Para Mutan Minang

Tokoh Dracul yang diputar-balikkan sosoknya pada filem terbaru tentang dirinya yang berjudul “Dracula Untold”. Yang Jahat menjadi Baik dan Yang Baik menjadi Jahat di Filem ini. Ada kesamaan, serasa mengalami De Ja Vu kami dibuatnya,,[Picture: Here]

Akhirnya Sang Raja sampai juga ke Minangkabau ini “dengan membawa seluruh keluarganya” kata salah satu media nan kami baca. Sungguh kami heran, gerangan apa nan mendorong Dia untuk datang ke negeri ini? Menang ataupun kalah ia tiada akan berarti sebab suara orang Minang ini tiada seberapa dan tiada menentukan. Lebih menentukan suara di Jawa.

Akal apa yang sedang dijalankannya? Atas saran dari siapakah langkah politik nan satu ini? Siapa nan memberi ide? Continue reading “Para Mutan Minang”

Advertisements

Geliat Komunis di Padang

pki_4

Gambar dari Halte Trans Tunggul Hitam Kota Padang

Kami mendapat beberapa buah gambar dari salah seorang di Bandar Padang. Terkejut kami dibuatnya oleh gambar ini, walau sudah mengira bahwa Komunis akan bangkit dalam masa pemerintahan rezim sekarang namun tetap saja kami terkejut. Apalagi kami beberapa masa yang silam telah mendapat pula vidio dari seorang kawan periihal Lagu Hymne Partai Komunis Indonesia (PKI) yang tanpa rasa segan dan takut diedarkan oleh orang-orang di fesbuk ataupun youtube.

Gambar tersebut diambil oleh kawan kami pada salah satu Halte Bus Trans Padang, tepatnya ialah di Halte Tunggul Hitam.

Terkenang akan masa sebelum perang dengan Komunis[1] dahulu, Kolonel Dahalan Djambek memprakrasai membentuk sebuah organisasi yang dinamai dengan GEBAK kepanjangannya ialah Gerakan Bersama Anti Komunis. Sungguh suatu sikap yang berani dan patut kita tiru, sebab ketika itu Komunis sedang sangat berpengaruh di Jakarta.

GEBAK didirikan untuk menghadapi aksi propaganda dari Organisasi Pemuda Rakyat (OPR) yang merupakan Sayap Kepemudaan Partai Komunis Indonesia. Continue reading “Geliat Komunis di Padang”

Kembali ke masa Silam

Ilustrasi Gambar; Internet

Ilustrasi Gambar; Internet

Telah keluar putusan dari pengadilan tertinggi di republik ini, keputusan mereka ialah “menolak dakwaan dari fihak Si Wahid” maka dengan keluarnya keputusan tersebut maka teranglah bagi kita bahwa Si Sani akan menjadi presiden di republik nan malang ini. Para pendukung Si Sani bersorak-sorai kegirangan, mereka mencemooh para pendukung Si Wahid seperti salah seorang orang kampung kami yang tinggal di rantau yang merupakan pendukung Si Sani yang memuat sebuah postingan di akun febuknya “Sebaiknya Si Wahid mencalonkan diri untuk  menjadi Gubernur di Sumbar atau Jawa Barat karena dia menang di sana..” sembari menyertakan tautan sebuah link.

Salah seorang engku berkata kepada kami jauh-jauh hari tatkala dakwaan dari Si Wahid masih hangat di pengadilan tertinggi di republik ini, begini kata engku tersebut “Kemungkinan agaknya akan kalah gugatan Si Wahid ini..”

“Kenapa engku..?” tanya kami.

“Karena diantara Hakim Besar terdapat salah seorangnya mantan anggota partai dimana partai tersebut merupakan partai tempat asal dari calon wakil Si Wahid. Apabila gugatan ini dimenangkan maka fihak Si Wahid maka bisa saja akan muncul tuduhan bahwa adanya kecurangan karena salah seorang hakim dahulunya pernah menjadi salah seorang pimpinan di partai calon wakil Si Wahid..” jelas si engku

Setelah kami amati benar-benar memanglah terdapat salah seorang putera Nagari Pauh di Bandar Padang yang menjadi salah seorang Hakim Besar. Kamipun ketika itu sudah mulai cemas “Akan gagal agaknya dakwaan dari fihak Si Wahid ini agaknya..” dan memang demikianlah adanya. Continue reading “Kembali ke masa Silam”

Hasutan Kaum Munafiqun

Sumber Gambar: Internet

Sumber Gambar: Internet

Pada suatu ketika kami, dengan beberapa orang kawan duduk-duduk di Kapalo Banda melepas penat. Engku Sutan Pamenan berujar “Terdengar oleh saya bahwa permasalahan Salamak di Padang tak hendak surut agaknya. Seberapa keras orang monolaknya, sekeras itupula orang-orang munafiq itu mendukungnya..”

Engku Malin Batuah pun menanggapi “Memang demikianlah engku, seperti kata orang kampung kita; sebanyak orang saya, sebayak itu pula orang benci. Apatah ini perkara investasi, perkara uang ini engku-engku..”

“Benar demikian kiranya, agaknya pada masa sekarang sebagian orang Minangkabau telah banyak yang bertukar tempat berpijak. Perkara yang terpantang menjadi biasa, yang harampun dapat mereka halalkan. Cobalah engku-engku tengok saja pada masa sekarang, banyak anak gadis berpakaian sempit dbiarkan, telah pula berani anak bujang datang bertandang ke rumah seorang anak gadis. Anehnya, orangtuanya menyabut dengan senang, bangga mereka memiliki seorang anak gadis yang cantik..” jawab Engku Sutan Pamenan mencemoooh.

Kamipun terdiam, berbagai bantahan dan jawapan diberikan oleh golongan pendukung investasi ini. Kami yang pandir ini, yang tak mengikuti dengan baik segala perkembangan sudah dapat merasakan ada yang aneh dalam hati kami ini tatkala mendengar kabar perihal investasi tersebut. Ada sesuatu yang sedang mengancam Minangkabau yang tengah bersiap-siap henak datang, menerkam saja lagi.

Tiba-tiba engku Sutan Rumah Panjang bertanya “Apakah Sutan Malenggang termasuk kepada golongan Kaum Munafiqun itu engku-engku..”

Kami semua terdiam, kami kembali terkenang akan kepongahan Sutan Malenggang sepekan yang silam. Entah kenapa tiba-tiba Engku Malin Batuahpun bertanya “Engku-engku sekalian, bukannya saya hendak mendukung investasi dari orang kafir ini. hanya saja pertanyaan ini muncul tatkala kami mendengar orang bercakap-cakap di balai. Memanglah orang rantau yang merasa dirinya lebih dari kita jua yang mengemukakan.”

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

“Apa katanya: Darimana kita semua yakin bahwa segala demo yang terjadi serta segala penolakan yang mengemuka tersebut benar-benar berasal dari hati yang bersih ingin memperjuangkan agama dan adat kita..? Banyak kepentingan, ada saudagar, ada pula politikus, dan tentu saja ada ahli-ahli agama dan ahli adat. Walau kami pandangi ahli-ahli adat ini sangat jarang terdengar suara mereka perihal Salamak ini. Selain itu kalau memang takut agama kita yang akan terancam, lalu kenapa orang-orang Cina, Batak, Nias, Jawa, dan lain-lain bangsa yang tidak beragama Islam dibairkan tinggal di propinsi ini. Bukankah itu sama saja dengan membuka diri pada pintu pemurtadan..?!..”

“Mendengar pernyataan tersebut saya terdiam, muncul beberapa pertanyaan di hati kami ini dibuatnya. Dapatkah engku-engku menolong kami perihal ini..?” kata Engku Malin Batuah.

Kamipun terdiam, sungguh sangat rumit sekali segala permasalahan yang terjadi di kehidupan ini. belum lagi tipu-daya serta muslihat yang bercampur di dalamnya.

Engku Sutan Pamenan kemudian menjawab “Memanglah benar engku, banyak kepentingan. Serupa dengan PRRI dahulu. Tidak semua orang Islam di Minangkabau ini yang terlibat akan tetapi juga ada para Sosialis yang berada di bawah pimpinan Sutan Syahrir, ada pula para Liberalis yang diwakili oleh Sutan Takdir Ali Syahbana, kemudian tentunya yang paling banyak ialah golongan Islamis yang ketika itu bernaung di bawah Partai Masyumi pimpinan M. Natsir dan Syafruddin Prawiranegara. Kemudian ada pula kelompok Nasrani, ingat engku Kolonel Maludin Simbolon berasal dari Batak..”

“Namun apakah begitu hal tersebut menodai perjuangan kita orang Islam di Minangkabau ini dalam menentang dominasi KOMUNIS dan KEDIKTATORAN di republik yang masih muda ini?! Tidak engku, bagi kita yang berada di kalangan bawah, perjuangan kita masih murni, ikhlas karena Allah Ta’ala. Bahkan kabarnya Kol. Ahmad Hussein dan Kol.Maludin Simbolon pernah mengadakan pertemuan dengan beberapa orang agen CIA di Singapura. Dan merekapun mendapat bantuan. Apakah dengan demikian orang Minang dikatakan sebagai kaki tangan Amerika?!. Tidak engku.. sekali lagi tidak. Kita yang berada di bawah ini saja tidak mengetahui perkara demikian. Sekali lagi, bagi kita orang Minangkabau, perjuangan ketika itu ialah perjuangan menentang KOMUNIS & KEDIKTATORAN Soekarno..” Continue reading “Hasutan Kaum Munafiqun”

galodo th.58

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Dahulu sekali, tatkala kami masih duduk di bangku perguruan tinggi. Tatkala fikiran kami dan kawan-kawan dirasuki dengan berbagai pemahaman. Tatkala jiwa ini masih menggelegak, nafsu (emosi) tak dapat dikendalikan. Dahulu sekali tuan..

Pada suatu ketika di masa dahulu, kami dan beberapa orang kawan bercakap-cakap bertukar fikiran. Banyak perkara yang kami perbincangkan, bak para pandeka yang sedang bermain pencak di gelanggang permainan. Kami bersilat lidah, beradu pendapat, saling menyalahkan lawan bicara, dan membenarkan pendapat sendiri. Sungguh suatu masa-masa indah nan jenaka, tak patut untuk dilupakan, lebih patut lagi untuk dikenang dan diambil pelajaran darinya.

Kami berkumpul di rumah sewaan (kos) di Bandar Padang, menuntut ilmu di sebuah perguruan tinggi negeri di bandar ini. Sebuah perguruan yang sangat harum namanya di Minangkabau dan Pulau Andalas. Pada menjelang tengah malam, dimana seharusnya sebagai manusia kami sepatutnya berangkat keperaduan guna merehatkan diri guna menghadapi esok hari yang penuh akan pertarungan. Namun justeru tidak, hati dan jiwa anak muda selalu hidup, sangat payah untuk diistirahatkan, walau terkadang badan telah mengeluh.

Setelah memperbincangkan berbagai macam perkara kekinian, menyangkut kehidupan masyarakat di republik ini. Maka selanjutnya, secara perlahan percakapan kamipun mulai beralih kepada suatu peristiwa sejarah yang menimpa negeri ini, Minangkabau. Penyulutnya ialah perkara ideologi politik; liberal, sosialis, komunis, dan Islam.

David Syarif merupakan kawan kami yang belajar di jurusan sastra, beliau tiba-tiba berujar agak keras tatkala ideologinya disenggung. Bak tersengat kalo dia berujar “Orang Minang sungguh pandir sekali, apa hal? Karena membiarkan nama seorang jendral yang memimpin penumpasan pemberontakan PRRI dijadikan nama jalan..!

Kami tercenung, memang benar. Tapi..

Sebelum kami menjawab, Nazir Akmal salah seorang kawan kami berasal dari jurusan sejarahlah yang menjawab “Ah.. tak tahukah engku bagaimana sejarah pemberontakan tersebut. Engku tampaknya tak mendalami betul sejarah kelu yang menimpa Alam Minangkabau..” Continue reading “galodo th.58”

Tanpa Komunis

 Mencoba Merenungi Negeri

Hari Kesaktian Pancasila, apa gerangan yang terfikirkan oleh tuan? Komunis dan para jendral yang dibantai dan lebih dikenal sebagai Jendral Revolusi di republik ini? atau Komunis yang katanya hendak merebut kekuasaan? Atau kami lebih berpendapat “ingin menyelamatkan dominasi mereka atas pemerintahan Soekarno saat itu”. Bisa juga tuan berpendapat: suatu dongeng pelelap sebelum tidur yang dibacakan oleh Soeharto, kudeta terselubung, campur tangan Amerika, dan lain sebagainya.

Bagi kami orang Minangkabau dan kamipun yakin seluruh umat Islam yang beriman sependapat dengan kami bahwa peristiwa yang terjasdi tahun 1965 tersebut telah mendatangkan berkah bagi kami. Sebab sebelumnya, komunis sangat merajalela di negeri kami. Melecehkan agama dan adat kami orang Minang. Mereka kaum anti tuhan, keras kepala, dan berkelakuan kasar layaknya orang yang belum menyentuh peradaban.

Teori resmi dari pemerintah yang hingga kini masih belum jua dirubah walau keadaan politik telah berubah menyebutkan bahwa pada malam 30 September 1965, sekelompok tentara misterius yang digerakkan oleh PKI menculik 7 orang jenderal yang kemudian membantai mereka di Lubang Buaya. Usaha itu mereka lakukan karena ketujuh jendral tersebut merupakan jendral-jendral anti Komunis. Continue reading “Tanpa Komunis”