Muslim Berstandar Ganda?

Salah satu status di Akun yang kami sangka selama ini Islami.

Salah satu Propaganda di status pada salah satu Akun yang kami sangka selama ini Islami.

Oleh: Jonru

Di Indonesia, ada sejumlah umat Islam yang menyerukan kita agar patuh pada pemimpin, walau ia pemimpin yang dzalim. “Kita harus sabar dan mendoakannya,” ujar mereka.

Namun anehnya:
Orang-orang yang berpendapat serupa ini justeru mendukung kudeta terhadap Mursi, Presiden Mesir. Padahal Presiden Mursi terbukti sebagai Presiden Islami yang sangat kukuh dan kuat keinginannya untuk menegakkan Syiar Islam. Continue reading “Muslim Berstandar Ganda?”

Advertisements

Jawapan atas cemoohan SEPILIS

Iman ialah tumpuan utama. Jika sudah ada keraguan, pertanda iman sedang digoyahkan. Bulatkan Tekad dan Berbaik Sangkalah kepada Islam Ilustrasi Gambar: Internet

Iman ialah tumpuan utama. Jika sudah ada keraguan, pertanda iman sedang digoyahkan. Bulatkan Tekad dan Berbaik Sangkalah kepada Islam
Ilustrasi Gambar: Internet

Kami pernah bercakap-cakap dengan dua jenis orang yakni seorang sosialis dan seorang lagi ialah Sepilis.[1] Pokok percakapan kami ialah sama yakni perihal Islam, Syari’a, dan Khilafah. Kami bercakap-cakap dengan waktu yang berlainan, namun kedua orang ini tampaknya sefaham dalam menyerang ideologi Islam.

Pertama mereka sama-sama mencemooh perihal keadaan umat Islam yang katanya anti kepada Barat & Yahudi namun segala macam produk hasil dari kebudayaan dan ilmu pengetahuan mereka masih tetap saja dipakai oleh orang-orang Islam “Kalian memakai Handphone, Laptop, Tablet, Internet, Sepatu dan Pakaian dengan mereka Nike, ..!”

Kamipun menjawab “Pertama, Soal memakai segala macam produk hasil kebudayaan dari Barat. Apakah ada dalil yang kuat yang dapat engku kemukakan bahwa apabila kita membenci suatu golongan maka kita jauhi dan buang segala yang ada pada mereka? Saya benci akan engku bukan berarti anak-isteri, karib-kerabat dari engku juga saya benci dan musuhi, bukankah begitu? Yang saya bencikan hanyalah engku seorang”

“Dan juga, kalau bolelah kami ingatkan kembali bahwa orang-orang kafir di Barat sana juga sangat benci akan Agama Islam. Namun kenapa buku-buku karangan Cendikiawan dan Ilmuwan Terkemuka Islam pada Abad Pertengahan mereka pakai juga? Kenapa mereka masih menggunakan buku-buku Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, al Biruni, dan masih banyak lagi yang lain? Kalau mereka memang benci akan Islam seharusnya mereka tidak boleh menggunakan Logaritma, Kalkulus, Angka Nol dan angka-angka sekarang, meminum kopi, dan lain sebagainya..” Continue reading “Jawapan atas cemoohan SEPILIS”

Bahaya Mulut

Ilustrasi gambar: Internet

Ilustrasi gambar: Internet

Sering kita lihat orang berdebat mengenai beragam persoalan. Ada yang tenang, sabar, dan lapang hatinya namun ada pula yang keras, tak mau mengalah, merasa benar, dan pantang untuk disanggah. Lebih banyak jenis orang kedua dibandingkan yang pertama kami temui dalam kehidupan ini engku dan encik sekalian.

Begitulah, orang sekarang banyak yang sempit hatinya, keras jiwanya, kasar wataknya, dan tajam mulutnya, makan hati kita dibuatnya. Apa hendak dikata, pabila dilawan kita yang sengsara, namun pabila dibiarkan, kita pula yang merana. Serba salah dibuatnya..

Sudah semenjak lama kami kagum dengan orang jenis pertama, sabar dan lapang hati, serta tenang pembawaan dirinya. Dahulu semasa kuliah kami memiliki dosen yang seperti ini, selalu tenang dan sabar dalam menghadapi mahasiswa yang sok hebat dan sok tahu segala persoalan.

Namun kebanyakan orang semacam ini suka dilindas oleh orang-orang jenis kedua yang menurut kawan kami merupakan jenis orang tak berakal. Kenapa dikatakan tak berakal? Sebab dalam berbicara, bersikap, dan berbuat mereka tidak menggunakan kepala mereka. Orang tua-tua di Minangkabau pernah berpetuah, fikirkanlah dahulu apa yang hendak kamu sampaikan namun janganlah kami sampaikan apa yang sedang terfikirkan. engku tentunya faham apa maksud dari petuah tersebut.

Namun kebanyakan orang-orang menganggap diri mereka selalu benar dan orang lain selalu salah. Walaupun jelas-jelas dirinya yang salah namun karena kepandaiannya dalam berbicara, bermain kata, dan memutar-mutar logika maka akhirnya yang di dia jugalah yang lalu. Orang jenis inipun sangat banyak dan selalu kami temui dalam setiap kesempatan. Hatinya penuh tipu muslihat dan tidak ada rasa ikhlas yang timbul di hati orang jenis ini.

Dalam Dunia Islam segala macam perselisihan dan perdebatan telah lama terjadi dan bahkan telah menjadi tradisi. Namun orang-orang dahulu punya pandangan yang arif dalam menyikapi hal tersebut yakni, Pendapat saya benar, namun mengandung kemungkinan salah. Dan pendapat selain saya salah, namun mengandung kemungkinan benar. Bagaimana menurut tuan? Continue reading “Bahaya Mulut”

Keledai Dungu

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Akhir-akhir ini, sangat ramai sekali pemberitaan mengenai banjir yang melanda Jakarta. Televisi, radio, koran, ataupun majalah membahas menenai banjir ini. Berbagai macam pendapat dari beragam ahli dimuat dan diulas oleh beberapa media. Namun sayangnya, berbagai pendapat tersebut tidak berdampak apa-apa terhadap banjir yang sekarang ini sedang melanda.

Padahal kalau aku tak salah, tahun lalu pendapat para ahli juga serupa dengan yang ini..” Sergah kawan kami pada suatu ketika.

Hee.. kami hanya terdiam pandir, karena memang kami pandir, tak faham mengenai ini. Memang kami sangat merasa aneh sekali. Hampir setiap tahun banjir melanda Jakarta namun kok tak ada tindakan yang dilakukan untuk mengurangi dampaknya? Namun, hal tersebut tetaplah tersimpan sebagai sebuah pertanyaan dari orang pandir semacam kami ini. Continue reading “Keledai Dungu”

de Inlanders

tumblr_makbnmnrcn1r30u3wo1_400

Gambar Ilustrasi: Internet

Pagi ini kami mendapat telpon dari seorang kawan. Suaranya meninggi dan ada keluhan padanya ” Ada apa engku..?” tanya kami.

“Ah.. ampuuun.. pasai* saya dibuatnya engku. Semua orang membicarakannya, dimana-mana, hingga ke sudut-sudut rumah. Saya hendak mempercepat keberangkatan engku, saya kira kalau pulang dapat menenangkan hati. Tapi, di kampung orang belagak sok ke kota-kotaan. Sungguh memalukan para inlander** ini..” Keluhnya dari seberang sana.

Kami hanya terdiam, memang benar. Beginilah nasib yang harus ditanggung kalau kita sudah melepaskan keawaman kita. Cara kita memandang, cara kita memaknai, cara kita memahami, cara kita menafsirkan segala sesuatu (fenomena) yang terjadi tentunya berbeda dengan kebanyakan orang-orang (Orang Awam). Orang banyak (awam) hanya memandang, lahir dan membaca yang tersurat, tergesa-gesa dalam memutuskan segala sesuatu tanpa didasari oleh usul-periksa terlebih dahulu. Sedangkan orang-orang yang telah arif dalam memandang setiap kejadian (fenomena) juga memandang yang bathin, mencari yang tersirat, serta menelaah, menyidiki, dan memeriksa betul-betul setiap kejadian (fenomena) dan keterangan (informasi) yang terdapat di dalamnya. Continue reading “de Inlanders”