Berhati-hati dalam Memaknai

Gambar: Disini

Cupak dililih urang panggaleh, jalan diasak urang lalu (Cupak diraut oleh pedagang, jalan dialih – ditukar – orang yang lewat) – Pepatah Minangkabau

Tiada salah kiranya salah seorang kawan kami pernah berkata “Semestinya di perguruan tinggi itu dibuka satu jurusan yang bernama Jurusan Falsafah Minangakabu..”

Kata kawan kami, berbagai falsafah, pepatah-petitih, maupun curaian adat ataupun orang tua-tua di Minangkabau ini sangat kaya makna. Tidak dapat dimaknai secara tersurat saja melainkan tersirat. Adapun memaknai secara tersirat tidak semua orang dapat melakukannya.

Adapun nilai dan ajaran nan terkandung dalam ajaran falsafah Minangakabau itu tak kalah tingginya apabila dibandingkan Filsafat Yunani, Romawi, Mesir, Babilonia, India, ataupun Cina yang selama ini acap disebut-sebut dalam pembelajaran di perguruan tinggi. Namun agaknya pepatah rumput di pekarangan jiran lebih hijau dari rumput di pekarang sendiri sangat berlaku di negeri ini.

Continue reading “Berhati-hati dalam Memaknai”

Advertisements

Budaya Latah

Picture Source: Here

Ondong Aia-ondong dadak
Galak urang-galak lo awak
Nan digalak an urang, AWAK.. 
[Pepatah Minang]

Telah banyak yang memuji keindahan alam propinsi Sumatera Barat ini, dan telah banyak pula pelancong yang datang memuji-muji kemolekan alam Ranah Minang tersebut. Banyak usul saran yang masuk, kesemuanya berkata “Majukanlah dunia pelancongan (kepariwisataan) di Sumatera Barat. Dibandingkan Pulau Para Dewa, Sumatera Barat jauh lebih cantik. Hanya kalah dalam pelayanan dan pengelolaan saja..”

Maka, hampir semua kepala daerah di Sumatera Barat menjadi kan pelancongan sebagai tujuan utama (prioritas utama) dalam rancangan (program) pemerintahan mereka. Maksudnya hanya satu, pelancongan maju, maka akan besar pemasukan bagi daerah, dan pembangunan akan lebih cepat. Intinya ialah: uang masuk lebih banyak dan lebih besar dan daerah kita akan terkenal ke seantero bumi. Continue reading “Budaya Latah”

Antara Malaysia & India

Pada saat sekarang ini di salah satu stasiun televisi swasta di republik ini diputar sebuah drama seri yang berjudul Mahabarata, Hanuman, Maha Dewa, dan beberapa filem lain yang berasal dari Negeri Hindustan. Dahulu semasa kami masih kanak-kanak yakni di tahun 1990-an pernah pula diputar drama seri Mahabarata dan Ramayana, tampaknya filem yang sekarang dibuat ulang dengan para pelakon yang baru.

Tatkala melihat iklan dari filem-filem ini kami senyum-senyum saja, apalagi para pelakon mendapat ulasan pula dari beberapa media maya. Disoroti betapa cantik dan rupawannya para pemeran drama seri ini. Orang India memanglah menawan dan rupawan, apakah itu yang berkulit coklat apalagi nan berkulit putih.

Engku dan encik tentulah bertanya kepada kami “Kenapa engku tersenyum-senyum saja melihat iklan dari drama seri ini?”

Ah.. engku, terkenang oleh kami akan beberapa orang dan bahkan media yang katanya terpercaya dalam hal pemberitaan pada masa beberapa tahun silam. Dimana tuduhan “Perampokan Budaya” dituduhkan kepada negara jiran kita, tatkala berbagai hasutan saling bersahutan di media televisi dan media cetak di republik ini, tatkala semua orang yang katanya cerdas (intelek) menjadi menurun secara drastis tingkat kecerdasannya. Sungguh pada masa itu kami hanyalah geleng-geleng kepala saja dibuatnya.

Kami yakin bahwa sebagian besar media di republik ini yang sebagian besar dari mereka berkantor pusat di Pulau Jawa jua pastilah memiliki banyak daftar dari kekayaan budaya kita yang dituduh telah “dimaling” oleh orang Malaysia. Usahlah kita sebutkan ini satu per satu, karena kamipun tiada hafal pula.

Namun sangatlah lawak sekali bahwa beberapa kebudayaan yang katanya Budaya Indonesia, terutama sekali beberapa produk budaya yang berasal dari Pulau Jawa justeru merupakan hasil copy-paste dari kebudayaan asing yang dahulu pernah berjaya di Pulau tersebut. Dalam hal ini kisah Mahabarata dan Ramayana yang memiliki alur cerita yang mirip. Dan anehnya pula, belum pernah kami mendengar orang India berdemo ke Kedutaan Republik di New Delhi sambil menghujat republik ini dengan hujatan “Republik Maling..!!”. Tiada pernah terdengar, sungguh tiada pernah terdengar oleh kami.. Continue reading “Antara Malaysia & India”

Pemurtadan di Minangkabau bagian.7a

Fitanah Para SEPILIS

Tulisan ini akan kami bagi kepada dua bagian. Semoga engku dan encik berkenan..

Gambar: Internet

Yanwardi (berdiri kedua dari kanan) & Isteri (pertama dari kanan) bersama para pengurus GKN)
Sumber: Internet

Pada tulisan kami bagian ke-6 telah kami uraikan perihal tiga kelompok yang ikut memuluskan Jalannya Kristenisasi di Minangkabau ini. Pada tulisan kali ini kami hendak mencoba membahas perihal salah satu kelompok yakni Kelompok SEPILIS. SEPILIS merupakan akronim dari Sekuleris, Pluralis, & Liberalis. Sekuleris ialah orang-orang yang berkeinginan memisahkan agama dari kehidupan publik seperti politik, sosial, budaya, ekonomi, dan lain sebagainya. Agama menjadi urusan peribadi yang tak boleh dicampuri oleh seorangpun.

“Baik dan salah itu semua berpulang kepata Tuhan, sebab Tuhanlah yang berhak menghukum seseorang.. ” begitulah pendapat mereka.

Sedang Pluralis ialah orang-orang yang berideologi menghargai perbedaan, kebanyakan orang yang mengaku beragama Islam dapat hidup berdampingan dengan mesrta bersama orang berlainan agama. Namun dengan orang segama mereka sangat benci. Padahal mereka mengaku berideologi Pluralis. Pluralis di Indonesia juga berarti bahwa Umat Islam harus menghormati perbedaan dengan umat lain sedangkan umat agama lain tak perlu menghormati Islam.

Liberalis ialah suatu ideologi yang menjunjung tinggi kebebasan terutama kebebasan berpendapat, berekspresi, berorganisasi, dan lain sebagainya. Kebanyakan dari mereka ialah orang yang memandang biasa Gamabr Seronok (porno), boleh mencaci-maki suatu agama, orang, atau organisasi, dan lain sebagainya.

Kawan kami kata “Mereka ini ialah orang-orang sakit jiwa agaknya. Kenapa dibairkan saja lepas begitu saja oleh orang..?!”

Kami hanya tersenyum mendapat pertanyaan serupa itu, sebab kamipun sama herannya dengan kawan kami ini.

Dalam menyikapi Kristenisasi ini para SEPILIS justeru menyalahkan orang Minangkabau dan membela para Murtadin dan Tukang Murtadnya (Misionaris). Kata mereka “Agama itu tak dapat dipaksa, itu ialah urusan pribadi antara manusia dengan tuhan. Tiada seorangpun boleh memaksa..”

Benar kata mereka, tapi bukankah orang Minangkabau yang murtad itu mengalamai paksaan secara mental. Paksaan tidak mesti dihardik, ditangani (dipukul, fisik), berbagai bentuk intimidasi lainnya. Dapat juga dijalankan secara halus dengan memberikan penawaran kepada Si Muslim. Bukankah hal yang demikian yang terjadi?

“Jadi sebaiknya kalian para SEPILIS menghadapkan muka kepada para Misionaris Kristen bukan kepada kami. Yang kami lakukan ialah membela hak kami, saudara kami, dan sekalian orang di Alam Minangkabau ini..” jawab salah seorang kawan kami.

Ada pula yang berpendapat “Boleh-boleh saja menggunakan Bahasa Minang karena bahasa bersifat umum. Siapapun boleh menggunakan Bahasa Minang; si kapia, si ateis, si SEPILIS, termasuk orang Cina di Padang dimana mereka diantara mereka ada yang lebih fasih bercakap Minang jika dibandingkan dengan beberapa orang Padang”

Pernyataan ini dijawab oleh salah seorang kawan kami “Harap engku bedakan dengan bercakap-cakap yang kita sebut dengan Bahasa Lisan dengan Bahasa Tulis. Dalam bercakap tentulah boleh, mana dapat kita larang orang bercakap menggunakan bahasa kita. Apalagi dia telah belajar dan pandai, justeru bangga kita melihatnya. Banyak saya dapati betapa bangganya orang Minangkabau tatkala mendengar dan melihat seorang Bule pandai bercakap Bahasa Minangkabau.”

“Namun apabila menggunakan Bahasa Tulis seperti di dalam Injil untuk tujuan keagamaan. Dimana tujuan keagamaan disini ialah bukan untuk kepentingan dari Agama Islam yang merupakan agama resmi Orang Minangkabau. Maka hal tersebut tidak dapat dibenarkan. Apabila dikerjakan juga maka itu sama dengan pelecehan kepada Adat dan Agama kami orang Minangkabau..”terang kawan kami.

Kemudian pertanyaan lainnya “Apa betul bahwa simbol-simbol adat (budaya) tersebut hanya milik orang Minangkabau yang beragama Islam..?”

Kami hanya tergelak mendengar pertanyaan tersebut. Sebab sangat terang sekali hanya mencari-cari, tak ada lagi yang dapat ditanya, telah habis peluru di bedil akhirnya bedil itu yang dipungkangi ke muka lawan.

Kawan kamipun menjawab “Bukankah para peneliti telah melakukan pemetaan terhadap budaya Minangkabau ini. Dan dari penelitian tersebut dapat dipastikan bahwa seluruh kawasan yang menganut kebudayaan Minangkabau ialah orang-orang yang beragama Islam..” Continue reading “Pemurtadan di Minangkabau bagian.7a”

Pemurtadan di Minangkabau bagian.5

Yanwardi (Eks Minangkabau)

Kiri: Yanwardi (Eks Minangkabau)

Jika bercakap perihal pemurtadan atau kristenisasi maka sebagian besar dari kita akan terkenang akan satu sosok yang bernama Yanwardi. Dia adalah seorang Mantan Minangkabau yang berasal dari Lubuak Basuang Kabupaten Agam, dahulunya bersukukan Koto. Dia memiliki seorang nenek yang telah hajah yakni Oemi Kalsum dan ibunya bernama Saumil Warsih, kedua-duanya telah almarhum. Dalam keseharian dia menyematkan nama sukunya di belakang namanya sehingga menjadi Yanwardi Koto. Anak-anaknyapun diberi nama belakang yang sama yakni Koto pula. Anak-anaknya tersebut ialah Zedi Koto dan Zecha Koto, sedangkan isterinya bernama Yanthie Gouw seorang perempuan dari Manado Sulawesi Utara.

Pendeta Yanwardi

Pendeta Yanwardi

Sebenarnya terdapat sekitar 30-an orang pendeta Nasrani yang dahulunya ialah orang Minangkabau. Namun yang berhasil kami dapatkan nama-namanya hanyalah empat orang saja yakni:

1. AKMAL SANI, asal Koto Baru Pangkalan, Kabupaten Limo Puluah Koto.

Dia  merupakan tokoh dibalik INJIL Berbahasa Minang. Pendiri dan Ketua PKSB, yaitu: Persekutuan Kristen Sumatera Barat (PKSB).

2. YANUARDI KOTO, asal Lubuk Basung, Kabupaten Agam.

Ungu ialah salah satu warna kebesaran dari Gereja Kristen. Merupakan warna tergelap dalam Gereja dan memiliki makna pertobatan yang sungguh-sungguh. Untuk lebih jelas silahkan dilihat di: http://viktorabadiwaruwu.blogspot.com/2010/01/arti-simbol-simbol-dan-warna-dalam.html

Para Jemaat Gereja Kristen Nazarene Rantau Jakarta
Ungu ialah salah satu warna kebesaran dari Gereja Kristen. Merupakan warna tergelap dalam Gereja dan memiliki makna pertobatan yang sungguh-sungguh.
Untuk lebih jelas silahkan dilihat di: http://viktorabadiwaruwu.blogspot.com/2010/01/arti-simbol-simbol-dan-warna-dalam.html

Ketua Yayasan Sumatera Barat yang berkantor di Jakarta. Yayasan ini berfungsi sebagai lembaga pencari dana dari Luar Negeri dan pengartur MISI/ manajemen pemurtadan. Orang inilah yang berada di balik malapetaka yang menimpa Wawah pada tahun 1999.

3. SYOFYAN asal LINTAU, Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar. Pimpinan Sekolah Tinggi Teologia (STT) milik Doulos World Mission (DWM)[1] Amerika, yang berada di desa terpencil di bilangan Majalengka, Jawa Barat. Sekolah ini merupakan pusat pendidikan dan pembinaan Pendeta untuk Kristenisasi di Minangkabau abad ke 21. Paling tidak (DATA 2005) sudah 623 orang anak Minang yang sudah dikristenkan sejak tahun 2000. Mereka disebar di Pulau Jawa, diasramakan, disekolahkan, dikuliahkan, dimodali berdagang, dihidupi, dst.

Paduan Suara kanak-kanak yang mengiri ritual agama nasrani di Gereja mereka.

Paduan Suara kanak-kanak pada Gereja Kristen Nazarene Rantau Jakarta yang mengiri ritual agama nasrani di Gereja mereka.

4. MARDJOHAN RASYID, asal Sawahlunto. Pimpinan PKSB, yaitu: Persekutuan Kristen Sumatera Barat.[2]

Sungguh sangat mengejutkan tatkala mendapat kabar buruk berupa malapetaka ini. Seperti apakah negeri yang akan kita tinggalkan untuk anak kamanakan kita nantinya duhai engku dan encik sekalian.

Karena sulit bagi kami untuk mendapatkan data-data perihal para pendeta yang lain maka untuk kali ini akan kami coba membahas perihal Sang Murtadin Yanwardi. Sekarang murtadin ini telah menjadi pendeta dan sangat giat dalam melakukan misinya terutama sekali kepada perantau orang-orang Minangkabau di Sumatra Barat.  Selain memiliki yayasan, dia juga mendirikan[3] Gereja Kristen Nazarene[4] Rantau Jakarta atau biasa disingkat GKN Rantau Jakarta.[5] Juga ada Gereja Kristen Rantau Padang namun tampaknya mereka memiliki kepengurusan yang sama.

Afolo Waruwu & Yanwardi.

Afolo Waruwu & Yanwardi.

Gereja ini menggunakan simbol-simbol Minangkabau dalam melaksanakan upacara keagamaan mereka seperti menggunakan beberapa ukiran khas Minangkabau pada ruangan kebaktian mereka. Menggunakan pakaian adat Minangkabau, simbol-simbol rumah gadang, dan lain sebagainya. Gereja inilah yang menjadi tempat Yanwardi “menggembalakan domba-dombanya” yang tersesat. Termasuk di dalamnya anak dan isterinya.

Yanwardi memiliki seorang kawan yakni sepasang suami isteri. Si suami juga seorang pendeta gereja di Padang. Namanya lelaki tersebut ialah Afolo Waruwu dan isterinya ialah Mei S.K.Hardjolelono. Pasangan ini bersama Yanwardi tampaknya berkawan dekat.

Yanthie (Isteri Yanwardi) & Mei (Isteri Afolo)

Yanthie-Isteri Yanwardi (kiri) & Mei-Isteri Afolo (kanan)

Walaupun begitu kami sangatlah sangsi bahwa anggota jemaat gereja GKN Rantau Padang atau Jakarta sepenuhnya orang Minangkabau. Sebab kami sangat yakin bahwa etnis Batak justeru lebih banyak mendominasi bersama etnis lainnya.[6]

Beberapa waktu lalu menyebar foto Yanwardi dengan memakai pakaian kebesaran seorang penghulu dalam melaksanakan ritual agamanya di gereja. Hal ini tentulah sangat menyakitkan bagi sebagian besar orang Minangkabau. Namun begitu hal serupa ini telah berlangsung lama namun baru mengemuka sekarang.

Segelintir fihak (orang Minangkabau) yang berideologikan SEPILIS mempertanyakan kemarahan tersebut. Sebab menurut mereka belum ada hitam di atas putih, atau suatu produk hukum yang jelas-jelas menyatakan bahwa seluruh simbol-simbol Adat Minangkabau tidak boleh dipakai oleh penganut agama lain, atau dipakai dalam ritual ibadah agama lain. Continue reading “Pemurtadan di Minangkabau bagian.5”