Hormati yang tidak puasa?

Oleh: Ilham Yusardi

Picture: Here

Beranjak dari kasus ibu pedagang warung makan di Banten, yang warungnya dirazia polisi pamong. Kemudian banyak yang menanggapi: ibu itu tak layak diperlakukan seperti itu; dirazia; disita jualannya. Orang-orang mengumpulkan donasi hingga tercapai pula ratusan juta. Wacana berkembang. Pemerhati, bupati, gubernur, hingga presiden menanggapi. Simpel mereka perkata, dengan singkat pikiran. HORMATI JUGA ORANG YANG TIDAK PUASA. seterusnya, Perda-perda tentang larangan berjualan makan dan minum secara terbuka pada bulan puasa akan dikaji kemendagri. Continue reading “Hormati yang tidak puasa?”

Advertisements

Alangkah Lucunya Negeri Ini

Tatkala Gaek ini Masih Sehat Akalnya

Semenjak Raja Kodok naik tahta kami tiada lagi pernah menonton televisi, terutama menonton berita. Acap membuat sakit kepala dan darah ini serasa naik setiap melihat dan mendengar segala hal yang berbau Raja Kodok, menteri, serta pemerintahannya. Ditambah lagi semua media kompak mendukung dan memberitakan nan baik-baik perihal Raja nan seorang ini. Continue reading “Alangkah Lucunya Negeri Ini”

Salah satu fenomena pemilu capres

“Ah.. panasnya Padang tak sepanas pemilu capres engku, hahaha…” seru seorang kawan tatkala bersua dengan kami di Padang.

Kamipun tersenyum saja mendengarnya, memanglah hal yang paling lazim yang selalu dikeluhkan oleh orang kampung kami tatkala tiba di Padang ialah panasnya suhu udara di Padang. Sering kali membuat kami letih dan menguras tenaga kami. Tapi anehnya pada petang hari ini tatkala kami sampai di Padang, cuaca tak sepanas biasanya, sungguh ajaib.

Apakah ini berkah Ramadhan?

Bercakap perihal politik saat ini, sungguh ganjil negeri ini. Semua orang mudah tersinggung – termasuk kami – salah status ataupun komen di facebook bisa-bisa kita dibantai. Tak peduli apakah kita hanya sekadar membagi pengetahuan (informasi), bagi fihak yang merasa disinggung akan membalas. Seperti yang kami hadapi beberapa hari yang silam ketika membagi salah satu tautan di facebook, kami langsung dicap, berprasangka buruk kepada kami. Apa hendak dikata, darah kamipun panas pula, tak disangka akan mendapat tanggapan serupa itu, membalas pula dengan cara yang buruk. Mohon jangan ditiru..

Penilaian yang kita lakukan dan pilihan yang kita jatuhkan sesungguhnya mencerminkan siapa diri kita sesungguhnya. Apakah memilih karena atas dasar ikut-ikutan seperti: karena dicalonkan oleh partai saya, karena kawan-kawan banyak yang milih dia, karena melihat berita ditelevisi dan percaya dengan salah satu calon, karena terpengaruh dengan hasutan di facebook, karena takut menjadi bahan olokan pabila tak memilih di pilpres nanti, atau, karena mempelajari perihal kedua calon, menyerap sekalian informasi perihal kedua pasang calon, melakukan cross-check terhadap berbagai informasi yang didapat, karena mendasari pilihan demi kemaslahatan agama (Islam) dan umat Muslim, karena percaya dengan saudara seiman, karena percaya dengan para ulama, karena bla..bla…

Kami sangat tak suka apabila harus ikut-ikutan serupa anak remaja belia sekarang yang masih dalam pencarian jati diri. Tak pula suka dengan sikap fanatik terhadap salah satu capres, karena bagi kami fanatik hanya boleh kepada agama saja, dan itupun dilarang dapat kena tangkap nanti. Sungguh aneh; fanatik terhadap capres tak apa – fanatik terhadap agama kena tangkap. Continue reading “Salah satu fenomena pemilu capres”

Bersedekah..

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Salah satu kebiasaan baru kami pada bulan puasa ini ialah pergi Shalat Zuhur berjama’ah di Masjid Raya (Jami’) di kota tempat kami bekerja. Jaraknya cukup jauh dari kantor kami, namun karena berdua dengan kawan dengan menumpang onda[1] miliknya maka jarak bukanlah masalah.

Tak ada yang khas, namun tatkala kami berjalan ke luar masjid selepas menunaikan ibadah shalat berjama’ah. Di pintu masjid kami dapat seorang bapak-bapak yang sehari-hari berjualan dengan cara memangku keranjang dengan diberi tali ke pundaknya. Kami dapati beliau sedang memasukkan uang ke dalam kotak amal masjid, bersedekah.

Tersirap darah[2] kami, alangkah malunya kami. Si bapak yang rezkinya tiada tentu tiap harinya, berjalan-jalan ke liling pasar menjual barang dagangannya di panas berdengkang[3] ini. Masih sempat bersedakah untuk masjid. Sedangkan kami yang telah beberapa kali datang ke Masjid Raya ini, belumlah pernah menyisihkan sebagian uang untuk disedekahkan. Continue reading “Bersedekah..”

Ummi, Ibu, Bunda, Amak, Amai..

Salah seorang kawan lama mengirimi kami sebuah email. Email ini dikirim atas permintaan kami guna dapat dimuat di blog kami yang sangat sederhana ini. Untunglah beliau berkenan dan bersedia membagikan kisahnya kepada kami.

Berikut kisahnya..

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Sudah tiga kali puasa aku mengalami hal ini, tidak berkeinginan ketika makan, apakah itu ketika berbuka ataupun sahur. Awalnya aku tak paham dengan apa yang tengah berlaku atas diri ku, namun setelah lama ku fikirkan, tampaknya ini berhubungan dengan faktor psikologis.

Namun bukan itu yang hendak aku ceritakan, aku ingin berkisah perihal betapa besarnya pengorbanan seorang ibu terhadap anaknya. Dan sebagai anak, jika kembali ku memandang ke masa lalu maka keluar air mata ku. Aku bukanlah merupakan anak yang baik, telah banyak kesedihan yang ku sebabkan, telah banyak air mata yang keluar dikarenakan tingkah ku. Sungguh aku merupakan anak yang tidak baik, kedua orang tua ku sudah penat memikirkan diri ku.

Aku tinggal untuk bekerja menjadi pegawai di salah satu kota di Sumatera Barat. Disini aku hidup sendiri, arti kata, makan, mencuci, tidur, dan lain sebagainya ku lakukan sendiri. Pada hari-hari biasa sama sekali tidak terasa beratnya, namun di kala bulan puasa ini baru terasa betapa berat hari-hari yang harus ku jalani. Yang terberat ialah ketika sahur, sungguh merupakan hari yang teramat berat yang harus ku lalui.

Ketika selesai makan, maka aku akan langsung membersihkan peralatan makan, kemudian setelah itu bersiap-siap hendak ke surau. Begitu pula ketika sahur, maka aku harus bangun lebih cepat, menyiapkan makanan untuk diri ku sendiri. Untung sudah ada magicom, kalau tidak maka akan bertambah sengsaralah aku. Dengan periuk ajaib ini, aku tinggal memasukkan beras sebelum tidur dan akan siap untuk dimakan ketika sahur. Continue reading “Ummi, Ibu, Bunda, Amak, Amai..”