Tak hanya disana, disini juga ramai

Picture: Here

Dihari pertama Hari Raya di tahun Syawal 1437 (5 Juni 2016) ini kami sangat penasaran dengan apa nan tengah berlaku di Bandar Padang. Tentulah menarik hati mengingat Sang Raja telah memaklumatkan akan Shalat Ied di bandar tersebut.

Konon kabarnya, Masjid Raya yang menjadi tempat berhelat sangatlah ramainya, penuh sampai ke halaman ada nan tiada mendapat tempat bagai orang nan hendak shalat. Demikianlah salah satu kabar nan kami dapatkan. Tersenyum saja kami mendengarkannya. Continue reading “Tak hanya disana, disini juga ramai”

Advertisements

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H

Salah satu pemandangan di kampung kami

Salah satu pemandangan di kampung kami

Selamat Hari Raja Aidil Fitri

Assalamoe’alaikoem..

A

 doehai segala teman dan saoedara

da disini ataoe disana

koe  oetjapkan selamat Hari Raja

dik dan kakak samboet kiranja

 Aduhai segala teman dan saudara

Ada disini atau disana

Akoe ucapkan selamat hari raya

Adik dan kakak sambut kiranya

L

 ahir dan bathin harap ma’afkan  Lahir dan bathin harap ma’afkan

Lenyapkan dari dalam ingatan

Lepaskan jauh ke laut Sailan

Luput hendaknya dari dalam badan

enjapkan dari dalam ingatan
epaskan jaoeh ke laoet Sailan
oepoet  hendaknja dari dalam badan

A

 ssalamu’alaikum saroean saja  Assalamu’alaikum seruan saja

Adik dan kakak sekalian saudara

Aku ucapkan selamat Hari Raya

Akan penemui yang jauh dari saya

dik dan kakak sekalian saoedara
koe oetjapkan selamat Hari Raja
kan penemui jang jaoeh dari saja

O

 lok dan garah wahai sahabat  Olok dan garah wahai sahabat

Omong bicara kata terlompat

Orongkan sekarang sedapat-dapat

Oesah disimpan sampai berkarat

mong bitjara kata terlompat
rongkan sekarang sedapat-dapat
oesah disimpan sampai berkarat

E

 ngkoe dan entjik ajah dan oemi  Engku dan encik ayah dan umi

Enyahkan segala kesalahan kami

Entah diluar baik di hati

njahkan segala kesalahan kami
ntah diloear baik di hati

 

ALAOE =  ALAU

Dari koran Sinar Sumatera S S yang terbit pada tahun 1926 di Sumaetra Barat

Hari Raya Kali Ini

Gambar: Internet

Gambar: Internet

Hari raya telah hampir pula sepekan berlalu, bagi kebanyakan orang kami tengok sudah sibuk pula dengan kegiatan harian mereka. Tak ada lagi berhari raya, bagi mereka hari raya ialah sebatas masa cuti bersama saja. Namun tidaklah demikian bagi kami, karena bagi kami hari raya hingga kini masih terasa. Telah beberapa tahun ini selalu terjadi, yaitu suatu perasaan sedih yang tak berkepalangan menghujam hati. Seolah mengalami perpisahan dengan kekasih hati yang teramat dicintai..

Bagi kami di Minangkabau, sepekan selepas hari raya besar ada pula disebut oleh orang Hari Rayo Anam (Hari Raya Enam). Yaitu sepekan selepas hari raya pertama, dimana orang-orang saling mengunjungi karib kerabat mereka yang tak sempat dikunjungi ketika hari raya besar sepekan yang lalu. Biasanya kaum perempuanlah yang sangat sibuk sebab mereka harus mempersiapkan hantaran adat berupa limpiang, sipuluk (beras ketan), pinyaram, kue loyang, kalamai, dan godok.

Hantaran adat tidaklah wajib sifatnya sebab pada masa sekarang di kampung kami telah ada yang diubah orang. Cukup dengan membawa Kue Gadang saja sebagai pengganti semua makanan tradisional tersebut. Selain biaya yang cukup besar karena beragamnya jenis makanan yang dibawa, juga dikhawatirkan makanan tersebut tidak akan habis dimakan oleh orang. Sebab pada masa sekarang sudah banyak pula makanan lain yang diminati. Berlainan dengan masa dahulu dimana hanya makanan tersebut yang ada dan suka tak suka akan dimakan oleh orang kampung.

Para lelaki juga ikut datang bersama isteri atau saudara perempuan mereka. Namun mereka lebih santai karena yang sibuk menyiapkan segala keperluan untuk menziarahi rumah kerabat ialah kaum ibu. Continue reading “Hari Raya Kali Ini”

Kembali ke Asal

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Telah lama terfikirkan, memanglah kami orang yang terlalu banyak berfikir sehingga mudah stress, akibatnya badan ini kurus dibuatnya. Engku dan encik tentunya bertanya apa gerangan yang kami fikirkan?

Tak pula begitu berat, masih perkara hari raya yakni “mudik”. Mudik merupakan bahasa asli Melayu, dipakai oleh hampir setiap Puak[1] Melayu. Termasuk oleh kami Orang Minangkabau, kata mudiak biasanya disandingkan dengan kata hilir. Ada juga yang memakai kata hulu, yang merupakan sinonim dari kata mudia atau mudik. Hulu atau mudiak (mudik) berarti panggkal, tempat bermulanya, atau tempat berasalnya.

Dalam kebudayaan Orang Melayu, kata mudiak dan hilir biasanya mengacu kepada sungai atau orang Minangkabau mengenalnya dengan batang aia. Hulu  atau mudiak merupakan tempat berawalnya aliran air sungai, tempat sumber dari air sungai tersebut. Mudiak kadang kala bermakna “atas/bagian atas” karena sungai atau air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah,

Sedangkan hilir atau hilia bermakna bawah ataupun ujung. Dapat juga bermakna tempat kemana berakhir, berujung, atau tujuan.

Bagi orang Minangkabau, kata hulu/mudiak dan hilir digunakan sebagai pembeda kawasan negeri mereka (geografi) seperti Talawi Mudiak dan Talawi Hilir di Kecamatan Talawi Kota Sawahlunto atau Kamang Mudiak dan Kamang Hilia yang merupakan dua nagari di Luhak Agam, 12 Km dekat Kota Bukittinggi.

Pada masa sekarang, kata mudiak sangat sering sekali terdengar oleh kita, terutama ketika mendekati Hari Raya. Dimana banyak orang pulang kampung dikatakan mereka pergi “mudik”. Agaknya penamaan ini telah berlangsung lama, sebab kalau kita cermati Bahasa Melayu Indonesia sekarang telah banyak terkontaminasi oleh Bahasa Non Melayu. Continue reading “Kembali ke Asal”

Berhari Raya bukan Berpesiar..

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Barhari raya bagi kita umat Islam sebenarnya memiliki banyak makna, makna yang paling utama dan sangat penting sesungguhnya ialah memperpanjang tali silaturahim. Memang demikianlah yang diajarkan oleh nabi kita, oleh agama kita. Idul Fitri ialah masanya untuk saling menziarahi, bertanya kabar, dan saling memaafkan kekhilafan yang pernah terjadi dalam pergaulan hidup kita.

Bagi orang Minangkabau, Idul Fitri ialah kesempatan yang langka. Sebab pada masa ini, dapat kita saksikan salah satu pertautan antara agama dan adat, seperti yang telah dikatakan oleh orang tua-tua di kampung kita bawah sesungguhnya Agama dan Adat itu ialah Berbuhul Mati.

Pada saat hari raya inilah kita dapat datang ke rumah karib-kerabat. Saling bersuka-ria, saling memaafkan, saling bertanya kabar, bersenda-gurau, serta makan dan minum di rumah dunsanak. Engku dan encik tentunya akan bertanya “Memangnya hal serupa itu tak boleh dilakukan pada hari lain engku..?”

Kami akan menjawab ”Tentunya boleh engku dan encik sekalian, namun tentulah rasa dan makna yang dibawa berbeda pula. Biasanya ziarah ke rumah kerabat dilakukan oleh keluarga kita yang jauh di rantau. Tatkala mereka pulang, maka mereka akan mendatangi rumah karib-kerabat bertanya kabar dan bersilaturahim..”

Itulah yang berlaku di luar hari raya, namun pada saat hari raya tidak hanya kerabat dari rantau saja yang pergi bertandang ke rumah kerabat di kampung. Melainkan sesama kerabat yang tinggal di kampungpun akan saling menziarahi. Apabila hal tersebut dilakukan di luar hari raya, maka orang-orang akan bertanya-tanya “Ada apa pula, apa gerangan yang telah berlaku. Kenapa dia menatiang pinggan pergi ke sana..?”

Terkadang dua hari pada Idul Fitri tidaklah cukup bagi kita untuk menziarahi rumah karib-kerabat tersebut. Terkadang bertukuak[1] juga dengan hari ketiga, keempat, atau kelima. Kalau di kampung kami ada yang disebut orang dengan “Hari Rayo Anam”[2] yang jatuh pada tujuh hari selepas hari pertama hari raya. Pada Hari Raya Anam inilah rumah kesempatan untuk mendatangi rumah kerabat yang tidak sempat diziarahi. Biasanya kaum ibulah yang banyak berkunjung ke rumah kerabat.

Terkadang tidak jua cukup hari yang sepekan itu, maka ada juga yang datang pada hari ke delapan dan selanjutnya. Hal ini karena di kampung kami ialah “Wajib Hukumnya untuk Makan” di rumah kerabat. Apabila tak hendak makan, maka kita akan kena marah, pertanda hubungan telah jauh. Biasanya para nenek, maktuo, ataupun orang-orang tua yang masih memegang teguh Adat Lama akan merasa tersinggung apabila kita tidak mengecap nasi di rumah mereka. Continue reading “Berhari Raya bukan Berpesiar..”

Adakah Empati untuk Mereka

 Lebaran & Rohingya

Sudah sepekan Hari Raya berlalu tuan, bagaimana kiranya perasaan hati tuan? Adakah senang bahagia atau malah sedih tak berupa. Namun yang pasti sejauh pengamatan kami semua orang berbahagia, tempat liburan sangat ramai dikunjungi, dan orang-orang jadi pemurah. Kenapa kami katakan pemurah tuan? Coba saja tuan tengok banyak anak-anak yang mendapat salam tempel kemudian banyak juga rumah-rumah yang menjamu tamunya dengan beragam jenis makanan. Suatu kejadian yang takkan didapat pada hari biasa.

Tapi pernahkah terfikirkan oleh tuan bagaimana kiranya cara orang lain merayakan Hari Raya ini? Maksud kami ialah seperti orang-orang tak berpunya, bagaimana caranya mereka dapat menjamu tamu, memberi kanak-kanak uang jika untuk diri dan keluarga saja mereka sudah kepayahan? Tentunya Hari Raya merupakan hari yang tidak dinanti sekaligus dibenci oleh mereka ini.

Bagaimana pula gerangan saudara-saudara kita yang sedang dizhalimi, seperti di Palestina, Irak, Afghanistan, Somalia, Kashmir, Rohingya (Myanmar), Mindanao (Filipina), Pattani (Thailand) dan di beberapa Negeri Islam yang Tertindas lainnya? Pernahkan tuan berfikir seperti apa perasaan mereka? Continue reading “Adakah Empati untuk Mereka”