesuatu yang tak aku tampak, bersembunyi di dalam kelam mu..

Namun bukanlah salah engkau duhai malam, karena engkau tiada sengaja. Merekalah yang tak hendak nampak oleh ku. Mereka bersembunyi di dalam kelammu bukan karena daku ataupun engkau melainkan karena ketiadaan pelita..

Sedangkan mereka, mereka sengaja menyembunyikannya dari ku. Tiada ingin aku melihat, tersembunyi jauh dalam pandangan mata mereka, di dalam hati mereka, jauh di dalam muslihat mereka. Continue reading “Duhai Malam”

Advertisements

Musuh dari Ketidak Tahuan

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Beberapa masa yang lalu kami bercakap dengan salah seorang kawan se kantor. Isi percakapan kami ialah perihal mantan induk semang kami yang sangat tidak baik perhubungannya dengan kawan kami ini. Perihal pekerjaan (kegiatan) yang dipimpinnya serta perkembangannya, menjadi bahan pergunjingan bagi kawan kami ini. Yang tampak ialah celanya saja, benarlah kata orang bijak “apabila hendak mengetahui keburukan seseorang, maka tanyakanlah kepada lawannya. Namun pabila hendak mengetahui perihal kebaikannya maka tanyailah kawannya..

Memanglah induk semang kami seorang yang keras hati dan kurang bertimbang rasa dalam bersikap kepada orang lain. Namun bukan berarti segala yang ada padanya ialah buruk, melainkan ada jua sisi baik dari dirinya.

Akan halnya dengan kawan kami ini, memiliki watak yang hampir sama dengan mantan induk semang kami ini. Yakni sama-sama keras hati dan kurang bertimbang rasa, merasa dirinya paling pintar dan benar. Tak hendak mendengarkan pendapat orang lain dan menganggap pendapat diri sendirilah yang benar.

Percakapan kamipun beralih ke berbagai perkara, satu yang membuat kami terkejut sekaligus menarik minat kami. Yaitu perihal “Orang Malaysia” yang rupanya sangat tak disukainya. Tampak pada pendapat yang dikemukakannya betapa penuh akan hasad dan prasangka. Fitnah dari Media Sekuler telah benar-benar merasuk ke dalam hatinya. Kami hanya dapat berucap na’uzubillah di dalam hati.

Memanglah selama memimpin, mantan induk semang kami sangat menaruh hati kepada Malaysia. Beliau sering mengundang beberapa orang dari Malaysia bahkan pergi ke salah satu negara bagian di sana untuk melakukan konsultasi dan studi banding. Memanglah selama menjabat beliau sedang dalam suatu kegiatan yang bertujuan mengangkat nama kota tempat kami bekerja. Namun Allah berkehendak lain, beliau akhirnya dicampakkan, begitu juga kami.. Continue reading “Musuh dari Ketidak Tahuan”

Korban Media Sekuler

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Beberapa masa yang lalu kami bercakap dengan salah seorang kawan se kantor. Isi percakapan kami ialah perihal mantan induk semang kami yang sangat tidak baik perhubungannya dengan kawan kami ini. Perihal pekerjaan (kegiatan) yang dipimpinnya serta perkembangannya, menjadi bahan pergunjingan bagi kawan kami ini. Yang tampak ialah celanya saja, benarlah kata orang bijak “apabila hendak mengetahui keburukan seseorang, maka tanyakanlah kepada lawannya. Namun pabila hendak mengetahui perihal kebaikannya maka tanyailah kawannya..

Memanglah induk semang kami seorang yang keras hati dan kurang bertimbang rasa dalam bersikap kepada orang lain. Namun bukan berarti segala yang ada padanya ialah buruk, melainkan ada jua sisi baik dari dirinya.

Akan halnya dengan kawan kami ini, memiliki watak yang hampir sama dengan mantan induk semang kami ini. Yakni sama-sama keras hati dan kurang bertimbang rasa, merasa dirinya paling pintar dan benar. Tak hendak mendengarkan pendapat orang lain dan menganggap pendapat diri sendirilah yang benar.

Percakapan kamipun beralih ke berbagai perkara, satu yang membuat kami terkejut sekaligus menarik minat kami. Yaitu perihal “Orang Malaysia” yang rupanya sangat tak disukainya. Tampak pada pendapat yang dikemukakannya betapa penuh akan hasad dan prasangka. Fitnah dari Media Sekuler telah benar-benar merasuk ke dalam hatinya. Kami hanya dapat berucap na’uzubillah di dalam hati. Continue reading “Korban Media Sekuler”

Egoisme..

world-photography_13

Ilustrasi Gambar: Internet

“Saya takut berubah engku, kehidupan masa sekarang telah membuat pribadi masing-masing orang di negeri kita menjadi kasar. Termasuk orang-orang disekitar saya, mereka telah menjadi prinadi-pribadi tak berhati. Keras watak mereka dan kasar perilaku mereka, telah pekak telinga dan hati mereka. Percuma diberi oleh Allah telinga dan hati sebab keduanya tiada dipergunakan oleh mereka. Tak pernah memandang dan mengukur diri, yang tampak ialah kesalahan orang saja. Jika terjadi suatu kejanggalan ataupun kesilapan maka itu ialah kesalahan orang lain, namun pabila yang muncul ialah suatu kesukaan maka itu ialah kerja dirinya. Begitulah keadaannya engku..” terang salah seorang kawan kami pada suatu ketika.

Kami masih terkenang dengan percakapan tersebut. Hari itu ialah hari Rabu petang, kawan kami sedang kepayahan sebab semenjak pagi dia telah ditempa dengan berbagai kemalangan. Tak ada seorangpun yang bertanya dan dapat dijadikan beriya-berkata. Semuanya dilaluinya sendiri. Padahal beberapa orang kawan-kawannya di kantor selalu berkata perkara “kebersamaan”. Mengerjakan segalanya bersama-sama dan saling tolong menolong. Namun dalam perkara yang dihadapinya, tak ada seorangpun yang hendak menolong dirinya. Mereka hanya hendak senang saja, tak hendak mau tahu perihal keadaan dirinya.

Sedih hati kami memandang dirinya, tak ada satupun yang dapat kami perbuat untuk meringankan bebannya. Ketika itu kami tinggalkan dirinya dengan segala masalah yang ada padanya. bukan tak hendak menolong namun karena memang tak ada yang dapat kami lakukan untuk menolong. Benar-benar di luar kuasa kami. Continue reading “Egoisme..”

Rapat Para BInatang

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Alkisah di suatu hutan yang antah barantah, hiduplah sekelompok binatang dari berbagai macam jenis. Binatang-binatang ini diperintahi oleh seekor burung Merak, yang kepemimpinannya ditentukan sendiri oleh Raja Rimba. Raja Rimba ialah pemimpin dari sekalian binatang yang terdapat di hutan yang meliputi lembah, bukit, ataupun gunung. Amatlah besar kekuasaan Si Raja Rimba, oleh karena itu beliau membutuhkan para pembantu untuk membantu mengurusi sekalian binatang (rakyat) yang menjadi tanggungannya.

Si Raja Rimba biasa dipanggil dengan panggilan Tuanku Singo Rajo Lelo. Beliau memerintah dibantu oleh beberapa orang besar. Pertama ialah dua orang besar yakni Tuanku Singo Barapi dan Tuanku Baribeh[1] Hitam. Kemudian dibawah mereka masih ada sekitar 13 orang besar lainnya. Salah satu dari 13 orang besar ini bernama Tuan Jawi[2] Gadang. Tuan Jawi Gadang inilah yang menjadi induk semang (atasan) langsung si Burung Merak.

Si Burung Merak bernama lengkap Rangkayo Merak Jinak, oleh sekalian binatang di bawah pimpinannya biasa dipanggil dengan sebutan “Rangkayo” saja. Merak Jinak dan kaumnya tinggal di sebuah lembah nan elok, menempati beberapa pokok pohon yang cukup besar batangnya. Pada lembah itu mengalir sebuah batang aia[3]  yang dijadikan sebagai sumber bagi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Banyak kelompok binatang yang dengki dengan mereka, namun karena kehidupan mereka dijalankan dengan segala peraturan yang ada oleh Si Raja Rimba, maka mereka tak berdaya untuk berbuat rusuh.

Merak Jinak belumlah berapa lama ini diangkat oleh Tuanku Singo Rajo Lelo sebagai “Yang Dipertuan”[4] dalam kelompoknya. Sebelumnya yang menjadi pimpinan ialah Rangkayo Kuciang Parsi. Namun kekuasaannya telah berakhir dikarenakan kesilapan sendiri ditambah dengan tipu muslihat oleh para oran besar yang tak begitu senang dengan kedekatan Rangkayo ini dengan Tuanku Singo Rajo Lelo.

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Kelompok binatang yang dipimpin oleh Si Merak Jinak ialah sekelompok binatang yang saling dengki, saling hasad, dan saling benci. Diantara para binatang ini terdapat beberapa ekor yang berumur lebih tua dari Merak Jinak, sehingga terkadang menyulitkan Si Merak dalam memerintahi kaumnya tersebut. Binatang-binatangnya keras kepala dan berhati batu, hanya beberapa ekor saja yang masih sehat jiwa, akal, dan hatinya. Selebihnya ialah para binatang jahanam yang sehari-hari pekerjaannya ialah menebar kebencian, permusuhan, dan fitnah.

Karena sudah tak tahan lagi dengan keadaan yang demikian, maka Merak Jinakpun akhirnya berkeputusan untuk mengumpulkan sekalian kaumnya untuk mengadakan rapat. rapat diadakan pada pagi di hari Jum’at nan elok, dengan penuh harap dengan kesucian hari Jum’at ini dapat juga mendinginkan hati dan kepala kaumnya hendaknya.

Semenjak permulaan rapat, keadaan telah berlangsung panas. Sebab terdapat beberapa ekor binatang yang selama ini terkenal dengan kekerasan sikapnya layaknya bangsa Yahudi. Tak hendak mendengarkan pendapat orang, dan kata yang didia juga yang benar dan didengar hendaknya. Mereka itu ialah kelompok Anjiang Hitam. Selama mufakat mereka selalu menyalak-nyalak dengan keras. Tujuannya ialah hendak memperlihatkan kebesaran diri dan sebagai peringatan kepada lain agar mereka jangan pernah mencoba untuk melawan. Continue reading “Rapat Para BInatang”

Antara Banak dan Otot

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Banak merupakan sebutan untuk otak bagi kami orang Minangkabau. Sering kali terdengar pernyataan “Ndak ba banak,,!” yang berarti “Tidak berotak..!” yang tentunya tak dapat kita tanggapi secara harfiah saja. Pernyataan tersebut bermakna suatu ucapan ataupun perbuatan yang dilakukan oleh seseorang yang tidak didasari kepada timbangan perasaan yang berasaskan kepada lamak diawak katuju diurang dan raso jo pareso.

Itulah yang kami dapati pada suatu ketika tatkala kami sedang mengadakan rapat dengan beberapa orang kawan perihal suatu acara yang akan diadakan oleh kantor kami. Kami menjadi ketua dari Seksi Acara dalam acara tersebut. Induk semang kami karena berdasarkan atas berbagai pertimbangan memutuskan untuk memasukkan salah seorang kawan pada seksi kami.

Kawan yang dimaksud, selama ini dikenal sebagai seorang pribadi dengan watak dan tabi’at yang kasar. Baik itu dalam ucapan maupun perbuatannya. Telah banyak mendatangkan kesusahan pada orang sekantor. Telah banyak menimbulkan kedukaan dan malapetaka terhadap beberapa orang kawan-kawan kami.

Orang ini memiliki dua orang kawan lainnya, bertiga mereka kami juluki dengan “Trio Kwek Kwek..” suatu julukan dengan maksud mencemooh. Namun tampaknya mereka bertiga tidak menyadarinya. Bertiga mereka telah menjadi pembuat masalah, selalu mencari perkara dengan kawan-kawan sekantor. Sibuk mengurusi urusan orang, menjilat atau mengambil muka kepada induk semang-indusk semang di kantor, dan lain sebagainya.

Induk semang kami sangat menyadari hal ini, dan telah susah pula hatinya melihat perkara yang tengah berlaku di kantor kami. Maka dari itu diputuskannyalah untuk memisahkan ketiga “Trio Kwek Kwek” ini yakni dengan cara memasukkan salah seorang dari mereka ke dalam seksi kami.

Namun sayang, keputusan induk semang kami tersebut tidaklah bijak. Karena yang satu dipisah sedangkan yang dua lainnya masih dibiarkan berbaur yakni di tempatkan ke dalam satu seksi yang sama, yakni Seksi Tempat dan Perlengkapan.

Menurut pendapat salah seorang kawan kami “Seharusnya induk semang kita menempatkan ketiga orang ini pada seksi yang berbeda. Pertimbangkan dengan betul-betul seksi-seksi dimana mereka akan ditempatkan. Sebab dengan menempatkan Si Binuang tersebut pada seksi engku yang jelas-jelas membutuhkan kerja otak. Tentulah akan ditolaknya mentah-mentah. Coba kalau Si Marajo di letakkan di seksi engku, tentulah keadaan akan berlainan. Apalagi antara Si Binuang dengan engku dan beberapa orang kawan-kawan kita di Seksi Acara tersebut telah terjadi berbagai macam kesalah fahaman sebelumnya..” Continue reading “Antara Banak dan Otot”