Seperti Roda Pedati

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Seperti kata orang tua-tua di Minangkabau bahwa hiduik bak cando roda padati-hidup itu seperti roda pedati. Sekali kita di atas maka sekali pula kita dibawah, seperti kata agama kita “ingat lima perkara sebelum datang lima perkara”. Dan sesungguhnya kita manusia ialah hamba-hamba yang lemah lagi suka berlengah-lengah.

Telah pula kami dapati kejadian yang serupa, dituturkan oleh orang tua-tua semasa kami kanak-kanak. Suatu kejadian yang selalu terus terjadi seiring berjalannya roda kehidupan. Menimpa setiap generasi umat manusia, dan sebagian besar dari kita ialah orang-orang yang lengah lagi tak berilmu pengetahuan.

Adalah kami sendiri yang telah lama merasakannya, kami kaji kembali kehidupan kami semenjak dahulu bersekolah. Kami tengok pula keadaan kami sekarang serta kami pandangi pula keadaan kehidupan beberapa orang kawan-kawan kami. Sungguh Allah itu Maha Besar lagi Maha Kuasa.

Adalah seorang kawan kami semasa kami bersekolah dahulu, ia merupakan seorang murid yang pandai, disenangi guru dan kawan, serta memiliki wajah yang rupawan. Kawan kami ini merupakan idola semasa kami bersekolah. Tak ada seorang gurupun yang tak sayang kepadanya dan tak ada pula seorang kawanpun yang tak senang akan dirinya.

Walau tak pernah juara kelas, namun kawan kami ini selalu menduduki rangking lima besar, paling buruk ialah sepuluh besar. Dalam bidang olah raga pun ia menjadi idola bagi kawan-kawan lelaki. Sangat mahir dalam semua olah raga terutama sekali sepak bola.

Semasa bersekolah, kawan kami ini memiliki seorang kekasih yang merupakan salah seorang perempuan terpandai di sekolah kami. Semenjak kelas satu ia selalu berada di posisi tiga besar, sepanjang masa pendidikannya, ia tak pernah keluar dari tiga besar. Kemudian ia mendapat PMDK pada salah satu universitas ternama di Pulau Jawa.

Kawan kami ini selain rupawan juga pandai membawakan diri, gaya berpakaian mengikuti zaman ketika itu. Kami sendiri termasuk salah seorang yang mengagumi dirinya, ingin kiranya serupa dirinya. Pandai dalam pelajaran, jago dalam olah raga, disenangi oleh kawan-kawan, dan disayang oleh para guru. Dimana kami tak memiliki satupun dari semua yang dimilikinya.

Duhai, alangkah pahitnya hidup ketika itu..

Bertahun-tahun telah berlalu, telah usai pula kami menempuh pendidikan di universitas. Semenjak tamat sekolah SMA kami jarang berjumpa dengan kawan kami ini. Hanya sesekali apabila hendaka lebaran saja. Kami kuliah di salah satu universitas negeri di Sumatera Barat sedangkan kawan kami ini kuliah di salah satu universitas negeri di propinsi jiran.

Dia mengambil jurusan yang sama dengan yang diambil kekasihnya yang mendapat PMDK. Jurusan yang diambilnya ialah salah satu jurusan yang asing tak pernah diambil oleh orang. Jurusan tersebut tidak pula ada pada beberapa universitas di dalam propinsi kami. Kami curiga, bahwa pilihannya dalam mengambil jurusan karena meniru kekasih hatinya. Memanglah kami pandangi, sangatlah cinta ia akan kekasihnya itu. Namun sekarang, jarak yang jauh memisahkan mereka, beda propinsi dan beda pulau. Bagaimanakah nanti hubungan mereka, pada masa itu teknologi handphone belumlah meluas seperti sekarang. Hanya orang-orang berduit yang memilikinya..

Setahun tahun kemudian kami dengar kalau hubungannya dengan kekasihnya telah berakhir. Kabar yang beredar bahwa kekasihnya itulah yang memutuskan hubungan mereka. Tak tahu apa sebab, apakah karena jarak yang begitu jauh ataukah ada sebab lain? Hanya mereka berdualah yang tahu..

Beberapa tahun kemudian mantan kekasihnya telah menyelesaikan pendidikannya di universitas. Sedangkan dengan kawan kami ini masih tetap berkuliah, kami dengar-dengar dari cerita orang-orang bahwa kuliahnya tak menentu. Menurut pendapat kami ini mestilah karena beberapa sebab, karena patah hati, karena salah pergaulan, dan karena tidak memiliki pengendalian diri yang kuat. Kota tempatnya tinggal ialah salah satu kota besar di Pulau Sumatera yang terkenal akan minyaknya. Sangat kaya dan glamor kehidupan di sana.

Selang beberapa tahun selepas itu, mantan kekasihnya diterima menjadi PNS di kabupaten kami. Kawan kami tersebut semakin tak jelas kabar beritanya. Beberapa bulan berselang, mantan kekasihnya menikah dengan lelaki yang telah pula PNS. Sembilan bulan selepas itu mereka memiliki anak, seorang anak perempuan kalau kami tak salah.

Kabar perihal kawan kami ini semakin gelap. Banyak yang menyesali dirinya karena tak tahu diuntung, sebab dia merupakan anak sulung dari tiga orang bersaudara, kedua orang tuanya ialah petani dan pembuat kerupuk di kampung kami. Sedari kecil ia merupakan kebanggaan dan tumpuan harapan bagi kedua orang tuanya. Anak lelaki sulung dan anak lelaki satu-satunya..

Pada masa sekarang, kedua orang tuanya sedang dilanda kesusahan karena kedua adiknya sedang dalam masa kuliah. Hal ini tentulah membutuhkan banyak biaya, ibundanya meminjam uang kesana-kesini kepada kenalan di kampung kami. Sedangkan ayahnya bekerja semakin keras diusia yang semakin senja. Telah banyak tumbuh uban di kepalanya. Tidak hanya mengerjakan sawah sendiri melainkan juga menerima upah dari orang lain untuk pekerjaan lainnya. Siang malam tanpa henti guna mencukupkan kebutuhan anak-anaknya yang sedang membutuhkan. Continue reading “Seperti Roda Pedati”

Advertisements

Kawan Lama

ManPraying-2

Ilustrasi Gambar: Internet

Apa yang gerangan akan terjadi apabila tuan bersua kembali dengan kawan yang sudah lama tak berjumpa? Kawan semasa kuliah, tempat berbagi cerita, bertukar fikiran, berandai-andai tentang masa depan, dan memperbincangkan segala persoalan. Persengketaan dan kemesraan pernah mengisi jalinan perkawanan, begitu banyak kenangan yang sekarang menjadi manis dan lucu apabila dikenang.

Itulah yang menimpa diri kami beberapa hari yang lalu, kawan lama yang sempat menghilang tak ada kabar akhirnya muncul tiba-tiba. Sungguh kami tak menyangka, kawan yang sering membuat kami kesal dan marah ternyata sangat kami rindukan.

Apa yang terjadi? Biasalah tuan, bertanya kabar perihal menghilang, apa saja yang terjadi pada diri masing-masing selama putus perhubungan hingga sekarang bersua kembali. Kebetulan sekali kawan kami ini ialah orang yang senang sekali bercakap-cakap. Jadi boleh dikata dialah yang paling banyak bercakap perihal kabar dirinya.

Satu hal yang sangat tidak patut sekaligus menyenangkan terjadi, yakni ghibah. Ya.. tuan, kami sama-sama tahu kalau bergunjing itu merupakan suatu perilaku yang terlarang dalam agama kita namun apa boleh buat, rupanya rayuan setan sangat memikat ketika itu.

Kami mempergunjingkan salah seorang kawan kami yang dahulu. Salah seorang kawan yang sangat mengesalkan hati kami. Tak patut rasanya apabila kami kisahkan pula cerita kawan kami yang mengesalkan ini. menambah dosa saja. Continue reading “Kawan Lama”

Kerja Kelompok

Gambar Ilustrasi: Internet

Gambar Ilustrasi: Internet

Apakah kerja kelompok itu? selama ini kami selalu heran dan bingung dengan pengertian dan pemahaman kawan-kawan kami perihal kerja kelompok ini.

Pernah seorang kawan kami mengisahkan pengalamannya.

Dalam suatu penyelenggaraan kegiatan, dia ditunjuk mengepalai suatu urusan (seksi). Anggotanya ialah perempuan semua. Awalnya dia mengira apabila demikian, tentulah akan mudah baginya menjalin perhubungan (komunikasi) dengan kawan-kawan satu kelompok dengannya. Awalnya dalam setiap rapat berjalan lancar walau ada terjadi sifat keras yang ditunjukkan oleh salah seorang kawan.

Namun lama-kelamaan dia merasa ada yang janggal. Apa pasal?

Semua pekerjaan diserahkan kepadanya sebagai ketua, sungguh aneh sekali sebab dia merupakan ketua? Kawan-kawannya yang induak-induak[1] ini hanya pandai bicara saja. berkata ini dan itu, mereka-reka (berteori) mengenai rancangan (konsep) acara namun untuk pelaksanaan diserahkan kepada dirinya.

Apakah ini semua karena dia yang termuda atau memang karena semua kawan-kawannya ini memang bajingan? Continue reading “Kerja Kelompok”

Berbangsa “Raja”

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

“Kalau bercakap hendak di dengar, kalau berkata hendak dituruti, kalau minta hendak terkabul, kalau menyuruh hendak dikerjakan. Masya Allah, sungguh tak dapat awak bercakap lagi, entah kenapa orang-orang zaman sekarang. Bertabiatkan kasar, berwatak keras, tak baraso, tak hendak mempertenggangkan orang lain. Lamak di awak, ka tuju diurang sudah tak terpakai lagi..” keluh Syarifudin tatkala baru sampai di rumah sewaan kami.

Entah apa yang terjadi dengan dirinya, baru pulang sambil menghempaskan tas yang disandangnya, Pudin, begitu kawan kami ini dipanggil langsung berkeluh kesah. Air mukanya geram minta ampun, sepatunya yang “teramat bersih” dibawanya saja ke dalam rumah. Selepas itu dia duduk di karpet murahan kami yang berguna selain sebagi tempat kami duduk, juga berguna untuk menjamu tamu apabila bertandang.

Ismail atau Mail memandang tajam ke arah sepatu Pudin, yang empunya rupanya tak sadar. Matanya menerawang ke dinding bilik kami. Entah apa yang dipandangnya, tak ada satupun gambar ataupun hiasan dinding yang tergantung. Yang ada ialah dinding kusam yang telah mengelupas tempelan semennya. Terdapat juga retakan di sana-sini, mungkin baginya saat itu, pemandangan dinding yang kusam-muram itu merupakan pemandangan yang menakjubkan, dapat mengobati hatinya yang sedang rusuh. Continue reading “Berbangsa “Raja””

Kawan Lama

Don't Forget The Old Friend! Ecclesiasticus 9 verse 10 (1611 KJV)Pernahkah engku setelah sekian lama tak bersua, kemudian kembali berhubungan dengan kawan lama? Kawan senasib sepenanggungan, sehilir-semudik, sama-sama berbuat gaduh, dan sama-sama pula pergi shalat ke surau. Kawan dimana persengketaan dilalui dan tak berapa lama kemudian kembali berbaikan. Kawan tempat saling mencurahkan isi hati, tempat memperbincangkan angan-angan, sampai mempergunjingkan dan mencaci orang lain.

Semua itu tinggal kenangan, karena perjalan nasib tiadalah tentu dan amat rahasia. Tak disangka takdir memisahkan engku dengan kawan engku tersebut. Nasib baik untuk engku, namun nasib malang untuk kawan engku. Engku telah memiliki penghidupan, sedangkan ia pontang-panting memperjuangkan penghidupan. Memang begitulah dunia ini engku, penuh rahasia dan kejutan tiada henti.

Entah telah berapa lama engku berpisah dari kawan engku tersebut. Kemudian terdengar kabar darinya. Bagaimana kiranya perasaan engku?

Gurau dan garah tentulah menghiasi perbincangan engku berdua. Saling bertukar kabar, menceritakan kabar pengalaman antara engku berdua. Tentulah serupa itu, asyik bercerita hingga lupa waktu. Rindu dendam makin membara, perlahan-lahan rasa ngilu kembali menyergap tatkala engku diceritakan kalau dia masihlah serupa itu jua.

Bekerja dengan orang beserta penghasilan yang tak tentu. Bekerja dari pagi hingga petang tanpa mendapat kepastian imabalan yang didapat apakah sepadan dengan jerih yang telah dikeluarkan. Bekerja berhari-hari ke negeri-negeri jauh, entah bila dapat bersua dengan orangtua.

Hidupun masih tetap membujang karena tak ada seorangpun yang hendak menjadikan menantu. Sebab kerja yang ada dinilai belum memberikan arti bagi kehidupan nanti bila berumah tangga. Orang sekarang hendak mencari menantu pegawai, ataupun orang bapitih, serta berpangkat jabatan. Apabila belum punya, jangan berani-berani untuk berfikir menikahi anak orang, kubur saja dalam-dalam keinginan engku tersebut. Continue reading “Kawan Lama”

Karena Kawan

Ilustrasi gambar: Internet

Ilustrasi gambar: Internet

Karena ke asyikan menonton filem di komputer lipat, tanpa kami sadari magrib sudah hampir menjelang. Dengan sigap sambil mengkutuki diri kami bergegas menuju kamar mandi, hendak mandi. Berharap agar orang di surau janganlah dulu adzan, tundalah barang sejenak.

Tatkala sedang asyik-asyik menggosok badan, maka terdengarlah adzan berkumandang. Terbesit di hati “Ah.. tak usah saja pergi shalat ke surau. Pasti engkau masbuk, tak nikmat masbuk itu..”

Tampaknya akal dan iman tak hendak mengalah begitu saja, dijawab oleh akal pendapat si nafsu ini “Janganlah sampai berfikiran serupa itu, bukankah engkau sendiri yang lalai. Asyik menonton filem hingga lupa akan waktu..” jawab si akal.

Kemudian menimpali pula si iman “Benar, lagipula shalat masbuk itu lebih baik dari pada shalat sendiri. Bukankah sudah terasa oleh engkau betapa nikmatnya shalat berjama’ah – walaupun masbuk – di surau. Dan engkau sendiripun tahu kalau kaum lelaki boleh dikatakan wajib shalat berjama’ah di surau. Dan tambahan lagi, bukankah kalau shalat sendiri di rumah engkau jarang shalat sunat rawatib..?”

Begitulah engku dan encik sekalian. Akhirnya kami pergi jua bergegas ke surau walau tatkala langkah pertama dari kaki kami menuju surau orang telah selesai adzan. Kami berjalan dengan cukup cepat, di jalan kami berpapasan dengan beberapa orang yang juga hendak ke surau. Namun sayangnya mereka menggunakan onda.[1] Sudah sering kami berpapasan dengan orang-orang ini yang rata-rata berusia di atas 50 tahunan. Namun tak pernah sekalipun jua mereka menawarkan tumpangan kepada kami. Sungguh aneh adat orang sekarang..

Sambil berjalan, fikiran kami melayang-layang. Terkenang akan kawan satu rumah kami. Beberapa bulan yang lalu dia menyewa bilik yang telah lama kosong di sebelah bilik kami. Lebih muda dua tahun dari kami, berperawakan tinggi, berisi, dan berparaskan menarik atau kata orang “Tampan Rupawan..”.

Selama sepekan ini dia pergi ke Pakan Baru, ditugasi kantornya untuk mengikuti pelatihan. Biasanya apabila hendak shalat magrib kami selalu pergi bersama. Dahulu sebelum kehadiran dirinya, kami selalu berangkat tepat ketika adzan telah mulai dikumandangkan. Ketika sampai di surau kami masih mendapati Engku Bilal[2] mengumandangkan takbir (adzan) terkahir. Namun semenjak bersama kawan kami ini, kami selalu terlambat dan lebih sering masbuk. Apa hal engku?

Kawan kami ini berpembawaan lambat, bergerak lamban, berjalan lamban, segala lamban. Terkadang kami jemu juga melihatnya, namun apa hendak dikata, sudah pembawaan dirinya. Biasanya, tatkala sebelum adzan kami telah bersiap-siap hendak berangkat. Begitu adzan mulai dikumandangkan Engku Bilal, maka kami segera meluncur ke surau.

Namun semenjak bersama kawan kami ini, ketika orang mulai adzan dia baru mulai bersiap-siap. Memakai kain sarung, memakai baju, menyisir rambut, dan lain sebagainya. Selepas itu dia pergi dahulu berwudhu, alamak.. Continue reading “Karena Kawan”