Diamlah terus sampai hancur

bikini

Entah benar entah tidak gambar ini, kami tiada tahu. Syukur kalau yang memposting silap dalam membuat nama tempat. Namun apabila benar, maka sungguh berderai hati ini dibuatnya. Betapakan tidak, di Ranah Minangkabau sendiri, di negeri nan berasaskan Adat Basandi Syara’ – Syara’ Basandi Kitabullah berlaku perkara nan serupa ini.

Kami tiada tahu dimana lokasi persis dari Pulau Pasumpahan karena memang kami belum pernah pergi kesana. Namun dari hasil mencari di ranah maya maka kami dapatkan bahwa pulau ini terletak di Perairan Kecamatan Bungus Teluk Kabung Kota Padang. Sekitar satu jam dari pusat Bandar Padang.[1] Continue reading “Diamlah terus sampai hancur”

Advertisements

Para Pencari Rupiah di Jam Gadang

Keadaan Jam Gadang dilihat dari arah Istana Bung Hatta

Keadaan Jam Gadang dilihat dari arah Istana Bung Hatta

Ini merupakan pengalaman kami bersama beberapa orang keluarga ketika menghabiskan malam Ahad di Jam Gadang. Bagi kami yang sesekali ke sini, adalah sesuatu yang menarik hati melihat orang ramai berjualan di malam hari. Beraneka macam barang dagangan mereka perjual belikan, kebanyakan ialah pakaian, hiasan (aksesoris), mainan anak-anak, dan lain sebagainya. Adapula orang yang menjual jasa, serupa dua orang bapak yang pada tulisan yang dahulu telah kami kisahkan, para badut dan orang-orang berpakaian layaknya pahlawan super (seperti power ranger, kesatria baja hitam, & Iron Man).

Ada satu orang yang juga menjual jasanya, dia ialah seorang pelukis potret. Dia dapat melukis rupa kita di kertas gambar biasa ukuran A3. Kita dapat datang sendiri ke sana untuk dilukis wajah kita atau cukup dengan memberikan foto kita kepada pelukis ini.

Dia mengambil harga Rp. 250.000,- untuk satu gambar orang dewasa pada awal bulan dan Rp. 150.000,- untuk akhir bulan. Jika gambar hendak diberi bingkai, harganya ditambah, namun kami masih ragu berapa tambahan harganya.

Pada hari biasa, dia hanya mendapat pelanggan sekitar 5-6 orang setiap malamnya. Sedangkan pada hari libur besar serupa libur hari raya, dia mendapat pelanggan sampai 35 orang setiap malamnya. Biasanya dia membuka layanan hingga pukul 12 malam atau paling lambat pukul satu dini hari.

Badut-badut

Badut-badut

Kemudian ada juga pengamen lain, sepertinya mereka satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak. Mereka medendangkan lagu minang dengan menggunakan gendang, saluang, rebab, dan beberapa alat musik lainnya. Sungguh suatu pemandangan yang menyentuh hati, kami mengucap syukur dalam hati kepada Allah Ta’ala atas keadaan keluarga kami yang sudah sangat baik ini.

Para badut dan para pemakai seragam pahlawan super juga menarik perhatian kami. Kami yakin pastilah cukup berat pakaian tersebut dan kebanyakan dari mereka masih kanak-kanak.

Melihat seragam badut tentulah sudah biasa, namun tampaknya orang Bukittinggi itu cerdik-cerdik (kreatif). Mereka membuat seragam para pahlawan super, menjadi ajang pertunjukan pula serta juga dapat menjadi ciri khas bagi pelancongan (pariwisata) di kota ini. Continue reading “Para Pencari Rupiah di Jam Gadang”

de Stram Park

Gerbang Kebun Binatang Kinantan Gambar: Internet

Gerbang Kebun Binatang Kinantan
Gambar: Internet

Kebun Binatang Kinantan di Pasa Ateh,[1] tahukah engku dan encik dengan sejarah awal mula keberadaan kebun bintang ini? tahu pulakah engku dan encik tepatnya nama kawasan dimana kebun binatang ini berada sekarang?

Kami yakin bahwa engku dan encik sekalian tak banyak yang tahu, bahkan bagi orang Bukittinggi sendiri kami rasa juga tak ada yang tahu, kami rasa.

Kebun binatang yang sekarang bernama Kebun Binatang Kinantan[2] merupakan kebun binatang pertama dan tertua di Minangkabau. Terletak di Bukit Malambuang,[3] itulah nama tempatnya engku dan encik sekalian.

Pembagunan awal ialah tahun 1900 oleh tuan-tuan gubernemen,[4] semula dirancang hanyalah sebagai sebuah taman bunga. Lebih dikenal oleh orang-orang ketika itu dengan nama Stram Park atau Taman Stram. Nama stram merupakan nama dari perancang dari taman ini, beliau ini bernama panjang Stram Gravenzande.[5] Continue reading “de Stram Park”

Berhari Raya bukan Berpesiar..

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Barhari raya bagi kita umat Islam sebenarnya memiliki banyak makna, makna yang paling utama dan sangat penting sesungguhnya ialah memperpanjang tali silaturahim. Memang demikianlah yang diajarkan oleh nabi kita, oleh agama kita. Idul Fitri ialah masanya untuk saling menziarahi, bertanya kabar, dan saling memaafkan kekhilafan yang pernah terjadi dalam pergaulan hidup kita.

Bagi orang Minangkabau, Idul Fitri ialah kesempatan yang langka. Sebab pada masa ini, dapat kita saksikan salah satu pertautan antara agama dan adat, seperti yang telah dikatakan oleh orang tua-tua di kampung kita bawah sesungguhnya Agama dan Adat itu ialah Berbuhul Mati.

Pada saat hari raya inilah kita dapat datang ke rumah karib-kerabat. Saling bersuka-ria, saling memaafkan, saling bertanya kabar, bersenda-gurau, serta makan dan minum di rumah dunsanak. Engku dan encik tentunya akan bertanya “Memangnya hal serupa itu tak boleh dilakukan pada hari lain engku..?”

Kami akan menjawab ”Tentunya boleh engku dan encik sekalian, namun tentulah rasa dan makna yang dibawa berbeda pula. Biasanya ziarah ke rumah kerabat dilakukan oleh keluarga kita yang jauh di rantau. Tatkala mereka pulang, maka mereka akan mendatangi rumah karib-kerabat bertanya kabar dan bersilaturahim..”

Itulah yang berlaku di luar hari raya, namun pada saat hari raya tidak hanya kerabat dari rantau saja yang pergi bertandang ke rumah kerabat di kampung. Melainkan sesama kerabat yang tinggal di kampungpun akan saling menziarahi. Apabila hal tersebut dilakukan di luar hari raya, maka orang-orang akan bertanya-tanya “Ada apa pula, apa gerangan yang telah berlaku. Kenapa dia menatiang pinggan pergi ke sana..?”

Terkadang dua hari pada Idul Fitri tidaklah cukup bagi kita untuk menziarahi rumah karib-kerabat tersebut. Terkadang bertukuak[1] juga dengan hari ketiga, keempat, atau kelima. Kalau di kampung kami ada yang disebut orang dengan “Hari Rayo Anam”[2] yang jatuh pada tujuh hari selepas hari pertama hari raya. Pada Hari Raya Anam inilah rumah kesempatan untuk mendatangi rumah kerabat yang tidak sempat diziarahi. Biasanya kaum ibulah yang banyak berkunjung ke rumah kerabat.

Terkadang tidak jua cukup hari yang sepekan itu, maka ada juga yang datang pada hari ke delapan dan selanjutnya. Hal ini karena di kampung kami ialah “Wajib Hukumnya untuk Makan” di rumah kerabat. Apabila tak hendak makan, maka kita akan kena marah, pertanda hubungan telah jauh. Biasanya para nenek, maktuo, ataupun orang-orang tua yang masih memegang teguh Adat Lama akan merasa tersinggung apabila kita tidak mengecap nasi di rumah mereka. Continue reading “Berhari Raya bukan Berpesiar..”

Ke Poentjak Soegai

Puncak Soegai sedang ditutupi awan. Tampak Tulisan SAWAHLUNTO yang bercahaya di atas bukit.  Gambar diambil dari Kampuang Teleng

Puncak Soegai sedang ditutupi awan. Tampak Tulisan SAWAHLUNTO yang bercahaya di atas bukit.
Gambar diambil dari Kampuang Teleng

Beberapa hari yang lalu, kami mendapat sebuah surat elektronik (email) dari salah seorang kawan kami. Beliau bekerja sebagai pegawai di salah satu kota di Sumatera Barat. Dalam suratnya tersebut, beliau mengisahkan mengenai perjalanan bersama kawan-kawan ke salah satu tempat yang menarik di kotanya.

Tujuan utama dari surat kawan kami ini ialah membuat kami bingik[1]. Sebab telah lama kami diminta datang namun belum jua terpenuhi. Kami akui, keinginan dari kawan kami ini telah berhasil dan oleh karena itu kamipun berkeinginan membuat tuan, engku, dan encik sekalian untuk ikut bingik bersama kami.

Mari kita simak kisah dari kawan kami ini,..

 

Assalamu’alaikum..

Bagaimana kiranya kabar engku di sana, adakah baik? Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat kesihatan, rezki, dan kelapangan dalam diri engku. Amiin..

Jalan yang telah dicor dengan semen. dapat dilalui dengan onda ataupun oto.

Jalan yang telah dicor dengan semen. dapat dilalui dengan onda ataupun oto.

Engku kawan kami yang baik, telah lama kiranya kami meminta engku untuk datang ke kota kami, namun tampaknya engku selalu ada halangan. Apalah hendak dikata, memang begitulah kehidupan ini. Kita hanya dapat berkeinginan dan berencana namun Allah jualah yang menetapkan.

Demi menghilangkan rasa ingin tahu engku, marilah kami kisahkan sebuah perjalanan yang kami lakukan bersama kawan-kawan. Perjalanan ini kami lakukan pada pagi hari di masa cuti yang lalu, sekitar pukul enam lewat. Sebagai perbandingan engku, waktu subuh pada saat sekarang jatuh pada pukul lima lewat. Tampaknya pada permulaan tahun ini matahari memang malas sekali untuk cepat-cepat terbit.

Kami ialah bersembilan, empat orang perempuan dan lima orang lelaki. Dari kesembilan orang tersebut, empat orang merupakan pasangan kekasih (dua pasang). Duhai.. hendak membuat kenangan mereka rupanya di tempat ini.

Tempat yang kami tuju bernama Puncak Polan yang terletak di Kota Sawahlunto, kami sendiri lebih senang menyebutnya dengan nama aslinya yaitu “Puncak Sugai”. Kenapa namanya dapat berganti? Nantilah apabila ada masa akan kami terangkan kepada engku.

Di atas puncak, embun masih menyelimuti.

Di atas puncak, embun masih menyelimuti.

Janji temu sebelum berangkat ialah pukul enam pagi, ketika itu hari belumlah terang benar. Sepercik cahaya dari ufuk timur telah mulai menyeruak menerangi negeri. Walaupun begitu, lampu-lampu di jalan dan rumah penduduk belum dipadamkan. Beberapa orang bersua dengan kami dijalan, ada yang berlari-lari kecil, mengendara kareta, [2] ataupun sekedar berjalan-jalan ringan bersama beberapa orang sanak keluarga serupa isteri, kakak, ataupun adik.

Kami mulai perjalanan dari Kelurahan Aur Mulyo Kec. Lembah Segar, salah seorang kawan berumah disana. Rupanya mereka telah memiliki rencana hendak berkendara naik onda[3] ke atas puncak. Memang jalan ke atas telah dicor orang dengan semen, walau menanjak dan terkadang agak curam, tak jadi soal. Sebab masih dapat dilalui, namun sikap hati-hati tetap tak boleh lupa.

Kami naik dengan menumpang kepada onda salah seorang kawan. Ini pertama kalinya kami naik ke atas puncak dengan naik onda. Sebelumnya kami selalu berjalan kaki menuju puncak sedangkan onda ditaruh di pinggang bukit.

Engku tentunya bertanya kenapa di pinggang bukit, bukan di kaki bukit?

Tatkala pertama kali kami datang ke kota ini, kami sering terkagum-kagum sendiri. Apa sebab? Continue reading “Ke Poentjak Soegai”

Lapangan Kantin

 

 

Para instruktur aerobik sedang beraksifoto: koleksi pribadi

Para instruktur aerobik sedang beraksi
foto: koleksi pribadi

Kegiatan olahraga pagi pada Ahad telah menjadi kebiasaan bagi sebagian besar masyarakat kota di negara kita. Kami tak begitu faham, bagaimana kebiasaan ini mula-mula dapat menyebar. Namun tampak-tampaknya tidak semua orang yang keluar di pagi hari tersebut berniat untuk berolahraga. Bermacam-macam maksud dan tujuan orang-orang, ada yang sebenar untuk berolahraga, ada yang untuk tebar pesona mencari pasangan, ada yang demi bersua dengan tambatan hati (berpacaran), ada yang sekedar berjalan-jalan perintang hati yang sedang rusuh, ada pula yang keluar untuk bermain dengan anak, isteri, dan keluarga lainnya, serta lain-lain sebab.

Beberapa anak remaja yang salah kostum. Berolah ragakah atau berpacaran?Foto: Koleksi Pribadi

Beberapa anak remaja yang salah kostum. Berolah ragakah atau berpacaran?
Foto: Koleksi Pribadi

Bukittinggi merupakan salah satu kota yang sedang berkembang, apalagi pada saat sekarang ini, kota kecil yang berada di Lembah Agam di Daratan Tinggi Minangkabau ini tengah mekar-mekarnya. Sudah lama menjadi kebiasaan bagi masyarakat di kota ini untuk keluar di pagi hari Ahad, berjalan, bersepeda, naik motor ataupun mobil ke Lapangan Kantin. Lapangan Kantin dapat kita sebut dengan medan nan bapanehnya (alun-alun) Kota Bukittinggi.

Lapangan ini secara resmi bernama Lapangan Kodim 0304 / Agam. Kenapa demikian? Sebab lapangan ini berada dalam lingkungan kodim tersebut. Kawasan ini hanya bagian muka saja dari komplek ini, sedangkan bagian belakangnya merupakan komplek kodim. Komplek kodim ini menempati bekas asrama pasukan KNIL masa Belanda. Continue reading “Lapangan Kantin”