Akal-akalan Calon Penjajah

Picture: Here

Dari laman sebelah.

***

COPAS: *”Waspada Sebelum Terlambat”*

Saya pernah ke Negeri Tibet. Ketika disana, saya bertanya kepada salah satu orang Tibet ” Bagaimana sehingga Negeri Tibet ini bisa dikuasai oleh Cina, dan Dalai Lama sebagai Pemimpin Negeri Tibet dapat diusir ke luar dari nagerinya?”

Jawaban yang saya dapatkan sungguh mengejutkan ” Dahulu Negeri Tibet ini ialah sebuah negara yang merdeka. Lalu kemudian ada bantuan dari Cina untuk membangun Tibet. Maka kemudian dikirimlah para pekerja dari Cina untuk bekerja membangun jalan, jembatan dan sarana-saran infrastuktur lainnya”

“Tiba-tiba di suatu hari, ternyata pekerja-pekerja itu memegang senjata dan mengusai Ibu Kota Negeri dan pemerintahan. Dalai Lama ditangkap dan diasingkan keluar negeri..”

” Ternyata mereka adalah para Tentara yang menyamar menjadi pekerja..” kisahnya kepada saya.

Kisah ini saya dengar langsung dari orang Tibet di kota Lasa (ibu kota Tibet). Saya tidak dapat membuktikan apakah cerita ini benar atau tidak, namun saya mendengar langsung dari orang asli Tibet tersebut.

Nah, kita harus waspada dengan pengiriman besar-besaran tenaga kerja Cina ke Indonesia. Apalagi ada isu pembelian/ pemasukan senjata secara ilegal ke Indonesia..

*Cerita dari seorang teman, yang belum pasti benar namun perlu dicermati & diwapadai*

Bahasa telah kami sesuaikan..

Continue reading “Akal-akalan Calon Penjajah”

Advertisements

Kolonialisme Sejati

Picture: here

Renungan mendasar pasca Lebaran, tentang latar belakang strategis keterpurukan Bangsa dan Negara kita dewasa ini. Sangat penting utk disikapi. Dari laman sebelah.
***
Sekedar copast. Alurnya make senses, data pendukung minim. Jadi terkesan tendensius. Ini dia:

CARA KAPITALISME MENGUASAI DUNIA
[Tulisan panjaaaaang dari Ustadz Dwi Condro Triyono, Ph.D ini sangat berfaedah dan menambah khazanah berfikir kita, bacalah lambat-lambat dan tolong difahami, sungguh sayang kalau dilewatkan]

Sistem ekonomi kapitalisme telah mengajarkan bahwa pertumbuhan ekonomi hanya akan terwujud jika semua pelaku ekonomi terfokus pada akumulasi kapital (modal). Continue reading “Kolonialisme Sejati”

Kembali ke UUD 45

Picture: Here

Sekedar reminder, inilah daftar institusi asing dan domestik yang mengobrak-abrik UUD 1945 sejak tahun 1999 – 2002, yang menjadi kerangka yuridis keamburadulan Indonesia saat ini. Dari laman sebelah.

***
INDONESIA SESUNGGUH NYA SUDAH MENJADI NEGARA BONEKA SEJAK AMANDEMEN UUD 1945 .
PRIHANDOYO KUSWANTO·FRIDAY, JUNE 17, 2016

Sejak amandemen UUD 1945 Indonesia memang sudah berubah bukan saja menjadi negara yang berdaulat ternyata Amandemen telah menjadikan negara ini Super Liberal Kapitalis, dan semua itu adalah kekalahan telak bangsa Indonesia, juga penguburan terhadap para pendiri negeri ini. Nekolim justru oleh para antek-antek asing telah diberi karpet merah dan sebagai anak bangsa mari kita melihat dokumen ini siapa saja yang merontokan UUD 1945, menengelamkan Pancasila, bahkan mengkhianati Pembukaan UUD 1945. Continue reading “Kembali ke UUD 45”

Tongkat Nan Membawa Rebah

Terbaca oleh kami sebuah berita perihal Kepala Bandar di Ibu Propinsi kita bertandang ke Jakarta guna menemui salah seorang anak Minangkabau yang menjabat sebagai Ketua “Senator” di republik ini. Banyak yang menaruh perhatian pada ucapan Ketua Senator ini dihadapan rombongan Kepala Bandar tersebut.

Bandar Padang bukan milik orang Padang saja, tapi untuk semua orang. Bandar Padang harus terbuka. Apalagi kita akan menghadapi Pasar Bebas Asean yang dimulai tahun 2015 nanti” tegas Irfan Ghazali saat menerima pasangan Kepala dan Wakil Kepala Bandar Padang terpilih, Mahem, di ruangan rapat pimpinan DPD, Gedung Nusantara 3 Komplek Parlemen Senayan, Selasa (15/4/2014).

Kami terkejut mendengarnya namun tidak heran sebab semasa penolakan terhadap Silamak mengemuka beberapa bulan yang silam di bandar ini kami telah pula mendapat kabar perihal peranan Irfan Ghazali (IG) dalam perkara ini. Namun sayangnya tidak demikian dengan sekalian orang Minangkabau di propinsi ini. Dimasa pemilu yang baru saja usai, banyak yang terkicuh dengan orang ini disangka kawan, disangkan dunsanak, disangka tiang tempat berpegang. Namun sesungguhnya..??

Dari beberapa tanggapan yang kami baca, banyak yang menyatakan penyesalannya karena telah memilih Engku IG ini. Kami hanya tersenyum sedih mendengarnya, sebab sebagai orang yang mengetahui kami telah memberi ingat kepada keluarga dan kenalan kami perihal peranan Engku IG ini dalam kasus Salamak.

Jangan hendaknya kita tertipu lagi, tongkat membawa rebah dia itu..” kata kami.

Kami juga menyesali sikap dari Ketua Bandar yang datang pula berkunjung ke Jakarta “Untuk apalah itu..?!” tanya kami dalam hati.

Namun sejenak kami berfikir setelah membaca kutipan berita ini Saya meminta dukungan Engku Irfan selaku Ketua DPD RI untuk bisa mendapatkan dana dari APBN, baik APBNP 2014 maupun APBN 2015,” harap Mahyendi.

Macam tu rupanya, begitulah kiranya alur dalam pemerintahan di negara ini. Kita tak lepas dari pusat, apalagi di propinsi yang kata orang pusat “miskin” itu. Mesti mengemis-ngemis dahulu agar ada dana untuk membangun negeri kita ini.

Tapi tak apalah, asalkan prinsip iyakan yang di orang, lalukan nan di awak masih dipakai oleh Engku Ketua Bandar. Sebab “prinsip kemajuan” yang diagung-agungkan oleh engku IG itu masih dapat kita bantah. Kita mesti faham latar belakang engku “senator” ini, dia ialah seorang saudagar yang memiliki banyak kapal. Mempunyai kawan, kenalan, atau kata orang sekarang “jaringan” di Jakarta. Dimana mereka-mereka itu tidaklah semuanya orang Islam apalagi orang Minangkabau. Tentulah ia mesti mengambil hati para saudagar-saudagar lainnya.

Seperti kata salah seorang kawan kami “Prinsip Liberalisme Ekonomi hanya sesuai bagi saudagar-saudagar besar yang memiliki banyak modal saja. Sedangkan bagi saudagar kecil belumlah dapat. Sebab mereka mesti jua mendapat perlindungan, terutama dari pemerintah. Sebab kalau tak mendapat perlindungan mereka akan digiling oleh saudagar besar dengan modal besar itu..” Continue reading “Tongkat Nan Membawa Rebah”

Roman: Negeri Para Bedebah

Judul Roman[1]    : Negeri Para Bedebah

Pengarang          : Darwis Tere Liye

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Tempat Terbit   : Jakarta

Tahun Terbit      : 2012

Tebal                     : 440 hlm; 20 cm

Darwis Tere Liye ialah seorang penulis yang sedang naik daun di Indonesia pada masa sekarang ini. Telah banyak roman yang ditulis olehnya, mulai dari roman percintaan, kisah hubungan kasih antara keluarga, serta seperti yang sekarang kita bahas yakni yang berkaitan dengan kehidupan bernegara. Beberapa diantara romannya telah pula difilemkan.

Roman dengan judul Negeri Para Bedebah ini sungguh sangat bagus sekali membuka pandangan kita mengenai salah satu sisi kehidupan bernegara. Pengetahuan Engku Darwis mengenai permasalahan di bidang perkenomian suatu negara sungguhlah sangat dalam. Melalui kisah rekaan (fiksi) ini, Engku Darwis mencoba menerangkan kepada kita perihal salah satu tipu-muslihat, kecerdikan (kalau tak hendak dikatakan kelicikan), serta gambaran kehidupan salah satu keluarga yang memegang kendali di bidang ekonomi.

Kutipan kegemaran (favorit) kami dalam roman ini ialah:

ya.. kau bayangkan, ketika satu kota dipenuhi orang miskin, kejahatan yang terjadi hanyalah level rendah, seperti; perampokan, mabuk-mabukan, atau tawuran. Kaum proletar seperti ini mudah diatasi, tidak sistematis dan jelas tidak memiliki visi-misi dalam tindakan mereka, tinggal digertak, beres. Bayangkan ketika kota tersebut dipenuhi oleh orang-orang yang terlalu kaya, dan terus rakus menelan sumber daya yang ada disekitar mereka. Mereka sistematis, bisa membayar siapa saja untuk menjadi kepanjangan tangan mereka, tidak takut dengan siapapun. Sungguh tidak ada yang dapat menghentikan mereka selain sistem itu sendiri yang merusak mereka..” (hlm: 19) Continue reading “Roman: Negeri Para Bedebah”