Kearifan Lokal yang Hilang dari Minangkabau

Belek

Belek

Belek, sukek atau sukatan,  dan cupak merupakan kata-kata lama yang telah mulai hilang dalam perbendaharaan bahasa sehari-hari orang Minangkabau masa sekarang. Banyak lagi kata-kata lain yang juga mulai berangsur hilang seperti kalang ulu, kulah, ampu, dan lain sebagainya. Lalu apakah arti dari ke tiga kata di atas?

Ketiga kata tersebut (belek, sukek, dan cupak) merupakan satuan alat ukur untuk isi atau volume. Dimana orang sekarang lebih familiar dengan liter. Orang-orang zaman lampau memiliki kearifan sendiri dalam menamai satuan hitung mereka, tentunya sebelum zaman penyeragaman seperti masa sekarang. Lalu apakah arti dari ketiga kata tersebut?

Kita mulai dari yang terkecil yakni cupak. Cupak merupakan satuan ukur untuk isi yang paling kecil. Cupak mengacu kepada alat satuan ukur untuk isi yang terbuat dari batuang atau bambu. Bentuk dan ukuran dari cupak dapat berbeda-beda hal ini disesuiakan dengan besar kecilnya bambu yang digunakan sebagai cupak. Semakin kecil diameternya maka akan semakin tinggilah ia, begitu juga sebaliknya, pabila semakin besar diamternya maka akan semakin rendahlah cupak tersebut. Satu cupak ditaksir sama dengan setengah liter.

Sukatan

Sukatan

Berikutnya ialah sukatan atau sukek, merupakan alat ukur setelah cupak. Satu sukek sama dengan empat cupak. Sukek dan cupak sama-sama terbuat dari bambu. Hanya saja diameter sukatan lebih besar dari cupak. Bentuk dan ukurannya mengikuti diameter bambu yang ditemukan untuk dipakai sebagai sukatan. Metodenya sama dengan cara penentuan besar dan tinggi cupak tadi.

Kearifan orang dulu ialah mereka tidak memiliki standar baku dalam membuat atau mengkur sesuatu. Anehnya, taksiran mereka selalu tepat. Menurut orang tua di kampung kami, untuk menentukan ukuran cupak, orang dahulu hanya menggunakan jari (kalau tidak salah jari telunjuk) sebagai patokan untuk menentukan tinggi dari cupak atau sukatan. Begitulah orang dahulu, mereka selalu menggunakan hati dalam setiap aktivitas mereka. Logika dipakai juga, akan tetapi kita harus arif dan bijak dalam memakai dan memadukan keduanya.

Bambu yang digunakan untuk membuat cupak dan sukatan hendaknya bambu yang sudah tua. Kenapa kok demikian? Karena  jika yang masih muda maka bisa-bisa cupak dan sukatan dibubuak jadinya. Apa itu dibubuak? Jika bambu yang muda yang digunakan maka kumbang-kumbang kecil akan datang memakannya. Sebab bambu muda yang lunak merupakan makanan favorit bagi kumbang yang katanya hanya sebesar lidi ini. Lama kelamaan tentu keropos dan akhirnya akan rusak dan hancur. Sisa-sisa makanan kumbang ini nantinya akan menjadi debu yang karena jumlahnya yang banyak berserakan di sekitar kayu atau bambu yang dimakannya sehingga menyerupai bubuk. Itulah yang dinamai dengan dibubuak.

Sukatan tampak dari atas

Sukatan tampak dari atas

Kemudian yang terakhir ialah belek. Belek merupakan satuan ukur terbesar. Semenjak tahun 1970-an, penggunaan belek di kampung kami beralih ke kaleng roti yang memiliki ukuran tinggi; 35 cm dan lebar; 23 cm. Pada masa sebelumnya untuk satuan belek digunakan katidiang, yakni sejenis bakul yang terbuat dari anyaman bambu.

Itulah beberapa kata-kata yang hilang dari perbendaharaan kata Minangkabau. Segalanya telah berubah, sekali air gedang, sekali tepian berubah, nan rumput telah teserabut dari akarnya. Sedangkan Kacang telah pula lupa akan kulitnya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s